mengajar

Showing posts with label mengajar. Show all posts
Showing posts with label mengajar. Show all posts

May 1, 2017

Hikmah Di Balik Batalnya Pengunduran Diri


Assalamualaikum

HOLAAAAAAAA!!
Kali ini, mari kita nulis dengan bebas. Lupakan aturan kalau nulis itu harus ini, harus itu, kalo nanti begini, kalo nanti begitu. Percayalah, semua itu hanya pencitraan supaya dibilang udah dewasa. Hahahahaaaaah -__-


Oke, sekarang mau cerita sesuatu.
Dari judulnya aja kan udah kayak judul majalah Hidayah gitu kan. Berarti cerita kali ini bakal sangat menakjubkan. Menggetarkan jiwa raga. Menggemparkan dunia. Mengguncang hati para tuna asmara. Menghebohkan ibu-ibu sosialita. *Apaan sih -__-*


Jadi gini...

IBUUU, BAPAAAK, AKU JUARAAA!
AKU JUARAAAA!!
AKU JUARAAAAAAAAA!!!


Awal bulan April, tetiba ditunjuk untuk jadi perwakilan untuk lomba The Best Teacher Competition yang diadain yayasan untuk seluruh cabang. Dari sekolah ngirim 4 guru, untuk ikut lomba pengembangan program, RPP, media pembelajaran, sama mendongeng. Entah ada angin apa, tetiba saya ditunjuk untuk jadi perwakilan lomba media pembelajaran. Mungkin karena saya keren..


Tapi ternyata orang keren juga bisa kebingungan nyari ide loh. Beneran deh. Karena waktunya juga mepet, dan dikasih taunya dadakan, ditambah KBM juga masih terus jalan, akhirnya stuck lah ndak tau mau bikin media apa. Alhamdulillah, di sekolah masih dikelilingin sama orang-orang baik yang bantu nyemangatin dan minta traktiran kalo nanti menang. Mereka bilang pake media yang udah pernah dipake aja, itu yang ada di kelas 4 kan banyak.


Akhirnya, setelah memutuskan mau bikin media apa, mulai lah ribet bikin karya tulis. Karena di proposalnya ditulis kalo media pembelajaran harus bikin karya tulisnya juga. Seketika inget masa-masa nulis skripsi deh. Waktu baca jurnal, nulis latar belakang, bikin teori, footnote, daftar pustaka,  kejar-kejar dosen.


Kamis, 13 April 2017 berempat jalan ke Ketapang buat lomba. Horeeee bebas tugas sehari! Pas presentasi berasa kayak maju sidang skripsi lagi. Deg-degan. Ditambah lagi pengujinya adalah ustadz yang kerjanya ngeledekin dari jaman pelatihan dulu. Habislah sudah.




Alhamdulillah. Allah itu Maha Baik. Kata orang sih, sabar itu emang pahit, tapi buahnya manis. Coba kalo kemaren jadi resign kan, mana bisa jadi juara. Harus berterima kasih nih sama orang tua murid yang udah nahan biar ndak resign. Berarti harus terima kasih juga sama yang udah bikin pengen resign.
Hei kamu makasih ya!


Tahun kedua ini bener-bener disuruh belajar banyak sama Allah. Satu tahun yang luar biasa. Dikelilingin sama anak-anak super kreatif yang setiap hari ada aja yang nangis, berdarah, dan marahan, orang tua murid yang baik-baik dan perhatian, serta teman-teman yang menguatkan walaupun tembok pertahanan berkali-kali runtuh. Entah akan ada tahun ketiga dan seterusnya atau ndak...


Mengajar itu harus sepenuh hati, bukan sepenuh gaji.


Wassalamualaikum


Feb 6, 2017

Keputusan Besar


Assalamualaikum

Tahun 2017 diawali dengan sebuah kejadian yang cukup drama.
Dimana pada akhirnya surat keputusan untuk resign melayang, sekaligus kembali pulang.

HA? RESIGN?

Iya. Resign.

Setelah melalui pemikiran yang panjang selama berbulan-bulan, akhirnya memberanikan diri untuk nulis surat resign. Bukan, bukan ndak mau bersabar. Tapi ketika tempat kerja sudah ndak lagi menjadi tempat belajar yang baik, dan cenderung malah merusak, mungkin mengundurkan diri adalah cara yang boleh diambil.


Kenapa boleh?


Terusin aja bacanya, ya. Nanti juga tau jawabannya.



Sejujurnya, semester lalu terasa begitu berat. Tahun kedua dengan tantangan berkali-kali lipat. Cobaan rasanya dateng dari segala penjuru. Bahkan udah pengen nyerah dari awal semester.

Tapi mungkin bener kata salah seorang temen kalau 'setiap kita pasti punya masa'. Ya kalau masanya belum habis, mau bagaimana pun ya belum bisa berakhir. Takdir. Takdir yang membawa saya ke tempat ini. Takdir pula yang menahan saya untuk sampai di semester akhir.

