04 September 2016

Assalamualaikum

Akhir-akhir ini sinetron jaman dulu diputer lagi di salah satu stasiun TV swasta. Sebut aja **TV. Untuk generasi 90an, pasti ada aja yang keinget kalau nonton acara TV jaman kecil dulu. Eh, iya nggak sih?

Kami ini saksi hidup perkembangan teknologi. Dari dulu jamannya pager, telepon, ponsel masih segede ulekan, disainnya mulai kecil, berwarna, sampe akhirnya ada kamera. Oke, kali ini pengen ngebahas soal telepon.

Telepon pun dulu macem-macem bentuknya. Semakin aneh dan nggak biasa, semakin meningkatlah harga diri bangsa dan negara (apaan sih ki! -_-). Dari yang model angkanya diputer, telepon kabel biasa, sampe telepon portable yang bisa dibawa kemana-mana macem ponsel. Apalagi kalau di rumahnya ada telepon yang paralel dari lantai 1 ke lantai 2. Wuuuiiih... kekerenannya bertambah satu tingkat.

Source: KLIK!


Anak-anak jaman dulu bahagia banget kalau denger bunyi telepon.

Ah, kamu doang kali, ki!

Hehehe iya kali ya. Tapi serius deh, dulu waktu kecil, saya suka berebut untuk angkat telepon sama kakak saya. Dulu tuh selalu diajarin kalau angkat telepon begini:

"Halo, assalamualaikum. Selamat pagi/siang/sore/malam. Dengan keluarga bapak S di sini. Mau bicara dengan siapa?"

Berasa presenter acara kuis.

Tapi dulu kalau jawab teleponnya nggak sopan pasti ditegur sama ibu bapak. Anak-anak sekarang gitu juga nggak sih?

Jaman dulu, waktu awal-awal punya ponsel, kan yang namanya nelepon sama SMS masih mahal ya, jadi telepon rumah tuh berguna banget. Termasuk waktu PDKT. Jaman SMP dulu, walaupun udah punya nomer ponsel, tapi tetep kalau mau ngobrol teleponnya ke rumah. Biar murah. Biasanya nanti orangnya SMS gini dulu:
"Aku mau nelepon ke rumah ya. Mau ngobrol. Nanti kamu yang angkat."
Abis itu stand by deh di depan telepon. Tapi paling awkward adalah ketika lagi nelepon, dan di ruang keluarga ada kakak, adik, ibu, bapak, dan handai taulan yang bisa mendengar semua percakapan. Kalau obrolannya biasa sih nggak masalah, tapi kalau obrolannya udah 'aneh-aneh' macem nyatain perasaan lewat telepon gitu beeeeh..... bisa tau-tau gemeteran, keringetan, dan pengen pingsan.

Serius, itu pernah kejadian.

Source: KLIK!

Sekarang mah enak. Masing-masing orang udah punya ponsel. Kalau ada keperluan bisa langsung ke nomor orangnya. Kalau dulu mah, kudu nelpon ke rumah, nanya orangnya ada nggak, nah kalau orangnya lagi males ngomong biasanya bakal ada drama "tolong bilangin kalau lagi nggak ada di rumah".

Sekarang rasanya udah nggak banyak rumah yang masih pasang telepon. Di rumah saya aja terakhir pasang telepon itu jaman masih SMA. Terus karena gangguan mulu, kresek-kresek mulu, orang Telk*mnya dipanggil suruh benerin mulu, terus katanya gangguan di jaringan kabel-kabel apaan tau, tapi karena di daerah rumah udah nggak banyak yang pake telepon akhirnya nggak mau benerin, dan akhirnya nasib teleponnya berakhir begitu aja.
Hiks.

Sekian dulu postingan kurang kerjaan kali ini. Nanti kalau ada waktu lanjut lagi bagian 2, 3, 4, dan seterusnya yes.

