Jul 14, 2013

The Last


Dear Jenderal..

Selamat hari Minggu! Selamat tanggal 14 Juli!
Saya kembali ke sekolah sebentar lagi.
Tapi kali ini dengan status dan pakaian yang berbeda tentu saja.

Sebelum bertransformasi menjadi ibu guru yang cantik jelita, anggun, lembah lembut, dan mempesona, saya melakukan ritual pelepasan suatu benda yang sangat saya sayang, yaitu sepatu.
Saya adalah tipe wanita yang jarang sekali menggunakan 'sepatu wanita pada umumnya'.
Alasannya hanya karena masalah kenyamanan.
Tapi karena sudah semester 7, harus praktik mengajar di sekolah, dan sepatunya sudah minta pensiun, mau tidak mau saya harus membiasakan diri menggunakan 'sepatu wanita pada umumnya'.
Hikshiks.

Setelah berhasil menaklukan Kp. Makasar-Kalideres seorang diri beberapa hari yang lalu, akhirnya kemarin, 13 Juli 2013, saya kembali menyusuri ibukota dengan sepatu kesayangan.
Kali ini Kota Wisata Cibubur yang menjadi tujuan jalan-jalan dengan bermodal GPS dan kesokberanian.

Kota Wisata Cibubur

Kenapa Kota Wisata Cibubur?
Karena Kotwis sering digunakan untuk syuting tempatnya bagus seperti di luar negeri.
Dengan rumah-rumah mewah seperti rumah Barbie, udara yang sejuk, dan arsitektur khas Eropa.. eh Amerika.. eh Asia.. eh....
Ah sudahlah.
Yang jelas bagus.

Kampung Cina

Tempat pertama yang dikunjungi adalah Kampung Cina.
Tempat ini sudah terkenal sebagai tempat wisata belanja dengan konsep China Town yang sudah terkenal di seluruh penjuru dunia.
Sebuah gerbang kemakmuran berdiri dengan gagah di depan Kampung Cina untuk menyambut para pengunjung.
Jadi buat yang ingin makmur, silakan bolak balik melewati gerbang ini hehehe..

Gerbang kemakmuran

Banyak pernak pernik khas budaya Cina yang dijual di sana.
Salah satunya adalah Cheongsam alias pakaian tradisional khas Tionghoa.

Lu olang tau ini? Hayah.. ini namanya Cheongsam

Selain Kampung Cina, di Kota Wisata juga ada Kampung Indonesia, Kampung Amerika, Kampung Eropa, dan Kampung Jepang.
Namun karena sedang bulan Ramadan, maka tidak banyak pengunjung yang datang ke sana.
Ya iyalah kan lebih enak di Mall ada ACnya.. *PLAK!!*

Keren ya......... yang belakang.

Setelah bosan mengelilingi kampung Cina, Indonesia, Jepang, dan Amerika, yang sepi dan sedikit toko yang buka, saya pun berjalan menuju Fantasy Island yang letaknya tidak jauh dari sana.
Tapi belum sampai sana, tiba-tiba semesta berubah moodnya.
Hujan turun tanpa permisi, dan ternyata saya lupa tidak membawa payung.
Ya salaaam..

Tiket masuk Fantasy Island

Karena hujannya tidak terlalu deras, maka saya tetap melanjutkan perjalanan.
Setelah melewati sebuah jembatan yang sangat indah, yang sering ada di ftv-ftv, saya membeli tiket masuk seharga Rp10.000 dan langsung masuk ke dalam Fantasy Island.

Hujaaaan~

Bukannya reda, hujan malah semakin deras.
Karena bingung mau kemana, akhirnya saya hanya bisa diam sambil menghitung air hujan.
Sepuluh ribu hanya untuk berteduh. Ya salam..

Jadi, Fantasy Island ini sesungguhnya adalah tempat bermain anak-anak.
Di dalamnya terdapat taman Jurassic, ada beberapa patung dinosaurus, dan juga berbagai permainan darat maupun air.
Namun untuk menikmati permainannya pengunjung harus mengeluarkan uang tambahan.

Fantasy Island

Karena hujan, tidak banyak pengunjung yang datang ke sana.
Sejauh mata memandang, tak satu pun permainan yang dioperasikan.
Namun suasana paska hujan di sana benar-benar menyenangkan.
Tenang, sepi, ditemani pemandangan hutan pinus, danau dan air becekan, bagus deh pokonya.