Menjelang akhir semester, rasanya bener-bener udah ndak karuan. Lelah dan marah bersekutu membuat kata sabar lupa dari ingatan. Sampai akhirnya, surat resign pun melayang ke ruang pimpinan.

Saya ndak akan cerita secara detil permasalahannya apa. Tapi yang pasti, selama satu semeter kemarin, ada sebuah kedzoliman yang terus menerus dibiarkan hingga akhirnya merugikan suatu pihak. Berat yes bahasanya? Jadi berasa tua... Hiks.

Banyak yang menyayangkan keputusan itu sih, dan beberapa diantaranya berusaha untuk menahan. Tapi rasanya tuh kayak udah capek banget. Capek hati, capek fisik. Pengen rehat. Akhirnya, setelah pembagian rapor semester 1, saya resmi mengundurkan diri.






SELESAI.








Beberapa minggu libur dari aktivitas sekolah yang seharusnya belum libur itu rasanya bahagia banget. Tenang. Walaupun kadang suka kangen sama anak-anak sih. Terus kepikiran pengen balik lagi, terus tetiba wakasek kirim pesan suruh dateng lagi ke sekolah hari Senin, terus jadi galau, terus jadi uring-uringan sendiri. Biar gimana pun ndak mudah untuk cari ladang amal lain jaman sekarang.

Tepat pada akhir libur semester 1, hari Minggu, saya izin pamit di grup kelas karena sebelumnya memang belum pamitan. Ya, akhirnya selesai sudah semuanya.

Hari pertama sekolah dapet laporan kalau anak-anak kelas 4 pada nangis berjamaah karena ditinggal wali kelasnya. Beberapa anak kirim pesan kalau kangen suara wali kelasnya yang suka nyanyi di kelas. Sepi katanya. Meleleh lah air mata gegara baca pesan kayak gitu. Ternyata ada juga yang kangen suara cempreng ini. Hiks.

Hari kedua sekolah, pagi-pagi wali murid telepon. Ngobrol panjang lebar yang intinya minta untuk berpikir ulang, sembari mohon untuk tetap tinggal. Sedih lagi, nangis lagi. Dan di hari yang sama, wakasek minta untuk besok datang lagi ke sekolah.

Hari ketiga sekolah, akhirnya memberanikan diri untuk kembali datang ke sekolah. Bukan, bukan untuk ngajar. Tapi untuk memenuhi panggilan wakasek. Ke sekolah, diliat anak-anak, heboh lah mereka. Semua ngumpul di ruang guru. Ada yang sibuk nangis, ada yang sibuk meluk. Jadi berasa keren.

Dan pada akhirnya saya kembali lagi ke sini, setelah melakukan diplomasi, negosiasi, dan tausiyah yang panjang dan penuh air mata. Terkadang ada hal yang harus diabaikan. Ada hal yang tidak perlu dipikirkan. Fokus aja sama tujuan.

Siapa yang bakal jamin kalau di tempat yang lain ndak ada masalah yang sama kayak di sini. Di setiap tempat pasti ada masalahnya masing-masing. Ada dua pilihan sikap yang bisa kita ambil, bersabar atau tinggalkan. Allah menjanjikan pahala yang banyak untuk orang-orang yang mampu bersabar, kan?



!لا تجعل البشر مرآة لأخلاقك، تسيء إن أساءوا، وتحسن إن أحسنوا، كن مصدر ضوء ولا تكن انعكاسًا 
"Jangan jadikan orang lain sebagai cermin akhlakmu. Kau berperilaku buruk seiring buruknya akhlak mereka. Kau berperilaku baik saat baik akhlak mereka. Jadilah sumber cahaya, bukan pantulannya!"



Wassalamualaikum


Oct 7, 2016

Bahasa Arab


Assalamualaikum


Mereka mengatakan: Orang miskin adalah yang tidak mengetahui bahasa Inggris, karena ia akan mendapatkan kesulitan dalam memahami perkataan manusia.

Aku mengatakan: Orang miskin adalah yang tidak mengetahui bahasa Arab, karena ia tidak akan mendapatkan kesulitan dalam memahami perkataan Tuhan manusia.


Di hari terakhir anak-anak ujian tengah semester, terjadi sebuah peristiwa yang berhasil mencederai hati siswa dan juga wali kelasnya yang super sensitif nan melankolis.

Ujian jam kedua adalah bahasa Arab. Dari awal soal dibagikan, kelas langsung rame. Katanya soalnya susah. Sang wali kelas yang notabene cuma ngerti shobahul khoir, shobahun nur, sama ahlan wa sahlan langsung angkat tangan dan milih jaga lilin di bagian belakang kelas. Kelas pun diambil alih sama partnernya yang memang produk pesantren dan merupakan guru bahasa arab tapi nggak ngajar di kelas ini.