Wassalamualaikum


03 September 2016

Assalamualaikum


Sekolah adalah organisasi pemberdayaan manusia tingkat tinggi. Di dalamnya harus diisi oleh orang-orang yang SATU PARADIGMA dan KOMITMEN TINGGI. Jika tidak, yang BUKAN MASALAH akan JADI MASALAH, dan terjadi KELELAHAN BEKERJA. -Munif Chatib



Hal-hal berat yang lagi kamu jalani saat ini, nggak lantas bikin kamu berhenti belajar jadi orang baik.
Berhenti untuk merasa paling butuh diringankan bebannya, ya..
Kuat kok!

Syeitan memang punya banyak cara untuk menghalangi kita berbuat baik dan menyerah dalam mengemban amanah. Maka strategi syeitan pun harus dilawan oleh strategi. - Kiki Barkiah


Wassalamualaikum


14 August 2016

Assalamualaikum

Beberapa waktu belakangan, lagi rame-ramenya nih berita tentang Menteri Pendidikan kita yang baru mengangkat isu Full Day School alias sekolah sehari penuh untuk pendidikan dasar (SD & SMP). Sebagai pengajar di sebuah sekolah yang lebih dulu mengusung konsep FDS, saya punya beberapa pandangan. Tulisan ini bersumber dari kisah nyata, tapi sama sekali nggak ada maksud mau menjatuhkan pihak mana pun.



Oke kita mulai.




Sebagai siswa FDS,
aku bosen sekolah. Setiap hari aku masuk jam 07.00 dan harus pulang jam 16.00, dengan jadwal pelajaran segambreng dan waktu breaktime sedikit. Pagi-pagi lagi males gerak disuruh sholat dhuha, pas siang lagi asik-asik makan disuruh cepet-cepet biar nggak ketinggalan sholat Dzuhur. Berasa di pelatihan tentara. Sebenernya enak sih, di sekolah bisa ketemu temen-temen. Aku lebih suka main, ketemu temen, main sama mereka, tapi sayangnya nggak bisa. Aku dipaksa untuk duduk anteng, karena yang nggak anteng dianggap anak bandel, dan nelen semua ilmu yang dikasih semua guru yang minta diperhatiin dari pagi sampai sore hari selama 5 hari berturut-turut. Kalau aku nggak merhatiin, nanti aku dimarahin. Padahal aku kan capek. Banyak banget hal yang harus diinget. Banyak hal yang harus ditulis. Otak dan tangan aku butuh istirahat.


Sebagai guru FDS,
saya merasa seperti kerja rodi. FDS menjadikan guru layaknya orang kantoran. Lebih dari orang kantoran malah. Masuk pukul 07.00, pulang pukul 16.00, bahkan kalau ada rapat kita bisa pulang selepas Isya. Ya mau bagaimana lagi, wong waktunya nggak ada. Belum lagi kalau ada pelatihan di hari libur, seolah tidak rela kami beristirahat barang sebentar. Gajinya besar? Belum. Tapi kan pahalanya banyak? Ya mungkin, tapi tanggung jawabnya juga amat sangat banyak. Tugas guru bukan hanya mengajar di kelas, ada setumpuk administrasi yang harus dipenuhi. Nggak heran banyak guru jomblo di FDS. Tolong pak Menteri, perhatikan nasib kami..


Sebagai orang tua siswa FDS,
saya akan merasa tenang, karena saya kerja anak-anak ada di tempat yang tepat. Nggak perlu khawatir anak akan kesepian di rumah, nggak perlu sewa babysitter untuk ngurusin, ya paling untuk anter jemput anak aja. Nanti kalau ada apa-apa sama anak, ya tinggal salahin sekolahnya. Toh si anak lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Belum lagi, mata pelajaran yang lebih banyak dan lebih beragam dari sekolah umum, pasti bisa membuat anak saya semakin pintar dan luas pengetahuannya. Pun saya nggak perlu repot mendidik anak untuk pintar masalah agama. Di sekolah pasti sudah diajarkan bagaimana cara sholat, membaca, dan menghafal Al-Qur'an. Jadi saya bisa bekerja dengan tenang. Mengumpulkan uang untuk nanti anak-anak liburan. Suka ribet soalnya kalau anak-anak ada di rumah.


