Jul 23, 2016

Tahun Baru, Kelas Baru


Assalamualaikum

Bagi kami para guru, dalam setahun ada tiga kali pergantian tahun. Pertama, tahun baru Hijriah. Kedua, tahun baru Masehi. Ketiga, tahun ajaran baru. Setiap pergantian tahun selalu diiringi dengan hari libur dan rasa bahagia yang teramat sangat dari seluruh lapisan masyarakat. Hasik. Mau nulis apaan sih ini nggak jelas banget -_-

Intinya, liburan kini sudah berakhir.
Huuuuuuu.....



Minggu lalu, hari pertama masuk sekolah terasa meriah banget. Orang tua berlomba untuk nganterin anaknya ke sekolah, baik itu inisiatif pribadi, maupun perintah bapak Menteri. Heran deh, masa sayang sama anak aja kudu nunggu perintah Menteri dulu.

Di tahun ajaran yang baru ini alhamdulillah kembali dikasih kepercayaan untuk jadi ibu tiri yang baik hati untuk anak-anak kelas 4, dengan jumlah anak yang jauh lebih banyak dari kelas sebelumnya.
Subhanallah. Makin besar tanggung jawabnya ya.

Awal-awal tahun baru, katanya kasek dan wakasek sempet mau nyuruh saya pegang kelas bawah. Katanya personal approach saya ke anak-anak kecil bagus, dan baiknya ada di kelas bawah. Tapi jujur saya belum yakin. Saya suka anak-anak, tapi kayaknya saya belum siap. Stok sabarnya kurang banyak, Tapi suatu saat nanti, mungkin saya mau coba.

Sejujurnya, saya pengen pegang kelas atas (kelas 6). Tapi nggak mungkin, karena saya wali kelas sebelumnya. Pegang kelas 6 itu bahagia banget. Anaknya nurut-nurut dan mau diajak belajar. Mungkin ada beberapa yang lagi mengalami pubertas dan sering bikin jengkel, tapi sungguh dibanding kelas lain, kelas 6 adalah tempat istirahat yang nyaman karena ngajar nggak perlu banting stir ke dunia tarik menarik suara komandan upacara. Dan suatu kebahagiaan teramat luar biasa ketika beberapa orang tua bilang gini,
"Miss nggak bisa ya wali kelas 6-nya Miss aja?"

Entah itu basa basi atau bukan, tapi kalimat itu bikin hati gurunya yang notabene baru banget lulus kuliah dan mencoba peruntungan jadi wali kelas ini jadi berbunga-bunga. Serius. Rasanya kayak gimnaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa gitu.

Tahun ini terjadi badai guru baru. Tapi tetep saya yang paling muda hahahaha. Banyak guru yang keren-keren dan udah berpengalaman. Da aku mah apa atuh cuma serpihan biskuit Khong Guan di dalem kaleng yang udah diganti rengginang. Masih harus banyak belajar.

Tahun baru, kelas baru, amanah baru. Ada sedikit ketakutan, tapi saya rasa itu hal yang wajar. Doakan supaya saya bisa memberikan yang terbaik untuk amanah baru saya ya. Mari kita mulai tahun ajaran baru ini dengan bersama-sama membaca basmalah.

Bismillahirrohmanirrohim..


Wassalamualaikum


Jul 12, 2016

REVIEW: Sabtu Bersama Bapak


Assalamualaikum

Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya, Jakarta: GagasMedia, 278 hlm.


Ini adalah sebuah cerita . Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan..., seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.


Hmm.
Awalnya kirain bakal nangis bombay pas baca buku ini. Nyatanya nggak. Emang ada beberapa part yang bikin sedih, tapi nggak sesedih pas baca cerita sejarah di Museum Lubang Buaya. Serius, itu sedih banget. Perasaan dulu mah pas masih sekolah, kalo ke museum bawaannya ngantuk.

Oke, mulai ngaco.

Buku ini keren. Sederhana, gampang dicerna, dan banyak pesan moralnya. Yaampun ki, setelah cetak ulang 22 kali, kenapa baru baca sih. Ya, setelah 22 kali. Yang punya blog emang gitu orangnya. Sabar sabarin aja..

