21 February 2014



Maafkan aku, Tuhan..
Aku menangis lagi untuk kesekian kalinya
Di hadapan-Mu aku meratap
Mata sembab
Nafas tercekat
Sesak


Tuhan, aku ingin bertemu hujan
Berpapasan dengannya,
kemudian ikut menangis bersama setiap tetes air matanya


Tuhan..
Bolehkah aku menyerah?
Bolehkah aku tidak melewati babak hidup yang ini?
Aku takut menghadapi ketakutanku
Aku lelah memarahi diriku yang selalu membandingkan dengan yang lain


Kuatkan aku, Tuhan..
Kuatkan langkah kakiku yang mulai lelah
Menghitung kembali langkah yang berhasil kutapaki
Hingga nanti sampai tujuan yang Engkau tentukan 


Maafkan aku, Tuhan..
Untuk semua hal yang seharusnya tak kukeluhkan
Untuk semua yang tak kusyukuri
Tapi babak ini terlalu sulit, ya Tuhan..


Aku yang tak pandai bersyukur,






02 February 2014

Dear Jenderal..

Pernah ga sih kalian ketemu sama orang yang kalian idolakan?
Gimana rasanya?
Rabu, 29 Januari 2014, saya akhirnya bisa bertemu dengan sosok yang saya kagumi.
Seorang guru matematika dengan pribadi yang sederhana dan sangat inspiratif, bapak Juli Eko Sarwono.

Bapak Juli Eko Sarwono

Saya pertama kali tau tentang beliau dari sebuah acara televisi yang dipandu oleh Deddy Corbuzier.
Di acara tersebut beliau memaparkan cara-cara mengajarkan matematika yang unik.
Beliau mengajarkan matematika dengan alat peraga yang beliau buat dari barang-barang bekas sehingga julukan sebagai "guru gila" pun melekat padanya.
Beliau pun bisa membuat pelajaran matematika tak lagi menjadi momok yang menakutkan.
Selain berprofesi sebagai seorang guru, beliau ternyata juga seorang pedagang bakso.
Saya masih ingat ketika beliau berkata "saya sudah terlalu banyak uang, Pak." ketika Deddy Corbuzier bertanya kenapa beliau membuka les matematika tapi tidak menarik bayaran.
Dengan suksesnya beliau mencuri perhatian saya.

Berbantuan internet, saya mencari informasi tentang beliau.
Saya unduh semua video tentang beliau sebagai bahan referensi saya dalam mengajar.
Saya pun menemukan blog beliau lengkap dengan alamat emailnya.

Saya mencoba untuk menghubungi beliau via email.
Mencoba bertanya tentang cara beliau mengajarkan suatu materi.
Dan subhanallah, tanpa perlu menunggu lama email saya pun mendapat balasan.
Beliau sangat ramah dan rendah hati.
Setahun belakangan ini saya sering bertanya pada beliau.

Ketika sedang heboh tentang gonjang ganjing KKL yang hanya tau kemana tak tau tujuannya, dalam diskusi kelompok kecil tetiba saya nyeletuk "Ketemu pak Eko aja yuk! Tau pak Juli Eko Sarwono ga?".
Dan gayung pun bersambut.
Saya ga tau kalo ternyata celetukan saya itu jadi bahan pertimbangan beberapa teman saya.
Kemudian terbentuklah sebuah agen rahasia dengan misi rahasia memperjuangkan KKL yang bermanfaaat. \(^.^)/

Setelah melewati 17 jam perjalanan dan beberapa jam istirahat di penginapan, akhirnya kami menapakkan kaki di sebuah sekolah yang bersih dan sederhana, SMP Negeri 19 Purworejo.
Walaupun sederhana, tapi sekolah ini memiliki laboratorium matematika dan taman matematika yang masih sangat jarang ada di Indonesia.
Subhanallah.

Sosok pak Juli Eko Sarwono adalah pribadi yang menarik.
Seorang tamatan PGSMTP yang berpegang pada Al-Quran untuk menjalani kehidupannya.

... dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah: 195)

Berikut adalah beberapa hal yang saya ingat dari workshop bersama bapak Juli Eko Sarwono:


  • Apa tujuan kita menjadi guru? Untuk mencerdaskan atau hanya untuk menyampaikan materi saja?
  • Untuk mengajarkan matematika, tujuan utamanya adalah membangun minat dulu. Ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu menarik, konsep, dan skill. Pertama pembelajaran harus mampu menarik minat siswa, setelah itu barulah diajarkan konsepnya, dan yang terakhir skill diasah melalui latihan soal. Standar kan? Tapi kebanyakan orang lupa akan hal itu.
  • Apakah waktu yang disediakan cukup untuk memenuhi tuntutan kurikulum yang ada? Harus cukup. Semua tergantung pada karakter guru. Jika guru itu yakin cukup, maka akan cukup. Kembali lagi ke tujuan kita, untuk mencerdaskan atau hanya untuk menyampaikan materi?
  • Guru itu harus kaya untuk menghidupi pendidikan di Indonesia. Tapi jangan jadi guru kalo tujuannya untuk kaya.