Sebagai calon orang tua,
saya nggak akan mendaftarkan anak saya ke FDS. Mungkin homeschooling adalah pilihan tepat. Saya ingin mendidik anak-anak saya sendiri, membuat sekolah sendiri, dengan kurikulum sendiri, dan mata pelajaran yang anak pilih sendiri. Tidak mungkin? Mungkin. Oleh karenanya saya harus terus belajar.



Sekian dan mohon maaf sebesar-besarnya.

Wassalamualaikum



23 July 2016

Assalamualaikum

Bagi kami para guru, dalam setahun ada tiga kali pergantian tahun. Pertama, tahun baru Hijriah. Kedua, tahun baru Masehi. Ketiga, tahun ajaran baru. Setiap pergantian tahun selalu diiringi dengan hari libur dan rasa bahagia yang teramat sangat dari seluruh lapisan masyarakat. Hasik. Mau nulis apaan sih ini nggak jelas banget -_-

Intinya, liburan kini sudah berakhir.
Huuuuuuu.....



Minggu lalu, hari pertama masuk sekolah terasa meriah banget. Orang tua berlomba untuk nganterin anaknya ke sekolah, baik itu inisiatif pribadi, maupun perintah bapak Menteri. Heran deh, masa sayang sama anak aja kudu nunggu perintah Menteri dulu.

Di tahun ajaran yang baru ini alhamdulillah kembali dikasih kepercayaan untuk jadi ibu tiri yang baik hati untuk anak-anak kelas 4, dengan jumlah anak yang jauh lebih banyak dari kelas sebelumnya.
Subhanallah. Makin besar tanggung jawabnya ya.

Awal-awal tahun baru, katanya kasek dan wakasek sempet mau nyuruh saya pegang kelas bawah. Katanya personal approach saya ke anak-anak kecil bagus, dan baiknya ada di kelas bawah. Tapi jujur saya belum yakin. Saya suka anak-anak, tapi kayaknya saya belum siap. Stok sabarnya kurang banyak, Tapi suatu saat nanti, mungkin saya mau coba.

Sejujurnya, saya pengen pegang kelas atas (kelas 6). Tapi nggak mungkin, karena saya wali kelas sebelumnya. Pegang kelas 6 itu bahagia banget. Anaknya nurut-nurut dan mau diajak belajar. Mungkin ada beberapa yang lagi mengalami pubertas dan sering bikin jengkel, tapi sungguh dibanding kelas lain, kelas 6 adalah tempat istirahat yang nyaman karena ngajar nggak perlu banting stir ke dunia tarik menarik suara komandan upacara. Dan suatu kebahagiaan teramat luar biasa ketika beberapa orang tua bilang gini,
"Miss nggak bisa ya wali kelas 6-nya Miss aja?"

Entah itu basa basi atau bukan, tapi kalimat itu bikin hati gurunya yang notabene baru banget lulus kuliah dan mencoba peruntungan jadi wali kelas ini jadi berbunga-bunga. Serius. Rasanya kayak gimnaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa gitu.

Tahun ini terjadi badai guru baru. Tapi tetep saya yang paling muda hahahaha. Banyak guru yang keren-keren dan udah berpengalaman. Da aku mah apa atuh cuma serpihan biskuit Khong Guan di dalem kaleng yang udah diganti rengginang. Masih harus banyak belajar.

Tahun baru, kelas baru, amanah baru. Ada sedikit ketakutan, tapi saya rasa itu hal yang wajar. Doakan supaya saya bisa memberikan yang terbaik untuk amanah baru saya ya. Mari kita mulai tahun ajaran baru ini dengan bersama-sama membaca basmalah.

Bismillahirrohmanirrohim..


Wassalamualaikum


12 July 2016

Assalamualaikum

Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya, Jakarta: GagasMedia, 278 hlm.


Ini adalah sebuah cerita . Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan..., seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.


Hmm.
Awalnya kirain bakal nangis bombay pas baca buku ini. Nyatanya nggak. Emang ada beberapa part yang bikin sedih, tapi nggak sesedih pas baca cerita sejarah di Museum Lubang Buaya. Serius, itu sedih banget. Perasaan dulu mah pas masih sekolah, kalo ke museum bawaannya ngantuk.