Sosok pak Gunawan, sang bapak yang sangat inspiratif dan visioner. Walaupun fiktif, tapi ngefans boleh kali ya? Ada juga ibu Itje yang selalu berusaha jadi ibu yang baik, dan nggak mau bikin anak-anaknya yang katanya lebay itu khawatir. Ada Satya si suami yang tadinya tukang marah-marah sampe istri dan anaknya takut, terus belajar untuk jadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anaknya. Istrinya, Rissa, yang pinter ngurus anak-anak dan suaminya. Dan tokoh paling sering bikin ketawa sendiri pas baca buku ini adalah Cakra alias Saka, single yang udah mapan tapi punya prestasi 4 kali ditolak dari 3 kali nembak perempuan. Ayu, perempuan yang katanya sempurna di mata Caka, tapi keburu dimodusin Salman, si playboy kantor.

Meskipun begitu, ada beberapa bagian yang saya kurang suka dari buku ini.
Pertama, ada beberapa bagian yang agak sedikit terlalu dewasa.
Kedua, masalah prinsipil aja sih. Saya kurang setuju dengan penjabaran dan penerapan dari kalimat "perhiasan dunia dan akhirat" yang ada dimaksud di buku ini.
Selebihnya, buku ini keren banget.

JIka ingin menilai seseorang, jangan nilai dia dari bagaimana dia berinteraksi dengan kita, karena itu bisa saja tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang. (hal. 35-36)

Dalam hidup kalian mungkin akan datang beberapa orang berkata, "Prestasi akademis itu gak penting. Yang penting attitude." ..... Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk. Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain. (hal. 51)

Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk cari kerja yang lain. Atau paling buruk, resign dan menganggur. Intinya, selalu ada pilihan untuk tidak berurusan dengan orang buruk. Anak? Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orangtua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orangtua yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya. (hal. 60)

... bahwa meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri, bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan. (hal. 80)

Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka. Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri. Ada orang yang berguna untuk diri diri. Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya. Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain. (hal. 86)

Menjadi panutan bukan tugas anak sulung -- kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua -- untuk semua anak. (hal.106)

Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai. Tidak datang dari barang yang kita punya. Di keluarga kita, nilai kita tidak datang dari barang. (hal. 119)

Harga dari diri kita, datang dari akhlak kita. Anak yang jujur. Anak yang baik. Anak yang berani bilang 'Saya benar' ketika benar. Anak yang berani bilang 'Maaf' ketika salah. Anak yang berguna bagi dirinya, dan orang lain. Harga dari diri kamu datang dari dalam hati kamu dan berdampak ke orang luar. Bukan dari barang/orang luar, berdampak ke dalam hati. (hal. 120)

Kang, ketika kalian udah gede akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar, lebih kuat dari kalian. Dan akan ada masanya, kalian gak punya pilihan lain selain melawan, dan menang. Akan datang juga Kang, masanya semua orang tidak akan membiarkan kalian menang. Jadi, kalian harus pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus bisa berdiri dan menang dengan kaki-kaki sendiri. (hal. 130-131)

Carilah pasangan yang dapat menjadi perhiasan dunia dan akhirat. (hal. 180)

Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain. (hal. 217)

Katika seorang laki-laki dan perempuan menikah, laki-laki itu meminta banyak dari perempuan.
Saya pilih kamu. Tolong pilih saya, untuk menghabiskan sisa hidup kamu. Dan saya akan menghabiskan sisa hidup saya bersama kamu. Percayakan hidup kamu pada saya. Dan saya penuhi tugas saya padamu, nafkah lahir dan batin. Pindahkan baktimu. Tidak lagi baktimu kepada orangtuamu. Baktimu sekarang pada saya. (hal. 220-221)

Pemimpin keluarga macam apa yang minta istrinya percaya sama suami, tapi dia sendiri menyembunyikan nafkahnya. Nafkah suami itu hak keluarga, lho. Di keluarga saya, saat seseorang menjadi kepala keluarga, dia bertanggung jawab lahir batin akan kecukupan dan kebahagiaan keluarga. Sekarang dan nanti. (hal. 225)

Oke, udah segitu aja.