10 menit pertama kelas masih agak sedikit kondusif. Sang partner wali kelas berusaha untuk membantu anak-anak memahami soalnya. Tapi setelah itu...
"MISS INI KITA KAN BELUM BELAJAR."
FYI, dari kisi-kisi yang dibagikan ke anak-anak, ujiannya bab 1 sampe bab 3. Sedangkan yang baru dipelajari cuma bab 1 dan beberapa lembar bab 2. Wajar sih kalo anak-anak protes. Ibarat mau perang, tapi belum punya senjata kan?

Beberapa anak nyamperin wali kelasnya yang lagi duduk di belakang sambil masang muka melas minta dibantuin. Beberapa ada yang pura-pura ke toilet padahal mau nyariin guru Arabicnya buat melakukan aksi protes mogok ujian. Dan ada satu anak laki-laki yang tetiba nangis di tempat duduknya. Pas ditanya kenapa, nggak mau jawab. Disuruh lanjut ngerjain, nggak mau. Pas udah agak sedikit tenang baru deh dia bilang,
"Aku nggak bisa ngerjain, Miss. Soalnya susah banget."
Padahal anak ini nggak pernah nangis di kelas, anaknya dewasa dan bisa diandelin, ganteng pinter juga.

Di saat kelas udah bener-bener nggak karuan, salah satu anak ada yang nyeletuk,
"Aku benci pelajaran Arabic."
Daaaaan......
Seketika terjadilah badai besar yang disertai angin puting beliung.

"HEH KAMU JANGAN NGOMONG KAYAK GITU! KAMU HARUS BELAJAR BAHASA ARAB. NANTI DI SURGA ITU PAKENYA BAHASA ARAB. DI DALAM KUBUR DITANYA MALAIKAT JUGA PAKE BAHASA ARAB. BAHASA INGGRIS SAMA BAHASA INDONESIA YANG KAMU PAKE SEHARI-HARI INI NGGAK BAKAL KEPAKE DI SURGA! MAKANYA NANTI ABIS LULUS SD LANGSUNG MASUK PESANTREN BIAR JAGO BAHASA ARABNYA."
Ya, kurang lebih begitu.

Bagai petir di siang bolong, anak-anak pada bengong. Wali kelasnya juga. Entah terlanjur baper atau emang ngomongnya sinis, tapi kalimat itu berhasil bikin hati berasa disayat-sayat. Pedih. Seketika langsung muncul banyak tanda tanya di kepala sang wali kelas yang jauh dari kata pinter ini.


Apa iya di surga pakenya bahasa Arab?
Kalo nggak bisa bahasa Arab bisa masuk surga nggak ya?
Terus yang udah bisa bahasa Arab yakin banget bisa masuk surga gitu?
Apa yang belum belajar bahasa Arab itu hina?
Apa belajar ilmu selain bahasa Arab itu sia-sia?
dan masih banyak pertanyaan lain yang muter aja di kepala tapi belum berani nanya ke ustadz beraninya nanya google.


Seketika sang wali kelas jadi sedih, kemudian nangis.
Sedih karena nggak bisa bahasa Arab.
Sedih karena cuma ketemu bahasa Arab waktu di TPA jaman dahulu kala.
Dia itu cuma anak pinggiran kota yang nggak paham agama.
Anak cupu yang masih belajar mencintai Tuhannya.
Dari keluarga sederhana yang cuma tau kalo masuk sekolah negeri itu hebat, dan sekolah swasta itu nyusahin orang tua.
Anak yang nggak bisa apa-apa, tapi dititipin Allah amanah yang luar biasa.
Nggak pantes banget rasanya.


Wassalamualaikum
Dari yang masih dan akan terus belajar,


Jul 23, 2016

Tahun Baru, Kelas Baru


Assalamualaikum

Bagi kami para guru, dalam setahun ada tiga kali pergantian tahun. Pertama, tahun baru Hijriah. Kedua, tahun baru Masehi. Ketiga, tahun ajaran baru. Setiap pergantian tahun selalu diiringi dengan hari libur dan rasa bahagia yang teramat sangat dari seluruh lapisan masyarakat. Hasik. Mau nulis apaan sih ini nggak jelas banget -_-

Intinya, liburan kini sudah berakhir.
Huuuuuuu.....



Minggu lalu, hari pertama masuk sekolah terasa meriah banget. Orang tua berlomba untuk nganterin anaknya ke sekolah, baik itu inisiatif pribadi, maupun perintah bapak Menteri. Heran deh, masa sayang sama anak aja kudu nunggu perintah Menteri dulu.