The best view

Berniat datang ke sini?

Ini hari terakhir saya dengan sepatu kesayangan saya.
Setelah melewati tempat-tempat yang luar biasa, akhirnya kami akan berpisah.
Panas, terik, hujan, badai, telah kita lalui bersama.
Hiks sedih ya.

Di depan gerbang Kota Wisata
Patung orang naik kuda di Kota Wisata

Jurassic Park

Dinosaurunyu
Pintu Gerbang Kemerdekaan Pertama Fantasy Island

Pintu Gerbang Kemerdekaan Kedua Fantasy Island
*hapenya keujanan gambarnya jadi burem -_-*

Wanita cantik melawan Dinosaurus


Sepatu gembel

Salam kece,






Dari Jakarta Menuju Luar Angkasa


Dear Jenderal..


Setelah mengendap selama dua minggu dan hampir membusuk, akhirnya dengan susah payah saya mengumpulkan segenap daya upaya untuk menyelesaikan tulisan ini. Huft.
Tulisan tentang hasil perjalanan saya ke suatu tempat wisata pendidikan di kawasan Taman Ismail Marzuki yang bernama Planetarium.
Tempat dimana kita bisa melihat bintang, walaupun langit di luar masih terang.
Hehehe.

Planetarium Jakarta

Ini bukan kali pertama saya mengunjungi tempat ini.
Selain saat karya wisata SD, saya juga pernah mengunjungi tempat ini bersama teman-teman saya sewaktu duduk di kelas 2 SMA.
Dan saya rasa ada beberapa yang berubah dari tempat ini.



Saya mengunjungi Planetarium pada Sabtu pagi, 29 Juni 2013, tepat pada saat weekend dan juga liburan anak-anak sekolah.
Maka tak heran jika antrean sudah mengular sejak pagi.

Dengan harga tiket pertunjukan yang jauh lebih murah dibandingkan harga tiket bioskop, Rp3.500 untuk anak-anak dan Rp7.000 untuk dewasa, saya rasa tidak ada alasan untuk tidak mengunjungi tempat ini.

Berikut adalah jadwal pertunjukan Planetarium: (sumber Wikipedia)
  • Selasa - Kamis : 09.30 - 10.30, 11.00 - 12.00, 13.30 - 14.30, dan 16.30 - 17.30
  • Jum'at : 9.30 - 10.30, 13.30 - 14.30 dan 16.30 - 17.30
  • Sabtu - Minggu : 10.00 - 11.00, 11.30 - 12.30, 13.00 - 14.00, dan 14.30 - 15.30;
  • Libur Nasional : Tutup;
  • Senin : TUTUP untuk pemeliharaan;
Antrean loket Planetarium

Panorama Antrean Planetarium

Saya sempat kehabisan tiket untuk pertunjukan jam 13.30.
Tapi karena kebijakan penyelenggara, akhirnya saya pun bisa membeli tiket penonton lesehan.
Dengan harga yang sama, tetapi duduknya lesehan dan masuknya terakhir setelah penonton legal.
Tadinya saya pikir tidak apa karena saya akan mendapat pengalaman baru.
Namun ternyata begitu saya masuk, masih ada beberapa bangku kosong jadi saya tidak perlu lesehan apalagi sampai tidur-tiduran di jalanan.
Beruntung.

Ada yang tau ini apa?
Bukan. Bukan bakso.

Penonton legal dan penonton lesehan

Di tempat ini, pengunjung disuguhkan sebuah pertunjukan tentang luar angkasa.
Dimulai dari perbintangan, rasi bintang, tata surya, hingga galaksi.
Konsepnya seperti gedung bioskop, namun layarnya adalah atap yang berbentuk setengah bola. *ngerti ga? Ga? yaudah.. -_-*
Durasi pertunjukan yang kurang lebih 60 menit berhasil membuat leher saya sakit karena harus melihat ke atas.
Belum lagi pendingin ruangan yang tidak berasa membuat ruangan menjadi pengap karena sekitar 300 orang ada di ruangan tersebut.