Lagi workshop

Apa lagi yang membuat saya kagum dengan beliau?
Beliau adalah sosok yang totalitas dalam menjalankan pekerjaannya.
Bahkan beliau mau membersihkan dan menata ruangan yang digunakan untuk workshop serta menyisihkan sebagian rejekinya untuk membelikan bunga agar ruangan menjadi indah dipandang.
Subhanallah.

Saya terkesan dengan cara mengajar beliau.
Saya terkesan dengan kreativitas yang beliau miliki.
Saya terkesan dengan cerita-cerita yang beliau sampaikan.
Saya terkesan dengan kesederhanaan beliau.
Saya terkesan dengan prinsip hidup beliau.

Taman matematika SMP Negeri 19 Purworejo

Laboratorium Matematika SMP Negeri 19 Purworejo




Satu lagi hal yang membuat saya terkesan adalah ternyata beliau ingat saya.
Beliau mencari saya setelah sesi foto-foto.
Dan alhamdulillah saya berkesempatan mewawancarai beliau setelah selesai acara untuk dokumentasi video kelas.

O: "Pak, emang ga capek pak harus ngajar, ngeles, silat, drum band, jualan bakso, terus mesti ke warnet sampe jam 2 pagi, abis itu ke pasar lagi jam 4 pagi? Kapan istirahatnya pak?

Pak Eko: "Ikan aja ga tidur tapi tetep hidup hehe.. Yang penting tujuannya ibadah, nduk."

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat: 56)

Senang sekali bisa bertemu dengan bapak.
Panjang umur ya pak, Indonesia butuh bapak :")
Salam kece,






Dear Jenderal..

Boleh kakak dibaca part.1 dulu kakaaak... (KLIK!)

Oke sekarang gue mau lanjutin ceritanya.
Siap siap ngantuk ya..

HARI KEDUA
Petualangan di hari kedua dimulai pada pukul 09.00 waktu setempat.
Perjalanan hari pertama yang luar biasa capeknya ditambah harus gendong ransel yang lumayan beratnya berhasil bikin pinggang gue sakit dan menuntut kesejahteraan tidur yang layak.
Lagian jam 9 di sana mah masih kayak jam 7 di Jakarta.
Di sana emang lebih cepet 1 jam, tapi untuk pergerakan matahari kayanya lebih lama 2 jam deh.
Bahkan jam 7 malem masih terang benderang bagai jam 5 sore.

Ini jam 7 malem. Jam 7 pagi malah masih gelap.

Sebelum berangkat ngebolang, hal yang tidak boleh dilupakan adalah sarapan.
Gembel itu identik dengan roti dan mie instan.
Hari pertama gue makan roti, dan gue kelaperan.
Hubungan roti sama perut gue emang ga pernah disetujuin sama kedua orang tua.
Hiks.
Setelah makan dan mandi, perjalanan dilanjutkan lagi.

Sarapan piiip mie sama sereal+roti. *etdah laper ki?*
Gembel sejati juga harus siap makan sereal tanpa air.

Singapur itu negara yang ramah pejalan kaki.
Gue ngerasa nyaman walaupun jalan kaki dengan jarak yang cukup jauh di sana.
Karena trotoar berfungsi sebagaimana mestinya.
Ga ada pedagang kaki lima, ga ada motor nyerobot masuk sana.
Bahkan saking ramahnya sama pejalan kaki, bis pun bakal berhenti untuk ngasih lewat pejalan kaki yang mau nyebrang.
Subhanallah.. Kapan Jakarta bisa kaya gitu ya?

Trotoar di Singapur

Tapi untuk jalan kaki di negara ini lo harus tau aturannya.
Biasakan jalan di sebelah kiri kalo lo lagi ga buru-buru.
Orang-orang Singapur tuh rerata kalo jalan cepet-cepet.
Jadi bagian kanan biasanya untuk mendahului.
Indah banget sungguh.
Ga kayak di Indonesia yang kalo jalan berjejer sampe ngalangin jal.... *PLAK! Mulai deh ngebandingin lagi -_-*

Singapura, negeri sejuta CCTV

Singapur itu negeri yang makmur banget kayanya.
CCTV di sebar ke seluruh penjuru arah.
Bahkan di warung nasi lemak yang kecil pun ada CCTVnya, bro.

