Dear Jenderal..




Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. (QS. Ali Imran:185)


Kamis, 15 Agustus 2013, selepas solat Subuh ponsel saya berdering berkali-kali.
Beberapa nomor asing mencoba menghubungi saya, tapi tidak saya jawab.
Tak lama ada sebuah pesan yang cukup mengagetkan saya.
Sebuah pesan yang berisi kabar burung kalau seorang teman meninggal, dan disuruh memastikan.
Tiba-tiba ada nomor asing lagi menghubungi saya, dan kali ini saya jawab.

Seketika tubuh saya lemas, tidak percaya.
Sebuah kabar duka datang dari salah seorang teman SMA saya.
Ternyata kabar burung tersebut benar adanya.
NH, teman semasa SMA saya, sudah terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Pagi itu saya melihat tubuh kecilnya ditutup kain, terbaring lemah tanpa napas, matanya tertutup, dan tak ada lagi senyum yang menghias wajahnya.
Saya menyaksikan bagaimana dia dimandikan dan dikafani.
Dan sampai malam hari badan saya lemas karena terbayang pemandangan tersebut.

Bocil, kecil, begitulah saya biasa memanggilnya.
Orang yang menyenangkan, sederhana, lucu.
Anak IPA yang ingin sekali jadi akuntan.
Kami pernah sekelas di XI IPA 3 dan XII IPA 5.
Ada nama dia di beberapa postingan yang saya tulis di blog ini.
Pengalaman dikejar satpam di salah satu pusat perbelanjaan, pengalaman saat ujian, pengalaman salah motor, dan lain-lain.
Sebuah sms darinya sebelum ujian praktik fisika yang masih terekam jelas di benak saya,
12 jam menuju praktek fisika. belajar yang bener ya. kita pasti bisa.
Waktu itu ujiannya berpasangan.
Kami menjadi partner karena nomor absen kami berurutan.
Terkadang saya menyesali keputusan saya untuk menjadikan blog ini sebagai moment recorder. :"(

Semenjak lulus SMA, dia susah dihubungi.
Terakhir saya menghubungi dia beberapa minggu yang lalu saat ada acara buka puasa bersama.
Pesan terkirim, namun tidak ada balasan.
Mungkin sibuk, pikir saya.

Ia meninggal di usia 20 tahun.
Bersyukurlah kita yang masih diberikan kesempatan hidup sampai saat ini.
Ya, kematian memang tidak pernah menunggu kita untuk siap, tidak juga menunggu kita untuk tua.
Kematian datang jika memang sudah waktunya.
Bisa kapan saja.

Menurut penuturan ibunya, beberapa waktu yang lalu dia baru menjalani operasi usus besar.
Harusnya dia tidak boleh puasa dulu, tapi dia malah puasa.
Lalu dia sakit, dan dibawa ke puskesmas.
Karena ibunya tidak bilang kalau ada riwayat operasi usus besar, dokter puskesmas mendiagnosis N tifus.
Akhirnya dia diberikan obat tifus.
Karena memang tidak tifus, kondisinya tidak juga membaik.
Konon katanya keracunan.
Dia muntah-muntah darah dan badannya panas tinggi.
Dan begitu dibawa ke ICU Rumah Sakit POLRI, kondisinya makin menurun.
Selanjutnya.........
Ya, seperti itu.
Semoga bisa menjadi pelajaran ya.

Trio bocil XII IPA 5

Selamat jalan, N.
Semoga kamu dapat tempat terbaik di sana ya.. :"(

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al-Jumua'ah: 8)


"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al A'raf: 34)

Jangan takut pada kematian, takutlah pada kehidupan setelah mati.

Tolong dimaafkan saya yang banyak salah ini ya.
Salam kece,