Aku percaya bahwa pada dasarnya semua orang terlahir sebagai orang baik. Perjalanan kehidupan kemudian dapat membentuk orang itu menjadi jahat, tetap baik, atau pun jahat kemudian baik lagi.


Halo, aku Humaira. Seorang gadis berusia 23 yang masih menjalani sebuah proses menyenangkan dalam hidup, hijrah. Sebagian orang menganggap usia 23 masih terlalu muda untuk berhijrah. Tapi sebagian lainnya merasa sudah terlalu tua. Dan aku mungkin setuju dengan pendapat sebagian orang yang kedua.

Aku bukan orang baik. Sungguh. Jika kini kau lihat aku tidak cukup jahat, itu pasti karena Allah menutup aib-aibku dengan baik. Pun aku bukan orang beruntung yang bisa menikmati pendidikan agama secara intens sejak kecil. Jadi jika sekarang kau tanya, "Kamu capek-capek sekolah 16 tahun hafalan Al Qurannya sudah berapa banyak?", ya aku hanya bisa melempar senyum. Aku sama sekali tidak menyalahkan orang tuaku karena tidak menyekolahkanku di pesantren atau sekolah islam. Aku sih maklum. Ada hal yang tidak bisa kuceritakan di sini. Mungkin lain kali kita bisa ngobrol lagi.

Aku baru mulai memakai hijab saat usiaku menginjak 18. Setelah lulus SMA, kulunasi janjiku kepada Allah untuk memakai hijab. Awalnya aku tidak tahu bahwa hijab itu kewajiban setiap muslimah. Yang aku tahu bahwa hijab itu hak prerogratif setiap perempuan. Ah, macam mengerti soal hak prerogatif saja aku ini.

Hijab awalku hanya sebatas kain yang menutupi rambut dan pakaian yang tidak menampakkan aurat. Ya, hanya sebatas itu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai tau bahwa bukan itu arti hijab yang dituliskan dalam kitab.

Aku ini tipe pembelajar visual. Belajar dari apa yang dilihat. Aku berada di lingkungan dimana sudah banyak perempuan memakai kerudung panjang dan pakaian longgar. Anggun sekali, pikirku saat itu. Berbeda jauh dengan aku yang masih suka mengenakan celana jeans ketat, kaos, dan kerudung yang disampirkan di bahu. Tapi kelak aku akan seperti itu, batinku.

Titik hijrah selanjutnya adalah ketika aku jatuh hati pada sesosok pria sholeh. Siang hari di masjid kampus aku mendengar dia membacakan surat cinta dari pemilik alam semesta dengan sangat indah. Tanda hitam di dahinya membuat aku cukup bahwa dia lelaki baik. Sejak saat itu, aku mulai belajar untuk menambah ilmu agamaku. Mungkin ini bisa disebut kesalahan yang baik. Baik karena tujuannya untuk memperbaiki diri, tapi salah karena niatnya bukan Lillah.

Tahun demi tahun berganti, aku mulai menikmati proses pembelajaran ini. Bukan lagi karena sosok bersuara indah yang kulihat di masjid tempo hari. Walaupun sungguh aku masih berharap imamku kelak sebagus itu bacaan Al Qurannya.

Perjalanan hijrah selanjutnya terasa begitu lambat. Aku masih nyaman dengan hijab asal pakai seperti kebanyakan teman-temanku. Tenggelam dalam urusan duniawi yang kurasa begitu pelik awalnya. Lupa bahwa ajal bisa datang kapan saja, tanpa pernah menuggu kita siap.

Di tahun akhir kuliah, ada titik dimana aku dituntut untuk cepat belajar. Skripsi. Saat dimana aku banyak menghabiskan waktu berdua dengan Allah. Pun aku mulai belajar menghafal kalamnya karena melihat acara anak-anak menghafal Al Quran. Padahal sebelumnya hanya berakhir sebagai wacana. Malu rasanya. Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar bukan?

Hidupku semakin baik saat aku mendekat pada Allah. Allah memberikan semua yang kubutuhkan. Aku makin merasa malu pada-Nya. Sejak saat itu aku mulai meninggalkan celana jeans ketatku, dan beralih menggunakan rok. Perlahan, sedikit demi sedikit kuulurkan hijabku menutupi dada. Hingga akhirnya aku bertekad untuk bekerja di tempat yang baik kelak setelah lulus nanti. Dan lagi-lagi, Allah mengabulkan doaku.

Di sinilah aku sekarang. Di lingkungan yang amat baik. Lagi-lagi aku merasa malu. Aku yang sangat bodoh tentang ilmu agama, kembali harus berada di lingkungan seperti ini. Di antara orang-orang yang pemahaman agamanya baik dan taat pada Allah. Sedang aku? Hanya seorang hamba yang sering lalai dan banyak alpanya. Ah, tapi mungkin ini cara Allah untuk menyuruhku belajar.


--------------------------------------------------


Hijrah itu belajar.
Hijrah itu proses.
Hijrah itu berubah dari yang kurang baik menjadi baik.
Setiap orang berproses dalam hidupnya.
Sayangnya tidak semua orang paham tentang itu.

Manusia memang bebas untuk menilai. Tapi yang paling berhak menilai hanya Allah. Bukan kita sesama hamba. Kau boleh saja menilai seseorang, tapi tidak untuk menghakiminya. Lebih bijaklah dalam menilai sesuatu, jangan mudah menghakimi.

Panjangnya hijab bukan berarti banyaknya pengetahuan. bukan juga pertanda teguhnya iman. Karena kewajiban berhijab beda bab dengan akhlak.


Sekian.