Dear Jenderal..

Sejak pertemuan singkat Sabtu lalu, 13 April 2013, saya merasa makin mengagumi sosok pak Raden.
Mungkin terdengar berlebihan, tapi sungguh menurut saya beliau memang luar biasa.
Bahkan karena senangnya, saya sampai mencari nada lagu yang beliau nyanyikan kemarin.

Kurang lebih seperti ini:



Aku pandai karena suka membaca,
mi fa sol sol sol doo sol la sol fa mi,
Suka membaca,
fa sol fa mi re,
suka membaca.
sol la sol fa mi,

Aku pandai karena suka membaca,
mi fa sol sol sol doo sol la sol fa mi,
aku suka membaca.
fa mi re re sol mi do.

Bagaimana? Bagus kan?
Mungkin ini temponya terlalu lama.
Tapi cukup enak jika digunakan sebagai musik pengantar tidur.

Okay, let's start.
Siapa yang tak kenal pak Raden?
Sosok berkumis tebal, menggunakan beskap dan blankon yang sangat dinanti kehadirannya oleh anak-anak pada masa itu.

Pak Raden

Pak Raden atau Drs. Suyadi lahir di Jember, 28 November 1932.
Beliau adalah seorang seniman hebat lulusan Fakultas Seni Rupa ITB (1952-1960) yang kemudian mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi animasi di Prancis (1961-1963).

Di usianya yang telah menginjak kepala 8, seorang pak Raden tak lagi bisa bebas bergerak seperti dulu.
Hal ini disebabkan oleh penyakit osteoarthritis yang dideritanya.
Osteoarthritis adalah kondisi di mana sendi terasa nyeri akibat inflamasi ringan yang timbul karena gesekan ujung-ujung tulang penyusun sendi. (Wikipedia)
Dua kali dalam sebulan pak Raden berobat ke rumah sakit.
Biaya yang harus dikeluarkan pun tidak sedikit, lebih dari 2 juta rupiah.

Pak Raden di atas kursi roda

Namun di tengah penyakit yang dideritanya, seorang pak Raden tidak berhenti berkarya.
Pak Raden adalah seorang seniman yang sangat total dalam berkarya.
Di belakang panggung, beliau terlihat seperti orang tua pada umumnya.
Namun ketika berdiri di atas panggung, tak ubahnya seperti pak Raden waktu muda.
Begitu profesional, begitu mengagumkan.
Terlihat sekali bahwa beliau mencintai pekerjaannya.
Mencintai dunia lukis, gambar, animasi, dongeng, seni, dan tentunya anak-anak.

Beliau adalah pendongeng pertama di Indonesia bahkan di Asia yang mampu bercerita sambil menggambar.
Cerita yang dibawakan adalah cerita khas anak-anak, yang dikemas secara apik dan selalu memberikan pesan moral.
Bukan hanya anak-anak, saya rasa orang dewasa pun menantikan kehadirannya.

Pak Raden sedang bercerita
Namun ternyata ada cerita pelik di balik sosok yang menganggumkan itu.
Tentang hak cipta sebuah karya yang tak lagi ada di genggamannya.
Adalah si Unyil, cerita boneka yang begitu berjaya pada masanya, kini hak cipta berada di tangan PFN (Perusahaan Film Negara).
Ini berarti meskipun pak Raden adalah sang kreator boneka Unyil, tetapi royalti jatuh ke tangan PFN.
Miris melihat karya yang masih lalu lalang di televisi bahkan sudah mendunia, tapi sang kreator malah hidup sebaliknya.
Sangat sederhana, jauh dari kesan bergelimang harta.

Pak Raden hidup dari menjual suara dan menjual karyanya.
Saya yakin, bukan hal yang mudah bagi seorang pekerja seni untuk memindahtangankan karyanya.
Yang dibutuhkan oleh seorang pekerja seni adalah apresiasi.
Pengakuan dan penghargaan atas karya cipta.

Melalui sebuah tulisan yang berjudul "Si Unyil adalah Sebuah Kegagalan", pak Raden mencurahkan isi hatinya.
Bukan soal misi atau produksi, tetapi kegagalan bagi kreatornya secara finansial. Kerja keras selama bertahun-tahun tidak menghasilkan rezeki bagi kreatornya. Sebaliknya mereka yang tidak berbuat apa-apa, merekalah yang meraup keuntungan dari Si Unyil.
PFN berdalih bahwa hak cipta itu dimiliki oleh yang membiayai produksi.
Ya Tuhan..

Kini, penyakit osteoarthritis yang dideritanya sudah memasuki tahap lanjut.
Sehingga dibutuhkan operasi yang memerlukan biaya lebih dari 30 juta rupiah.
Untuk itu pak Raden akan menggelar pameran sketsa yang berjudul "Noir et Blanc" pada tanggal 25 April-5 Mei 2013 di Bentara Budaya Jakarta (depan Gedung Kompas, Palmerah).
Dana hasil pameran tersebut rencananya akan digunakan untuk biaya operasi pak Raden.
Yuk dateng yuk!

Noir et Blanc 25 April-5 Mei 2013
"Kalau jarum jam diputar kembali, saya ingin tetap menjadi Suyadi. Tapi pinginnya Suyadi denan karya yang lebih baik, Suyadi yang bisa lebih banyak berbuat untuk dunia anak-anak, Suyadi yang punya kondisi keuangan yang lebih baik.."

Dari berbagai sumber, didedikasikan untuk Drs. Suyadi atau pak Raden.
CMIIW.

Salam kece,