Tidak hanya di ruang pertunjukan, pendingin ruangan pun tidak terasa saat di luar ruang pertunjukan (loket antrean dan ruang tunggu).
Dengan jumlah pengunjung yang sangat banyak waktu itu, tentu ini membuat tingkat kenyamanan menjadi berkurang.
Planetarium Exhibition Hall sedang dalam tahap renovasi

Selain pertunjukan, di sini juga disajikan ruang pameran foto benda-benda ruang angkasa.
Namun sayang, sekarang sedang dalam tahap renovasi.
Ada pula pajangan baju ruang angkasa untuk para astronot untuk mengarungi bahtera rumah tangga ruang angkasa.
Konon katanya beratnya mencapai ratusan kilo loh!

Baju Astronot.
Tangannya panjang bener -_-

Di tempat ini, aroma vetsin semerbak di seluruh penjuru tempat.
Aroma yang tak lain berasal dari sebuah mie instan dalam bentuk cup yang biasa disebut 'Piiip" Mie itu menggoda perut-perut yang kelaparan.
Dan sebagai wanita yang lemah, saya pun tergoda..

Piiip Mie.


Planetarium

Tukang jualan di depan Planetarium

Selain Planetarium, di Taman Ismail Marzuki pun ada bioskop dan tempat pameran.
Biasanya ada pameran lukisan, foto, dan lain-lain.
Jadi buat yang bosan di rumah, butuh tempat hiburan baru selain pusat perbelanjaan, tak ada salahnya mengunjungi tempat ini.

XXI Taman Ismail Marzuki

Sekian laporan tidak niat dari saya.
Salam kece,






Jul 9, 2013

Menolak JKT48


Dear Jenderal..

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 3 dan 4 Juli 2013, idol group JKT48 melangsungkan konser tunggalnya di Jakarta.
Konser yang bertajuk "Perkenalkan, Nama Kami JKT48" ini berlangsung di 5 kota di Indonesia.
Sebagai penutup, konser dilaksanakan selama 2 hari dalam 3 show di Jakarta.


Suatu hari yang cerah, seorang OTRL yang rendah hati dan baik budi yang sedang mengalami masa liburan semester mengalami suatu hal yang menakjubkan.
Di malam yang sunyi senyap, Senin 1 Juli 2013, saya iseng mengisi sebuah form di situs INI karena belum bisa tidur.
Sebuah situs persembahan salah satu provider di Indonesia yang menawarkan tiket konser JKT48 secara gratis.


Tak disangka, esoknya saya mendapatkan surel yang menyatakan bahwa saya adalah pemenang tiket konser JKT48.
Seketika bunga-bunga bermekaran dalam hati saya. *oke ini berlebihan*
Bukan masalah tiketnya, tapi masalah...

emm..

masalah..

masalah apa ya?

Tunggu sebentar.
Biar saya cari kata-kata yang pas dulu ya.
Nanti kalau sudah ketemu saya balik lagi.
Kamu tunggu di situ.


Rabu siang, 3 Juli 2013, saya melucur ke alamat yang diberikan.
Di sana tertulis alamat kantor di sebuah gedung di kawasan Sudirman.
Wow.
Ini pertama kalinya saya masuk ke sebuah perkantoran di kawasan tersebut.
Sebuah kawasan elit, dengan gedung-gedung yang menjulang dengan gagahnya menantang langit.
Norak, kampungan, udik, apapun namanya, yang jelas saya merasa sangat asing dengan tempat itu.

Setelah mengalami beberapa kejadian memalukan yang disebabkan karena keluguan dan ketidaktahuan gadis manis seperti saya ini, akhirnya tiket konsernya sudah berada di tangan saya.
Sebuah tiket tribun tengah show 2, yang jika beli sendiri harus merogoh uang seharga Rp300.000, saya dapatkan secara cuma-cuma.

Tiket Konser "Perkenalkan, Nama Kami JKT48"

Karena hanya mendapatkan satu tiket, saya ragu apakah akan saya gunakan atau tidak tiket tersebut.
Awalnya saya berniat mengajak teman saya, Liana Putri Maharani alias Kapten Kinal KW superrr, untuk menonton konser ini jika mendapat dua buah tiket.
Namun karena hanya mendapat satu, akhirnya saya memutuskan untuk tidak datang.
Lagipula esoknya saya ada pelatihan pengembangan media dan presentasi lisan di kampus, pikir saya.
Maaf ya JKT48, saya tidak bisa datang..

