31 August 2014


Allah memberikan dua mata, dua telinga, dan satu mulut agar kita bisa lebih banyak melihat dan mendengar sebelum berbicara

Telingamu yang jumlahnya dua berguna untuk mendengarkan secara berimbang

Sisi kanan, sisi kiri

Tak hanya dari satu sisi

Mendengar itu sulit

Belajar membunuh spekulasi pribadi

Agar tidak main hakim sendiri

Pun matamu yang dua jumlahnya, ajaklah mereka mencari lebih banyak

Membaca lebih banyak

Mengamati lebih bijak

Sebelum kamu persilakan mulutmu berkomentar

Bisa kan bersikap lebih adil?

Dengarkanlah, dengan mendengar kau bisa banyak belajar

Lihatlah lebih banyak, dengan melihat kau bisa lebih bijak


Yang masih belajar mendengarkan,







20 August 2014

Source: KLIK!

Kudapati diriku dalam kegelapan. Tak dapat kuingat dengan jelas apa yang terjadi padaku tadi. Sepertinya aku membentur sesuatu yang cukup keras hingga membuatku terjatuh dan tak sadarkan diri. Perlahan kulihat sekelilingku. Syukurlah ternyata aku tidak sendiri. Jantungku pun memperlambat degupnya. Kucoba menyapa mereka, tak ada jawaban. Kudekati mereka perlahan. Lebih dekat. Semakin dekat. Hingga aku pun menemukan suatu  kejanggalan.

Aku berada di antara orang-orang putus harapan. Di antara puing-puing semangat, yang telah retak entah sejak kapan. Sayap-sayapnya patah dan tak lagi mampu membawa mereka terbang. Terasa begitu tepat, meski tak bisa dianggap tepat, karena baru saja aku pun terjatuh dari tempat yang tengah kuperjuangkan. Apa kisahku akan berakhir di sini seperti yang lain? Sejenak keraguan muncul dalam benakku. Ah, tidak! Aku masih beruntung, sayapku tidak patah, hanya terdapat sedikit luka yang ku yakin tak akan lama sembuhnya. Walaupun tidak cukup kuat, tapi ketika kulihat sayap mereka patah, ingin rasanya kuberi milikku sebelah. Kemudian bersama menyalakan lagi lilin harapan yang sempat padam, walau harus saling memapah ketika berjalan.

Aku butuh diselamatkan. Ah, bukan. Kita butuh diselamatkan. Jika kamu yang aku pinta untuk menyelamatkan, apa kamu mau?

Tolong aku.