Udah, ki?


Iya udah.


INI MAH BUKAN REVIEW. INI MAH KALO BISA MALAH LO TULIS ULANG BUKUNYA DI SINI. -___-


Kenapa sih? Kenapaaa? Salahku apaaah?


Oiya, btw buku ini udah difilmin. Filmnya sebagus bukunya nggak sih? Ah paling sebentar lagi diputer di tipi, yak. *PLAK!*


Wassalamualaikum


Jun 30, 2016

Setelah 7 Tahun..


ASSALAMUALAIKUM
DEAR JENDERAL..

Akhirnya setelah 7 tahun jadi bahan tumpahan unek-uneknya si bos yang selalu ngaku cantik ini, akhirnya aku bisa ngerasain rasanya jadi penulis.

Bos ijin pake blognya ya bos!

7 tahun bukan waktu yang sebentar ya. Kalau bisa nangis mungkin aku udah nangis. Biar aja laptopnya si bos rusak. Emang nggak capek apa, bertahun-tahun dengerin cerita si pemilik blog yang kadang aneh, ngeselin, tapi kadang sedih juga sih. Tapi yaudah deh untung aku kan baik kan orangnya, jadinya udah ditahan aja.

Sedihnya, di umur 7 tahun ini aku mulai ditelantarin sama si bos yang sok keren itu. Dia mulai sibuk sama dunianya. Aku udah nggak diurusin lagi. Aku juga nggak tau, apa masih ada yang sering main kesini untuk nengokin aku.

7 tahun udah aku temenan sama perubahan. Dari si bos masih pake seragam putih abu-babu, sampe sekarang si bos katanya udah jadi guru. Dulu tuh si bos apa-apa dishare ke aku. Sekarang keliatannya si bos lebih mikir buat ngeshare apa-apa ke aku deh.

Dulu bos suka banget mainan HTML buat dandanin aku. Sekarang apalah aku ini, macem mantan pacar yang udah nggak pantes diperhatiin lagi. Hiks. Aku cedih.

Tapi nggak papa. Bos, apapun yang kamu lakukan, aku akan tetap selalu mendukungmu, jika itu berada di jalan yang benar dan nggak nyasar-nyasar kayak jaman dahulu kala.

Aku beserta segenap kru yang bertugas mengucapkan selamat hari jadi untuk aku sendiri yang ke 7, karena mungkin si bos lupa lagi kalo bulan ini di tanggal 25 blognya ulang taun yang ke 7. Yaudah aku nggak papa bos.


 Aku nggak papa.



Aku nggak papa.



Aku nggak apa-apa.




WASSALAMUALAIKUM!
SALAM KECE,

BLOGNYA OTRL.

Sekolah Menjadi Orang Tua itu Ada


Assalamualaikum


Our work should make us closer to goodness
make us closer to Allah
make us closer to Jannah


Banyak orang bilang, katanya sekolah untuk menjadi orang tua itu nggak ada. Saya nggak setuju.

Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Tempatnya ya di sekolah. Yang jadi gurunya itu anak-anak. Bisa praktek langsung, nggak cuma mengandalkan teori-teori yang ada di buku.

Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Kita nggak perlu bayar SPP, malah kita yang dibayar tiap bulan. Asik, kan?

Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Kurang lebih udah setahun saya menimba ilmu di sana. Tiap hari ketemu sama anak-anak yang beragam kelakuannya dari pagi sampe sore hari. Konsep fullday school emang bikin anak-anak lebih banyak ketemu guru di sekolah dibanding sama orang tuanya sendiri di rumah.

Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Gajinya mungkin nggak seberapa, gengsinya apa lagi, risikonya lumayan besar karena yang dihadapi makhluk Tuhan yang super dinamis yang masih berkembang, tapi Insya Allah berpahala dan bikin keliatan awet muda.

Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Tiap hari tugasnya beda-beda dan nggak bisa diduga. Dimulai dari ngurusin anak yang berantem karena hal kecil, belajar pertolongan pertama untuk anak-anak yang sakit, nanganin anak-anak yang kelewat cepet puber, bikin anak mau belajar, dsb. Ditambah setumpuk PR tertulis maupun tak tertulis di setiap pertemuan.

Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Tempat dimana kita dipaksa untuk terus belajar. Bukan sekadar belajar pelajaran yang kita ajarin, tapi juga belajar segala macam hal. Terus belajar mengapa dan bagaimananya anak-anak walaupun diri sendiri belum punya anak.


Mengajar dan mendidik anak itu bukan perkara sederhana. Itulah yang mungkin harus selalu diingat oleh para orang tua sebelum ia berkoar-koar mengkritik institusi pendidikan apalagi jika tanpa disertai solusi.  Mengajar dan mendidik anak itu bukan perkara sederhana yang jelas tak mampu terbayar seimbang dengan gaji para guru yang sangat sederhana kecuali dengan mengiringinya dengan doa tulus untuk keberkahan hidupnya dan keturunannya. (5 Guru Kecilku part 2, h.92)


Terima kasih ayah bunda yang sudah mengijinkan peri-peri kecilnya menjadi guru-guru kami di sekolah untuk menjadi orang tua.


Wassalamualaikum
Yang masih terus belajar,


Jun 21, 2016

Jadi Santri 4 Hari


Assalamualaikum

Yak, setelah satu purnama, akhirnya baru posting lagi. Tolong jangan protes. Nyatanya sekarang emang ndak memungkinkan untuk posting sering-sering. Hiks. Maafkan aku, ya..

Alhamdulillah tahun ini masih bisa ketemu sama bulan Ramadhan lagi ya.


Iya.



krik.
(nggak tau mau nulis apa lagi -__-)




Minggu pertama Ramadhan kali ini udah full banget sama kegiatan. Dimulai dari jagain kakak di rumah sakit sampe pelatihan yang dikasih taunya mendadak banget. Jadi setiap tahun emang ada pelatihan untuk SDM baru, dan itu nginep di pesantren selama beberapa hari. Saya harusnya ikut tahun lalu, tapi karena dikasih taunya dadakan (dan juga belum jelas statusnya diterima atau nggak) akhirnya nggak ikut deh. Selain itu karena pelatihannya di tempat yang baru pertama kali banget didenger, yaitu KETAPANG, yang kemudian langsung tanya mbah google ketapang itu dimana dan ternyata tulisannya KALIMANTAN, alhasil lampu merah menyala dengan terang deh dari bapak.



DAY 1: Selasa, 7 Juni 2016

Dengan diiringi restu kedua orang tua, saya bersama teman-teman berangkat menuju TKP dengan menggunakan aplikasi mobil jemputan online. Dari 9 orang yang berangkat, 3 orang berangkat duluan dan 6 orang menyusul kemudian. Luar biasanya yang berangkat belakangan malah nyampe duluan. Yang berangkat duluan ternyata berkelana mengelilingi kota Tangerang dulu gegara semuanya ketiduran di mobil, kecuali sang driver, dan GPS drivernya mati kemudian nyasar karena pada nggak tau jalan.

Silakan ditebak, saya ada di mobil pertama atau kedua.


  • Intro: SELAYANG PANDANG DAQU (Ust. Ahmad Jameel)
Pertama-tama diceritain tentang sejarah terbentuknya yayasan ini beserta mimpi-mimpi besarnya. Yayasan ini awalnya memang diperuntukkan untuk anak-anak yang kurang mampu yang bakal dididik untuk jadi penghafal Al-Quran. Tapi mereka nggak mau menyematkan kata 'YATIM', 'DUAFA', dan lain sebagainya karena katanya berdampak kurang bagus bagi mental anak-anak yang belajar di sana. Salut.

*CMIIW*
Ini adalah gedung pertama DaQu. Namanya al-Ikhlas buliding.
Harapannya biar kayak surah Al-Ikhlas, yang nggak menyebutkan kata ikhlas di dalamnya.