Akhirnya karena merasa sayang dengan tiket yang ada, saya menawarkan ke teman-teman saya di Twitter.
Hingga Kamis pagi, beberapa orang sekadar bertanya tanpa memberi kepastian.
Saya pikir memang saya tidak berbakat menjadi calo tiket konser.
Sudah saya pasrahkan jika memang tiketnya tidak jadi dijual.
Lumayan untung kenang-kenangan kalau saya pernah beruntung, pikir saya.

Tapi ternyata sejam sebelum konser dimulai, pukul 13.00 WIB, teman dari kakak tingkat saya datang untuk mengambil alih tiket saya.
Kemudian tiket gratisan saya pun dihargai Rp50.000 oleh kakak itu.
Hahaha lumayan untuk mengganti uang bensin saya.
Walaupun kata bapak seharusnya saya bisa menjual lebih mahal.

Awalnya saya takut memberikan harga mahal karena takut kalau tiketnya tidak bisa dipindahtangankan.
Maka dari itu saya meminjamkan kartu identitas saya, berupa SIM A, sebagai pegangan kepada sang kakak.
Meminimalisasi kemungkinan terburuk lah.
Eh, tapi ternyata tidak diperiksa.
Aaaaaaaaaah.. tuh kan harusnya memang bisa dijual lebih mahal!

Saya sempat iri ketika sang kakak menceritakan betapa serunya konser tersebut.
Tapi pasti lain cerita jika saya yang berada di posisinya waktu itu.
Nonton konser, sendirian, di tengah lautan penggemar JKT48 yang didominasi oleh kaum lelaki, dan yang terpenting adalah saya belum pernah nonton konser sebelumnya.
Jangankan nonton konser, nonton Indonesia Open live saja saya pusing saking berisiknya.
Iya, saya memang tidak cocok kerja di air. (eh?)

Beruntunglah, ternyata pada tanggal 8 Juli 2013 konsernya ditayangkan di televisi.
Hal ini membuat saya jadi tidak terlalu menyesal telah menolak kesempatan untuk menonton secara langsung.
Karena saya tetap bisa menikmati lagu-lagu yang mereka, melihat seifukunya yang sangat bagus berpadu dengan dancenya yang super keren.
Hahahahaha berlebihan.

Oiya, berhubung ini 1 Ramadhan 1434 H, saya mohon maaf ya atas kesalahan yang pernah saya lakukan.
Baik secara lisan, maupun tulisan.
Semoga lancar puasanya, ibadahnya, nyari jodohnya ya.

Salam kece,






Jul 5, 2013

REVIEW: Despicable Me 2


Dear jenderal..

Selang beberapa hari setelah Monster University rilis, datanglah sebuah film animasi baru garapan Illumination Entertainment yang telah hijrah dari Dreamworks ke Universal Pictures. *CMIIW ya*
Film yang berjudul Despicable Me 2 ini merupakan sequel dari Despicable Me yang meraih sukses pada tahun 2010.


Sinopsis:
Gru (Steve Carell), kini tengah asyik menikmati kehadiran anggota baru keluarganya, Agnes, Edith dan Margo. Hari-hari Gru disibukkan dengan ketiga putrinya tersebut. Gru bahkan kini memiliki profesi baru, yakni memproduksi selai dan jelly.

Hal tersebut tidak berlangsung lama setelah seorang wanita datang menghampiri Gru ke rumahnya, Lucy (Kristen Wiig). Dengan cara yang sedikit ekstrim, Gru pun dibawa menuju markas Liga Anti-Kejahatan. Disana, Gru dimintai bantuan untuk menghentikan seorang penjahat baru yang memiliki serum rahasia.

Berdampingan dengan Lucy sebagai rekan kerja, Gru pun memulai kembali aksinya. Ditengah-tengah pencarian tersebut, Gru bertemu dengan penjahat baru yang ia curigai, Eduardo El Macho (Benjamin Bratt). Dan disaat yang bersamaan, para minions Gru mulai menjadi korban dari kejahatan El Macho.

Bagaimanakah cara Gru menyelamatkan para minionnya tersebut? (sumber : KLIK!)


Dari segi cerita, saya merasa cerita yang ditampilkan biasa saja.
Tidak istimewa dan mudah ditebak jalan ceritanya.
Yang membuat film ini istimewa adalah kehadiran minions yang selalu memecah tawa karena tingkah lucunya.
Jika tidak ada minions, saya yakin film ini tidak akan berkesan.
Sekadar hiburan, tanpa ada pesan tersirat.