Selain MRT, transportasi umum yang pengen banget gue cobain adalah bis tingkat.
Gue penasaran apa yang bikin orang-orang sana lebih suka naik kendaraan umum daripada naik kendaraan pribadi.
Gue udah cukup terkesan dengan kemudahan dan ketepatan waktu dari MRT, dan di hari kedua ini rencananya gue pengen nyobain naik bis.

Bersih ya :"

Tapi ternyata perjalanan naik bis ga semudah yang dibayangkan.
Sama kayak di Jakarta, bis di sana banyak macemnya dengan tujuan yang berbeda.
Ditambah ga bisa turun di tengah jalan, harus turun di haltenya, makanya rencana wisata bis pun dibatalkan.
Karena waktunya terbatas, daripada nyasar mending nyari aman, naik MRT.

Tapi alhamdulillah gue udah ngerasain naik bis tingkat.
Gue duduk di tingkat atas dan paling depan.
Rasanya ga beda jauh kayak naik Transjakarta.
Tapi sama kayak MRT, di sana itu ga ada keneknya, ga ada pemeriksaan tiket, ga ada penjaganya juga.
Cuma ada satu supir, dan beberapa mesin untuk men-tap kartu kita di pintu masuk dan pintu keluar bis.
Yap, sistem pembayarannya cukup men-tap kartu kita pas masuk dan pas keluar.
Butuh kepercayaan pemerintah dan kesadaran masyarakat sih kalo yang kayak gini mau diterapin di Indonesia.
Tapi sungguh ini tuh praktis banget.

Untuk men-tap Singapore Tourist Pass kita di bis tingkat

Gue kagum sama tata kota ini.
Gedung-gedung bertingkat hidup akur berdampingan dengan pepohonan yang rimbun.
Subhanallah.. Kok bisa ya?
Betah deh pokonya jalan kaki di sini.
Tapi tetau betis makin bengkak aja gitu.


Tujuan pertama adalah Orchard Road, tempat ngegaul seantero jagat Singapur.
Tempatnya barang-barang branded dengan harga yang menguras kantong.
Kayaknya hampir seluruh merk terkenal di dunia buka cabang di sini deh.
Sebagai gembel, gue ngerasa ga pantes berada di tempat ini..

Aku terlalu gembel untuk mangkal di ION Orchard >.<

Tapi di Orchard juga ada tempat yang terkenal buat beli oleh-oleh loh.
Namanya Lucky Plaza.
Harga yang ditawarin di sini lebih murah dari yang di Bugis, apalagi di Mustafa.
Beeeeeh.. jauh beda.

Lucky plaza, tempat nyari oleh-oleh

Di lucky plaza, kalo beruntung lo bisa nemuin gantungan kunci 5 for 10 alias 5 set (isi 6 biji) 10 SGD.
Padahal di Bugis 4 for 10.
Tuh kan untung 1 set hahahaha..
Di Singapur emang biasanya barang-barang buah tangan gitu dijual borongan.
Pinter-pinter nyari aja deh.
Ga jarang barang yang sama dijual dengan harga yang jauh beda.

Rerata 3 for 10 tapi ada juga yang 5 set for 10

Selain nyari oleh-oleh, hal yang wajib kudu harus mesti dilakukan adalah nyari es krim!
Berdasarkan rekomendasi internet, di Orchard ada Uncle Ice Cream yang cukup terkenal.
Sebenernya cuma es krim dipotong terus dibalut pake wafer kalo ga roti tawar.
Harganya cuma 1 SGD.
Yang jual uncle-uncle gitu.
Kalo belom selese beberes dagangan, unclenya ga mau ngelayanin pembeli.
Dia ga mau bikin pembelinya nunggu.
Subhanallah..
Di Jakarta juga udah banyak nih yang jual es potong kaya gini.

'Uncle' Ice Cream di sekitar Orchard Road

Tujuan berikutnya adalah Mustafa Centre dan Little India.
Konon katanya di Little India banyak makanan halalnya.
Ke Mustafa cuma beli coklat titipan kakak gue.
Dibanding Lucky Plaza, harga disini tuh beeeeuuuh.. jauh lebih mahal.
Mungkin karena bentuknya kayak supermarket kali ya.
Tapi emang coklatnya lebih bervariasi.