Tapi nggak dijelasin sih kenapa Daqu milih diidentikkan dengan warna merah marun. Kenapa gak pink, kuning, hijau, atau ungu gitu?

Selain itu Ust. Jameel juga ngingetin kita tentang 10 perbuatan yang mendatangkan dosa besar:
  1. Syirik
  2. Ghibah
  3. Kikir
  4. Bohong
  5. Putus silaturahim
  6. Zina
  7. Rezeki haram
  8. Bermasalah sama orang tua
  9. Meninggalkan sholat
  10. Serakah
Nah loooh.. Yuk kita tobat sama-sama! Astaghfirullah...


  • Materi 01: DAQU METHODS (Ust. Saiful Bahri. Lc.)
Daqu method ini amalan harian yang diharapkan menjadi ciri khas semua penduduk Daarul Qur'an.
  1. Sholat tepat waktu ditambah sunnah Qabliyah dan Ba'diyah
  2. Tahajud
  3. Dhuha
  4. Gemar Bersedekah
  5. Puasa sunnah (Senin-Kamis atau puasa Daud)
  6. Membaca, mengaji, mengamalkan dan menghafalkan al-Qur'an
  7. Berdoa. mendoakan, dan minta didoakan

  • Materi 02: LEADERSHIP (Ust. Kupmin Rambe)
Ordinary teacher tells,
Good teacher explains,
Superior techer demontrates,
Great teacher inspires

Entah saya ada di level ordinary atau good, tapi rasanya saya belum sampai ke level superior apalagi great ya. Di materi yang kedua ini banyak ngomongin tentang ilmu pengajaran, salah satunya tentang apa-apa aja yang nggak boleh dilakukan seorang guru ketika di depan kelas.

  • Materi 03: PUBLIC SPEAKING (Ust. Risnaldi Sikumbang)
Di materi yang ketiga ini diajarin langkah-langkah supaya bisa jadi master dan mbakter yang berani ngomong di depan umum. Intinya sih, ya banyak-banyak latihan bicara aja dan libatkan Allah dalam setiap situasi.


DAY 2: Rabu, 8 Juni 2016



Rundown acara di hari kedua lumayan berantakan. Entah karena ada pemateri yang belum dateng atau karena nunggu saya dapet jodoh dulu. *eh?*

  • Materi 04: Pembelajaran Menggunakan IT (Ust. Muchlis)
Berdasar rundown acara yang diberikan, ini sebenernya materi untuk besok, tapi entah kenapa malah muncul ke permukaan hari ini. Karena kurang persiapan, akhirnya materi yang disampaikan jadi kurang maksimal sih menurut saya.

Selain dikasih tau software-software untuk pembelajaran, kita dijuga didemoin cara penggunaan 'share it'. Itu berguna buat presentasi gitu. Yang paling saya inget, ustadznya bilang gini, "Insya Allah sebagian besar software yang ada di lab komputer di sini halal."

Jleb. Seketika pengen tobat.

  • Materi 05: Hypnoservice (Ust. Risnaldi Sikumbang)
Sejujurnya saya agak males pas materi ini. Bukan, bukan karena materinya. Tapi karena pematerinya usil. Waktu pelatihan-pelatihan sebelumnya beliau pernah melakukan suatu hal yang bikin saya jadi terkenal sampe sekarang. -_-

Alhamdulillah pas hari pertama bisa ngumpet di belakang, eh pas hari kedua malah dapet duduk di depan. Kirain beliau lupa sama saya, ternyata masih inget, dan akhirnya jadi bahan ledekan lagi. Heeemmmpppfffhhhttt -_-



Tapi sebenernya beliau orangnya baik kok. Hobinya nyariin saya jodoh. Cuma usilnya itu bikin pengen lari ke kamar, kunci pintu, terus tutupin muka pake bantal. Omongan beliau yang paling saya inget itu ini:
Cari laki-laki yang lebih cerdas dalam hal tauhid untuk mendidik anak-anak kelak.