Di tahun ajaran yang baru ini alhamdulillah kembali dikasih kepercayaan untuk jadi ibu tiri yang baik hati untuk anak-anak kelas 4, dengan jumlah anak yang jauh lebih banyak dari kelas sebelumnya.
Subhanallah. Makin besar tanggung jawabnya ya.

Awal-awal tahun baru, katanya kasek dan wakasek sempet mau nyuruh saya pegang kelas bawah. Katanya personal approach saya ke anak-anak kecil bagus, dan baiknya ada di kelas bawah. Tapi jujur saya belum yakin. Saya suka anak-anak, tapi kayaknya saya belum siap. Stok sabarnya kurang banyak, Tapi suatu saat nanti, mungkin saya mau coba.

Sejujurnya, saya pengen pegang kelas atas (kelas 6). Tapi nggak mungkin, karena saya wali kelas sebelumnya. Pegang kelas 6 itu bahagia banget. Anaknya nurut-nurut dan mau diajak belajar. Mungkin ada beberapa yang lagi mengalami pubertas dan sering bikin jengkel, tapi sungguh dibanding kelas lain, kelas 6 adalah tempat istirahat yang nyaman karena ngajar nggak perlu banting stir ke dunia tarik menarik suara komandan upacara. Dan suatu kebahagiaan teramat luar biasa ketika beberapa orang tua bilang gini,
"Miss nggak bisa ya wali kelas 6-nya Miss aja?"

Entah itu basa basi atau bukan, tapi kalimat itu bikin hati gurunya yang notabene baru banget lulus kuliah dan mencoba peruntungan jadi wali kelas ini jadi berbunga-bunga. Serius. Rasanya kayak gimnaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa gitu.

Tahun ini terjadi badai guru baru. Tapi tetep saya yang paling muda hahahaha. Banyak guru yang keren-keren dan udah berpengalaman. Da aku mah apa atuh cuma serpihan biskuit Khong Guan di dalem kaleng yang udah diganti rengginang. Masih harus banyak belajar.

Tahun baru, kelas baru, amanah baru. Ada sedikit ketakutan, tapi saya rasa itu hal yang wajar. Doakan supaya saya bisa memberikan yang terbaik untuk amanah baru saya ya. Mari kita mulai tahun ajaran baru ini dengan bersama-sama membaca basmalah.

Bismillahirrohmanirrohim..


Wassalamualaikum


Jun 30, 2016

Sekolah Menjadi Orang Tua itu Ada


Assalamualaikum


Our work should make us closer to goodness
make us closer to Allah
make us closer to Jannah


Banyak orang bilang, katanya sekolah untuk menjadi orang tua itu nggak ada. Saya nggak setuju.

Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Tempatnya ya di sekolah. Yang jadi gurunya itu anak-anak. Bisa praktek langsung, nggak cuma mengandalkan teori-teori yang ada di buku.

Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Kita nggak perlu bayar SPP, malah kita yang dibayar tiap bulan. Asik, kan?

Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Kurang lebih udah setahun saya menimba ilmu di sana. Tiap hari ketemu sama anak-anak yang beragam kelakuannya dari pagi sampe sore hari. Konsep fullday school emang bikin anak-anak lebih banyak ketemu guru di sekolah dibanding sama orang tuanya sendiri di rumah.

Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Gajinya mungkin nggak seberapa, gengsinya apa lagi, risikonya lumayan besar karena yang dihadapi makhluk Tuhan yang super dinamis yang masih berkembang, tapi Insya Allah berpahala dan bikin keliatan awet muda.

Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Tiap hari tugasnya beda-beda dan nggak bisa diduga. Dimulai dari ngurusin anak yang berantem karena hal kecil, belajar pertolongan pertama untuk anak-anak yang sakit, nanganin anak-anak yang kelewat cepet puber, bikin anak mau belajar, dsb. Ditambah setumpuk PR tertulis maupun tak tertulis di setiap pertemuan.

Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Tempat dimana kita dipaksa untuk terus belajar. Bukan sekadar belajar pelajaran yang kita ajarin, tapi juga belajar segala macam hal. Terus belajar mengapa dan bagaimananya anak-anak walaupun diri sendiri belum punya anak.


Mengajar dan mendidik anak itu bukan perkara sederhana. Itulah yang mungkin harus selalu diingat oleh para orang tua sebelum ia berkoar-koar mengkritik institusi pendidikan apalagi jika tanpa disertai solusi.  Mengajar dan mendidik anak itu bukan perkara sederhana yang jelas tak mampu terbayar seimbang dengan gaji para guru yang sangat sederhana kecuali dengan mengiringinya dengan doa tulus untuk keberkahan hidupnya dan keturunannya. (5 Guru Kecilku part 2, h.92)


Terima kasih ayah bunda yang sudah mengijinkan peri-peri kecilnya menjadi guru-guru kami di sekolah untuk menjadi orang tua.


Wassalamualaikum
Yang masih terus belajar,