Assalamualaikum


Mereka mengatakan: Orang miskin adalah yang tidak mengetahui bahasa Inggris, karena ia akan mendapatkan kesulitan dalam memahami perkataan manusia.

Aku mengatakan: Orang miskin adalah yang tidak mengetahui bahasa Arab, karena ia tidak akan mendapatkan kesulitan dalam memahami perkataan Tuhan manusia.


Di hari terakhir anak-anak ujian tengah semester, terjadi sebuah peristiwa yang berhasil mencederai hati siswa dan juga wali kelasnya yang super sensitif nan melankolis.

Ujian jam kedua adalah bahasa Arab. Dari awal soal dibagikan, kelas langsung rame. Katanya soalnya susah. Sang wali kelas yang notabene cuma ngerti shobahul khoirshobahun nur, sama ahlan wa sahlan langsung angkat tangan dan milih jaga lilin di bagian belakang kelas. Kelas pun diambil alih sama partnernya yang memang produk pesantren dan merupakan guru bahasa arab tapi nggak ngajar di kelas ini.

10 menit pertama kelas masih agak sedikit kondusif. Sang partner wali kelas berusaha untuk membantu anak-anak memahami soalnya. Tapi setelah itu...
"MISS INI KITA KAN BELUM BELAJAR."
FYI, dari kisi-kisi yang dibagikan ke anak-anak, ujiannya bab 1 sampe bab 3. Sedangkan yang baru dipelajari cuma bab 1 dan beberapa lembar bab 2. Wajar sih kalo anak-anak protes. Ibarat mau perang, tapi belum punya senjata kan?

Beberapa anak nyamperin wali kelasnya yang lagi duduk di belakang sambil masang muka melas minta dibantuin. Beberapa ada yang pura-pura ke toilet padahal mau nyariin guru Arabicnya buat melakukan aksi protes mogok ujian. Dan ada satu anak laki-laki yang tetiba nangis di tempat duduknya. Pas ditanya kenapa, nggak mau jawab. Disuruh lanjut ngerjain, nggak mau. Pas udah agak sedikit tenang baru deh dia bilang,
"Aku nggak bisa ngerjain, Miss. Soalnya susah banget."
Padahal anak ini nggak pernah nangis di kelas, anaknya dewasa dan bisa diandelin, ganteng pinter juga.

Di saat kelas udah bener-bener nggak karuan, salah satu anak ada yang nyeletuk,
"Aku benci pelajaran Arabic."
Daaaaan......
Seketika terjadilah badai besar yang disertai angin puting beliung.

"HEH KAMU JANGAN NGOMONG KAYAK GITU! KAMU HARUS BELAJAR BAHASA ARAB. NANTI DI SURGA ITU PAKENYA BAHASA ARAB. DI DALAM KUBUR DITANYA MALAIKAT JUGA PAKE BAHASA ARAB. BAHASA INGGRIS SAMA BAHASA INDONESIA YANG KAMU PAKE SEHARI-HARI INI NGGAK BAKAL KEPAKE DI SURGA! MAKANYA NANTI ABIS LULUS SD LANGSUNG MASUK PESANTREN BIAR JAGO BAHASA ARABNYA."
Ya, kurang lebih begitu.

Bagai petir di siang bolong, anak-anak pada bengong. Wali kelasnya juga. Entah terlanjur baper atau emang ngomongnya sinis, tapi kalimat itu berhasil bikin hati berasa disayat-sayat. Pedih. Seketika langsung muncul banyak tanda tanya di kepala sang wali kelas yang jauh dari kata pinter ini.


Apa iya di surga pakenya bahasa Arab?
Kalo nggak bisa bahasa Arab bisa masuk surga nggak ya?
Terus yang udah bisa bahasa Arab yakin banget bisa masuk surga gitu?
Apa yang belum belajar bahasa Arab itu hina?
Apa belajar ilmu selain bahasa Arab itu sia-sia?
dan masih banyak pertanyaan lain yang muter aja di kepala tapi belum berani nanya ke ustadz beraninya nanya google.


Seketika sang wali kelas jadi sedih, kemudian nangis.
Sedih karena nggak bisa bahasa Arab.
Sedih karena cuma ketemu bahasa Arab waktu di TPA jaman dahulu kala.
Dia itu cuma anak pinggiran kota yang nggak paham agama.
Anak cupu yang masih belajar mencintai Tuhannya.
Dari keluarga sederhana yang cuma tau kalo masuk sekolah negeri itu hebat, dan sekolah swasta itu nyusahin orang tua.
Anak yang nggak bisa apa-apa, tapi dititipin Allah amanah yang luar biasa.
Nggak pantes banget rasanya.


Wassalamualaikum
Dari yang masih dan akan terus belajar,