Oke balik lagi ke materi.
Hypnoservice, merupakan gabungan dari kata hypnosis dan sevice. Intinya kita harus bisa mengeluarkan potensi besar yang ada di dalam alam bawah sadar kita dan harus bisa ngelawan para penghambat sukses, yaitu gelisah, takut, benci diri sendiri, pesimis, dan merasa diri terbatas.

  • Materi 06: Budaya DAQU (Ust. Hendy Irawan)
  1. Budaya spiritual (Sholat, baca al-Qur'an, puasa, dll.)
  2. Tepat waktu
  3. Salam
  4. Berjabat tangan
  5. Sopan
  6. Santun
  7. Sapa
  8. Senyum
  9. Menghargai
  10. Bersih
  11. Kerja keras
  12. Saling memberi
  13. Saling mendoakan
  14. Hormat
  15. Senang belajar

  • Materi 07: Kepesantrenan (Ust. Slamet)
Di bagian ini lebih banyak diceritain tentang serba serbi dunia pesantren dan cara menghafal Al-Qur'an. Karena materi terakhir menjelang adzan maghrib dan kaki udah kesemutan gegera naik turun tangga plus duduk berjam-jam akhirnya konsentrasi pun mulai buyar. Tapi tetep nyatet kok. Semboyan yang masih tetap dipegang teguh dari jaman nenek moyang dulu adalah 'ikatlah ilmu dengan mencatatnya.'

Ya, walaupun berantakan nggak karuan.

Berikut catatannya:
Apapun amanah yang diberikan, membaca dan menghafal al-Qur'an itu nggak boleh ditinggalkan.
Caranya? DIULANGI dan HARUS KONTINYU
Waktunya? Pada pertengahan malam dan pertengahan siang
Pelajari al-Quran dengan sungguh-sungguh lebih dari ilmu apapun.
Orang-orang yang cerdas yang tidak ada al-Qur'an di hatinya maka akan terjadi banyak kerusakan.
Kalau baca al-Qur'an jangan disambi, itu sama aja lagi menduakan Allah. Atasan kita aja gak suka kan kalau lagi meeting malah main hp? Apalagi Allah.
Cerdaskan otak kananmu, maka otak kirimu akan cerdas.


DAY 3: Kamis, 9 Juni 2016




  • Materi 08: Administrasi Mengajar (Ust. Darul Quthni)
Guru adalah arsitek peradaban. Duh jadi inget jaman dulu kalau ditanya cita-citanya mau jadi apa, jawabnya pengen jadi arsitek. Alhamdulillah udah tercapai ya sekarang hahaha. Mungkin ini materi paling malesin sejagat raya. Berasa kuliah banget. Diingetin lagi tentang 4 kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru (kompetensi pedagodik, profesional, kepribadian, dan sosial).

Udah gitu aja.

Iya, udah gitu aja.

  • Materi 09: Am I Smart? (Ust. Kupmin Rambe)
Ini salah satu materi yang paling saya suka. Tentang kecerdasan gitu. Pasti hampir semua orang pernah nanya ke dirinya sendiri, "Am I Smart?". Di kelas yang saya pegang contohnya, ada beberapa anak yang merasa kalau dirinya nggak pinter. Padahal semua orang kan dibekali dengan potensi yang berbeda-beda sama Allah. Nah, di sini kita diingetin lagi beberapa macam kecerdasan yang ada dan diarahkan kemana sebaiknya potensi yang dimiliki.

Ada 8 macem kecerdasan (linguistik, logika matematika, interpersonal, intrapersonal, musikal, visual spasial, kinestetik, dan naturalis), dan merupakan tugas kita bersama untuk bisa mengeksplor dan mengarahkan setiap anak untuk mengerahkan potensi terbaiknya. Karena pada dasarnya semua orang itu pinter.

Asik.



Oke, udah segitu aja materi yang bisa dibagiin.
Sebenernya masih banyak hal yang didapet selama beberapa hari di pondok. Lumayan betah sih di sana, banyak yang ngajinya bagus  tapi apalah daya kami yang keren ini disuruh pulang secara paksa karena di sekolah ada acara mabit bocah-bocah dan harus meninggalkan acara yang harusnya baru kelar hari Jumat malem ba'da tarawih.