Visualnya sangat apik dengan paduan karakter lucu dan imajinatif.
Walaupun sama-sama menghadirkan sosok bermata satu seperti Monster University.
Ya dari nama penggarapnya saja sudah Illumination Entertainment.
Mungkin ini cara mereka memasyarakatkan illuminasi melalui karakter-karakter lucu dalam film.
Mungkin.

Minions

Karakter tokohnya menurut saya kurang kuat dalam sehingga jadi kurang berkesan.
Padahal Agnes di film ini lucu sekali loh.
Satu-satunya yang paling berkesan adalah Minions.
Tingkah polahnya yang konyol dan menggelitik.
Terutama saat mereka menyanyikan lagu Underwear yang merupakan plesetan dari lagu I swear.
Jika minions dibuatkan film sendiri, mungkin akan laris di pasaran.


Di akhir film, diberikan additional scene para minions yang lucunya maksimal.
Jadi jangan buru-buru keluar dan pastikan kalian menonton hingga akhir ya.
Dijamin lucu.


Dari 1 sampai 10, saya memberikan nilai 7 untuk film ini.
Cukup menghibur, tetapi tidak berhasil membuat saya ingin menonton lagi.

Salam kece,

Que Sera, Sera


Dear Jenderal..

Selamat liburan! Bagaimana keadaan rapornya? KHSnya? Dompetnya? Pacarnya?
Aman sehat sentosa kah?
Apa pun keadaannya, semoga yang punya tetep dipertahankan tingkat kemenawanannya ya. *eh?*

Semester ini saya kembali merasakan sebuah keajaiban.
Bukan. Sejujurnya ini tidak bermaksud untuk pamer, sombong, angkuh, dan tinggi hati.
Tapi kalau kalian merasa seperti itu ya sudah, aku bisa apa?

Momen melihat nilai di Siakad atau Sistem Akademik merupakan momen yang paling mendebarkan dan paling menyengsarakan untuk mahasiswa di kampus saya.
Hal ini disebabkan oleh sistem Siakad yang masih sering 'ngambek' jika diakses banyak orang.
Karena telah mengalami hal itu selama 5 semester, akhirnya saya pun merasa tidak antusias untuk melihatnya.

Dari beberapa minggu yang lalu, teman-teman saya sudah berhasil mengetahui Indeks Prestasinya masing-masing.
Rata-rata IP semester ini mengalami peningkatan dibanding semester sebelumnya.
Saya tidak berani berekspektasi tinggi mengingat badai ujian yang tidak dapat saya lalui dengan baik.
Ujian Program Linear yang berakhir dengan air mata, ujian Interaksi Belajar Mengajar yang kurang maksimal karena kendala bahasa, ujian Geometri Lukis yang hasilnya di luar perkiraan, ujian Analisis Variabel Kompleks yang membingungkan, dsb.
Bahkan saya pun ingin menangis sewaktu membuat prediksi IP saya.

Sumber: KLIK

Namun ketika saya melihat hasil semester ini, sungguh saya tidak percaya.
Sebuah angka yang sangat indah, dan mungkin yang terbaik yang pernah saya capai selama ini.
Mungkin tidak sefantastis angka teman saya yang lain, tapi ini cukup membuat saya senang dengan pencapaian yang ada.
Alhamdulillah. Ada peningkatan.

Saya mendapatkan nilai B untuk mata kuliah Program Linear.
Sangat jauh dari ekspektasi seorang mahasiswi yang menangis sesenggukan dan kehilangan harapan ketika selesai ujian.
Sekali lagi, Alhamdulillah.

Satu hal lagi yang membuat saya tercengang adalah Interaksi Belajar Mengajar.
Untuk yang mengikuti blog saya, mungkin kalian ingat dengan mata kuliah ini.
Mata kuliah yang menjadikan saya sebagai seorang artis yang berperan sebagai guru di kelas.
Pada saat ujian, saya merasa tidak maksimal karena kendala bahasa.
Tapi ternyata, dosen saya yang baik hatinya memberikan saya nilai A untuk mata kuliah ini.
Subhanallah.

Untuk mata kuliah IBM, hanya ada 5 orang yang mendapatkan nilai A di kelas saya.
Sungguh bangga mengetahui bahwa salah satunya adalah milik saya. ^^
Alhamdulillah.