Little India


Begitu masuk Little India, kita bisa nemuin pemandangan yang berbeda dari tempat lainnya.
Kalo di tempat lain di dominasi orang-orang berkulit putih mata sipit alias orang cina, kalo di sini rerata orang-orangnya berkulit gelap khas orang India. (Ya emang orang India ki -_-)
Jujur gue bingung.
Kalo di Jakarta kita bisa tau orang aslinya orang Betawi kan ya?
Terus kita pun bisa ngebedain orang Sunda, Jawa, Batak, dan lain sebagainya.
Tapi jujur gue bingung, orang asli Singapur itu orang apa ya?
Ada cina, melayu, arab, india.
Apa orang perantauan semua? (penting banget ya ki? -_-)

Oke fokus.. fokus..
Sampe di sebuah foodcourt, kebingungan pun melanda jiwa.
Nama makanannya aneh-aneh, bro.
Ada yang namanya "masala" apaan tau gitu, ada yang ditulis pake bahasa Sansekerta, intinya gue ga ngerti.
HAHAHAHAHAHA -_-
Akhirnya gue beli laksa.
Soalnya cuma itu yang gue ngerti.
Tapi akhirnya gue kapok, gue trauma, gue ga mau makan laksa lagi.
Keliatannya doang enak, tapi rasanya hemmm...

Cukup sekali aku melaksaaaaa kegagalan cintaaaaaah~

Mungkin Little India itu daerah 'kampung'nya Singapur kali ya?
Soalnya cuma di sana gue nemuin pasar kayak yang di Indonesia gitu.
Terus juga rerata para pekerja kasar di Singapur itu orang India.
Mulai dari pemotong ranting pohon di jalanan sampe tukang jaga toilet di bandara.

Pasar di Little India

Setelah capek beli oleh-oleh dan nyobain makanan yang cukup bikin kapok, keputusan terbaik adalah naro barang belanjaan di hostel sekalian ngisi ulang minum untuk menuju tempat paling fenomenal berikutnya, Merlion park.
Belom afdol ke Singapur kalo belom ke tempat ini, bro.
Untuk menuju ke sana cukup pake MRT dan jalan kaki.
Sekali lagi gue bilang, gue suka banget jalan kaki di kota ini.




Esplanade

Singapore Flyer  & Art Science Museum

Marina Bay Sands

Merlion

Pemandangan di sini lumayan bagus, anginnya sepoi-sepoi juga.
Nah kalo udah agak maleman biasanya di sini ada pertunjukan laser gratis, bro.
Wuuuuiiih.. lo mesti liat salah satu kemajuan teknologi yang keren banget.
Ini romantis banget sungguh.

Marina Bay Sands at night


Singapore Flyer at Night

Pulang dari ngegaul di Merlion, mampir lagi sebentar ke Bugis buat beli oleh-oleh yang masih kepikiran.
Berhubung Bugis sama Lavender deketan, jadi ga masalah pulang agak malem, selama MRTnya masih ada.
Kalo ga salah sih MRT cuma sampe jam 11an malem.

PULANG
Karena belinya tiket promo, dapetnya yang murah yang pagi, akhirnya gue mesti ke bandara lumayan pagi.
Jadi sebelum matahari bersinar dan teletubbies muncul ke permukaan, harus udah check out dari hostel biar ga ketinggalan pesawat.
Kalo ketinggalan pesawat bisa bahaya soalnya -_-

Berhubung Singapore Tourist Passnya cuma beli yang 2 hari, makanya pas pulang nyobain beli tiket MRT yang biasa, yang pake mesin.
Mesinnya canggih bangggeeeet, bro.
Harga ke setiap stasiun beda-beda.
Paling mahal 2,9 SGD.

Pemerintah Singapur punya cara loh biar warganya seneng naik MRT.
Kalo berangkatnya kurang dari jam 7.45, gratis alias ga kepotong saldonya.
Terus kalo berangkatnya di atas jam 7.45 sampe jam 08.00 nanti dapet potongan harga sampe 50 sen.
Terus juga kalo udah naik berapa kali gitu nanti bisa dapet refund.

MRT Standard Ticket dari Lavender ke Changi 2,1 SGD (2 SGD harga tiketnya + deposit 1 sen) 

Sesampainya di Changi, tujuan utama adalah loket pembelian tiket STP waktu itu demi memperjuangankan hak 10 SGD!
Kan harga STPnya 16 SGD tuh, terus 10 SGDnya deposit kan.
Nah itu dia..

Setelah itu, check in terus ke imigrasi deh.
Abis dari imigrasi, pastikan kalo kalian ngeliat petunjuk arah dengan bener.
Untuk gate A, B, C itu ada di sebelah kiri.
Sedangkan untuk gate D dan seterusnya ada di sebelah kanan.
Jangan kayak gue...