DAY 4: Jumat, 10 Juni 2016
Setelah 3 hari ngerasain diurusin sama orang, akhirnya di hari ke 4 ngerasain betapa repotnya ngurusin anak-anak orang. Kalau di pondok bisa bobok nyenyak walaupun mesti harus bolak-balik naik lantai 5-3-2-5-3-5-3-2-5-3-5-3 gitu terus sampe lebaran di gedung yang beda-beda sampe betis kenceng macem atlet, kalau di sekolah mah boro-boro. Hiks.

Baru merem sebentar, tetau ada yang ngobrol lah, pengen pipis lah, laper lah, nggak bisa tidur lah, lari-larian di koridor lah, macem-macem deh alesannya. Sama sekali nggak memungkinkan buat tidur. Heran deh, anak-anak bocah pada kuat banget begadang sampe jam 2 malem. Abis dimarahin, baru pada bisa tidur, eh terus nggak bisa dibangunin buat sahur. -___-

Lagi main game malah pada bobok

Kelakuan anak SD itu lucu-lucu kalau lagi puasa. Ada nih anak kelas 1 yang jam 6 pagi tetau makan kerupuk di kelasnya. Pas ditegur jawabnya, "aku kan belum tau..". Ada juga yang jam 9 lari-lari teriak, "Miss itu si J minum di kelas, Miss! Batal dia puasanya!" terus si J lari-lari juga bilang, "Enggak Miss. Ih dia bohong. Aku nggak batal. Aku cuma pegang botolnya doang."
Entah siapa yang bener.

Ada lagi yang jam 11 ngambek di ruang guru gegara kelaperan, yang seharian tidur gegara nggak kuat, ada yang jam 5 batal karena udah nggak kuat, ada yang 5 menit lagi adzan malah udah minum duluan, lucu-lucu deh kelakuan anak-anaknya.



Oke, sekian postingan amat sangat panjang yang sebenernya telat dipostingnya. Semoga....




Semoga apa ya?
Semoga lekas dapet jodoh. Aamiin..


Wassalamualaikum





May 12, 2016

Kisah Kartu Parkir dan Krisis Kejujuran


Assalamualaikum

HUWAAAAAAH!!!
Pasti kalian pernah kan ngerasa kayak pengen marah tapi nggak bisa marah karena emang harusnya nggak boleh marah-marah?

Oke, belibet.


Jadi gini, tadi pas pulang sekolah kan mampir dulu ngisi bensin, terus abis ngisi bensin tetiba suara hati bilang pengen mampir ke ATM. Yaudah, karena saya orangnya baik hati, saya ikuti kata hati. Mampirlah ke ATM, lalu ngadem-ngadem lucu sambil mijitin tombol ATM siapa tau kalo dipijitin nanti ATMnya luluh terus saldonya tetiba ditambahin gitu kan. Kemudian setelah sadar kalo nambah saldo rekening bukan begitu caranya, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Ya, pulang.

Sekali lagi,
Pulang.

Entah ada apa dengan kata pulang.

Keluar dari tempat ATM dengan lincahnya sambil ngambil kunci motor dari kantong jaket. Tetiba samar-samar terdengar suara 'PLEK!'. Karena suaranya kecil dan gak bisa diulang, akhirnya saya dibiarkan lalu begitu saja.

Tapi tetiba perasaan kayak nggak enak gitu. Ada misteri dibalik 'PLEK!' yang harus diselidiki. Langsung coba tengok belakang, liat bawah, tapi nggak ada apa-apa.
Cuma ada bapak-bapak tukang gas 3 kg yang tadinya duduk, terus tetiba jalan ke arah motor saya lantas naro sesuatu di salah satu selipan gas 3 kg.
Langsung cek kantong jaket, baru deh sadar, KARTU PARKIRANNYA NGGAK ADA!!
Langsung inget-inget, perasaan kartu parkir belom dimasukin ke tas, perasaan tadi masih di kantong, perasaan umur udah mau 24 tapi masih jomblo aja.