Pun begitu dengan Analisis Variabel Kompleks.
Sebuah kejutan ketika saya mengetahui sang dosen meletakkan nilai B dengan manisnya di KHS saya.
Padahal saya tidak berani berekspektasi tinggi untuk mata kuliah analisis.

Mungkin benar kata orang, saat kamu sudah berusaha, biarkan tangan Allah SWT yang bekerja.
Pasrahkan semua, berdoa, tapi jangan mengatur.
Karena Allah SWT tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya.

Terkadang, kita perlu hidup seperti di dalam drama.
Berakting seolah kita lebih kuat dari biasanya, lebih tangguh dari biasanya, dan lebih ingin maju dari biasanya.
Tidak lebih cengeng, tidak lebih manja, dan juga tidak lebih lemah.
Dan senatiasa percaya bahwa setiap drama pasti akan berakhir bahagia.
Pasti. Kalau tidak bahagia?
Ya berarti belum berakhir.

Setiap orang memiliki jalannya masing-masing.
Tidak usah risau jika jalanmu lebih berliku dan penuh hambatan.
Tetap berjalan, dan terus berakting bahwa kamu lebih kuat dari biasanya.

Inilah yang orang-orang pernah katakan pada saya.

Salam kece,






Jul 1, 2013

Melihat Transportasi Masa Depan dari Sekarang


Dear Jenderal..

Setelah hiatus selama kurang lebih 5 tahun, akhirnya proyek pembangunan monorel di Jakarta dilanjutkan. Proyek ini digadang-gadang sebagai salah satu solusi kemacetan di ibukota yang belum berhasil diurai. Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, menargetkan pembangunan monorel ini akan selesai pada tahun 2016.

*Tarik napas dalam-dalam*

Tidak mudah ternyata membiasakan diri menulis dengan bahasa yang baik. Tapi saya ingin mulai membiasakan hal tersebut. Terasa asing karena belum terbiasa mungkin.

Baiklah, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang perkenalan saya dengan transportasi masa depan yang akan segera ada di ibukota, monorel.
Monorel adalah sebuah metro atau rel dengan jalur yang terdiri dari rel tunggal, berlainan dengan rel tradisional yang memiliki dua rel paralel dan dengan sendirinya, kereta lebih lebar daripada relnya. Biasanya rel terbuat dari beton dan roda keretanya terbuat dari karet, sehingga tidak sebising kereta konvensional. (sumber: Wikipedia)

Perkenalan dengan alat transportasi baru ini terjadi di acara Pameran Monorel Jakarta atau Monorail Exhibition yang berlangsung di Monumen Nasional (Monas). Pameran tersebut dibuka untuk umum sejak 23 Juni-14 Juli 2013 pada pukul 11.00-21.00 WIB tanpa dipungut biaya.

Prototype Monorel yang ada di pameran

Di sana kita dapat merasakan sensasi berada di dalam gerbong monorel yang menurut saya tidak jauh berbeda dengan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line. Kelak dalam satu buah monorel terdapat 6 gerbong yang masing-masing mampu menampung 200 orang penumpang.

Gerbong monorel

Sistem pembelian tiket yang tampilkan pada pameran tersebut menggunakan sebuah alat otomatis. Penumpang hanya perlu memasukkan uang, menekan pilihan yang tersedia pada layar, kemudian tiket akan keluar dengan sendirinya. Sejujurnya saya kurang suka dengan sistem seperti ini. Sama seperti Anjungan Setor Tunai yang tersedia pada bank, hal ini bisa membuat keberadaan manusia tergantikan oleh mesin. Bagaimana menurut kalian?
Ticketing System

Singgasana Masinis






Miniatur Monorel
Ini Monas. M-O-N-A-S.
Monorel Dilanjutkan!

Kini semakin banyak alternatif transportasi umum yang ditawarkan untuk mengurai kemacetan. Namun semua itu tidak ada artinya jika para penghuninya enggan beralih menggunakan transportasi umum. Banyaknya alternatif transportasi umum pun harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan agar masyarakat punya alasan untuk meninggalkan kendaraan pribadinya.

Sekian dari saya.
Salam kece,








*Gimana? Udah cocok jadi jurnalis belom?*
posted from Bloggeroid