Jadi setelah lewat imigrasi, gue langsung buru-buru ambil kiri soalnya kepengen nyobain fasilitas yang ada di sana.
Maklumlah mental gratisan -_-
Setelah puas nyobain kursi pijet dan inetrnet gratisan dengan biadabnya, gue baru sadar ternyata gate yang gue cari tak kunjung nampak di permukaan.
Gue nyari gate D47.
Sedangkan sampe di ujung jalan cuma ada gate C.
Itu artinya....
Itu artinyaaaaaa....
AAAAAAAAAAAAAAAAAKKKK!!!
SALAH JALAAAAAN!!! >.<

Memanfaatkan fasilitas Free Internet untuk ngisi KRS di Changi Airport

Belom sadar kalo salah jalan -_-

Akhirnya dengan segenap tenaga yang ada, kuberlari kau terdiam kumenangis kau tersenyum menyusuri Changi Airport ngejar waktu yang tinggal beberapa menit lagi sambil bawa gembolan segede bagong.
Sumpah ya ki lo itu bener-bener.... -_-
Gue ga tau apa jadinya kalo gue ketinggalan pesawat.

Gate D47 ketemu.
Langsung cek isi tas sama baju.
Masalah lain dateng lagi.
Ternyata eh ternyata mesinnya mendetek sesuatu yang aneh dari ransel gue.
AAAAAAAAAAAAAK!! COBAAN APA LAGI INI YA TUHAAAAN T_T
Dengan kebingungan, gue pun disuruh buka tasnya.
DAAAAAAAAAAAAAAAN.....
SETOPLES SELAI KACANG UKURAN 900 GR DISITA TANPA PERASAAN SODARA-SODARA SEBANGSA DAN SETANAH AIR!!
Katanya terlalu besar.
Harusnya masuk ke bagasi.
Padahal itu selai titipan kakak gue, dan di Jakarta susah nyarinya.
Gue rugi 8 SGD. Hiks.


Gue suka naik pesawat.
Bukan karena gue ga mabok, tapi karena gue bisa liat langit dari atas langit.
Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 29)

Sampe di Jakarta rasanya seneeeng banget.
Bukan karena gue bisa denger suara adzan lagi, tapi karena gue punya sebuah pencapaian baru dalam hidup ini.
Bisa terbang ke negeri orang, mengagumi keindahan tata kotanya, menikmati segala kemudahan transportasinya, bisa berkomunikasi dengan mereka, dan yang terpenting adalah bisa mempelajari sisi baik dan buruknya kemudian mencoba menerapkannya di sini.
Dimulai dari hal kecil, yaitu belajar untuk menghargai uang dengan tidak melipatnya, belajar untuk menghargai waktu, belajar menghargai orang lain dengan ga ngerokok sembarangan (eh gue ga ngerokok deng -_-), ga ngeludah sembarangan, ga makan permen karet sembarangan, ga makan dan minum sembarangan.
Meskipun di sini ga ada sanksi, tapi belajarlah untuk malu terhadap diri sendiri. *hahahahaseeeek*

Gue mungkin terkesan dengan segala kemajuan teknologi yang ada di sana, tapi masih banyak hal yang bisa gue banggakan di Indonesia.
Dari makanan sampe keindahan alamnya.
Indonesia juaranya.

Singapore is a fine city

Berikut adalah daftar pengeluaran yang berhasil menyebabkan penyempitan pembuluh dompet:


  • Taksi ke Bandara+toll: Rp153.500
  • Tiket Pesawat PP: Rp473.000
  • Airport Tax Soetta: Rp150.000
  • Singapore Tourist Pass: SGD 26
  • Penginapan (Mercury Backpackers Hostel): SGD 39.5 (SGD 19.25 per hari)
  • Uncle Ice Cream: SGD 1
  • Nasi lemak (makan siang): SGD 3
  • Nasi lemak (makan malam): SGD 2
  • Laksa (makan siang): SGD 3
  • Tiket Sentosa Island: SGD 1
  • Tiket MRT Lavender-Changi: SGD 2.1 
(SGD 1 = Rp9.540)
  • Damri (untuk pulang ke rumah) : Rp30.000
  • Angkot T17: Rp2.000

Catatan: Pengeluaran bisa ditekan kalo kalian mau repot bawa makanan dari rumah, bawa botol minum kemana-mana, ga masuk ke tempat wisata yang mahal-mahal, dan ga beli oleh-oleh. Dan ga telat pergi ke bandaranya -_-

Demi apapun, backpackeran itu nagih.
Salam kece,