Dengan kekuatan bayang-bayang ribetnya ngurus kartu parkir baru dan repotnya nyari parkiran besok pagi, akhirnya saya coba untuk menyusuri lagi jalanan yang baru dilewati dari ruang ATM sampe tempat motor saya diparkir.
Nihil.
Nggak ada apa-apa.
Langsung inget bapak-bapak yang tadi naro sesuatu di balik selipan gas.

Setelah ngintip-ngintip memastikan bahwa biru-biru yang ada di selipan gas itu kartu parkir, saya coba tanya bapaknya,
Pak, itu kartu parkir saya ya? *sambil nunjuk sesuatu yang ada di selipan gas*
Bapaknya kaget.
Saya kaget.
Semesta juga kaget.
Eh, iya kayaknya.
Iya, kayaknya?
JAWABAN MACAM APA COBA.

Bapaknya langsung ngambil barang yang tadi beliau selipin, terus ngasih ke saya. Yang saya butuh itu kartu parkirnya, tapi ternyata ada uang saya juga yang jatuh sebesar Rp20.000. Subhanallah kalo emang itu hak kita, pasti bakal balik lagi walau sepeser pun. Tapi kalo emang bukan hak kita, pasti bakal Allah ambil lagi. Allah itu Maha Adil.

Oke, balik lagi ke bapak-bapak itu.
Sedih aja sih. Bapak itu ngeliat sesuatu jatoh dari kantong saya, tau saya masih ada dan hanya berjarak beberapa langkah dari beliau, beliau liat saya mondar mandir nyari sesuatu, tapi yang dilakukan bukan ngembaliin, malah ngumpetin. Mungkin beliau tertarik dengan selembar kertas hijau dan kartu yang dikira kartu ATM, padahal bukan. Andai beliau jujur dan langsung ngembaliin ke saya, mungkin saya kasih selembar kertasnya. Karena saya butuh kartunya. Sayangnya, menurut beliau selembar kertas dan kartu lebih penting daripada kejujuran.

Tadinya pengen marah. Kesel. Tapi kondisinya saat itu baru pulang sekolah, capek, udah sore, hari Kamis, dan menjelang Maghrib. Yaudah lah, mending pulang. Mungkin jaman sekarang kejujuran itu jadi barang yang mahal.

Sampe rumah langsung cerita ke ibu bapak. Bapak itu terlalu reaktif kalo anaknya kenapa-napa. Lebih-lebih dari pacar. Makanya beruntunglah kalian yang deket sama bapaknya, karena bapak selalu siap pasang badan kalo terjadi apa-apa sama anak gadisnya. Kalo ibu lebih tenang. Ya tipikal bapak ibu pada umumnya sih.
Untung bapak nggak ada di sana. Kalo di sana, abis itu bapak marahin. - Bapak
 Itu bapaknya mau uang 20.000. Padahal kalo dibalikin, adek kasih aja uangnya.  - Ibu

Kepada siapa pun yang baca postingan ini, terutama bapak tukang gas di SPBU deket rumah yang kemungkinan bakal baca postingan ini cuma 0.1%, saya cuma pengen bilang jangan bosen untuk berbuat baik. Rejeki kita itu udah disiapin. Yakin deh. Jemput dengan cara yang baik. #haseeek

Bapak tukang gas, saya udah maafin bapak.
Jangan diulangin ya.

Wassalamualaikum


May 7, 2016

Mengetuk Tiga Kali


A: Kau tau apa yang harus dilakukan tamu jika sudah mengetuk pintu tiga kali namun tak ada jawaban dari dalam?

B: Pulang?

A: Tepat. Kau harus pulang sekarang. Kau sudah mencoba, tapi tetap tak ada jawaban.

B: Aku yakin dia akan keluar menemuiku.

A: Bagaimana jika tidak? Sampai kapan kau akan menunggu di sini? Berhentilah merendahkan dirimu sendiri. Sudah kau ketuk pintu itu tiga kali. Itu sudah cukup.