Oke, mulai ngaco.

Buku ini keren. Sederhana, gampang dicerna, dan banyak pesan moralnya. Yaampun ki, setelah cetak ulang 22 kali, kenapa baru baca sih. Ya, setelah 22 kali. Yang punya blog emang gitu orangnya. Sabar sabarin aja..

Sosok pak Gunawan, sang bapak yang sangat inspiratif dan visioner. Walaupun fiktif, tapi ngefans boleh kali ya? Ada juga ibu Itje yang selalu berusaha jadi ibu yang baik, dan nggak mau bikin anak-anaknya yang katanya lebay itu khawatir. Ada Satya si suami yang tadinya tukang marah-marah sampe istri dan anaknya takut, terus belajar untuk jadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anaknya. Istrinya, Rissa, yang pinter ngurus anak-anak dan suaminya. Dan tokoh paling sering bikin ketawa sendiri pas baca buku ini adalah Cakra alias Saka, single yang udah mapan tapi punya prestasi 4 kali ditolak dari 3 kali nembak perempuan. Ayu, perempuan yang katanya sempurna di mata Caka, tapi keburu dimodusin Salman, si playboy kantor.

Meskipun begitu, ada beberapa bagian yang saya kurang suka dari buku ini.
Pertama, ada beberapa bagian yang agak sedikit terlalu dewasa.
Kedua, masalah prinsipil aja sih. Saya kurang setuju dengan penjabaran dan penerapan dari kalimat "perhiasan dunia dan akhirat" yang ada dimaksud di buku ini.
Selebihnya, buku ini keren banget.

JIka ingin menilai seseorang, jangan nilai dia dari bagaimana dia berinteraksi dengan kita, karena itu bisa saja tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang. (hal. 35-36)

Dalam hidup kalian mungkin akan datang beberapa orang berkata, "Prestasi akademis itu gak penting. Yang penting attitude." ..... Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk. Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain. (hal. 51)

Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk cari kerja yang lain. Atau paling buruk, resign dan menganggur. Intinya, selalu ada pilihan untuk tidak berurusan dengan orang buruk. Anak? Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orangtua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orangtua yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya. (hal. 60)

... bahwa meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri, bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan. (hal. 80)

Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka. Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri. Ada orang yang berguna untuk diri diri. Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya. Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain. (hal. 86)

Menjadi panutan bukan tugas anak sulung -- kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua -- untuk semua anak. (hal.106)

Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai. Tidak datang dari barang yang kita punya. Di keluarga kita, nilai kita tidak datang dari barang. (hal. 119)

Harga dari diri kita, datang dari akhlak kita. Anak yang jujur. Anak yang baik. Anak yang berani bilang 'Saya benar' ketika benar. Anak yang berani bilang 'Maaf' ketika salah. Anak yang berguna bagi dirinya, dan orang lain. Harga dari diri kamu datang dari dalam hati kamu dan berdampak ke orang luar. Bukan dari barang/orang luar, berdampak ke dalam hati. (hal. 120)

Kang, ketika kalian udah gede akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar, lebih kuat dari kalian. Dan akan ada masanya, kalian gak punya pilihan lain selain melawan, dan menang. Akan datang juga Kang, masanya semua orang tidak akan membiarkan kalian menang. Jadi, kalian harus pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus bisa berdiri dan menang dengan kaki-kaki sendiri. (hal. 130-131)

Carilah pasangan yang dapat menjadi perhiasan dunia dan akhirat. (hal. 180)

Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain. (hal. 217)

Katika seorang laki-laki dan perempuan menikah, laki-laki itu meminta banyak dari perempuan.
Saya pilih kamu. Tolong pilih saya, untuk menghabiskan sisa hidup kamu. Dan saya akan menghabiskan sisa hidup saya bersama kamu. Percayakan hidup kamu pada saya. Dan saya penuhi tugas saya padamu, nafkah lahir dan batin. Pindahkan baktimu. Tidak lagi baktimu kepada orangtuamu. Baktimu sekarang pada saya. (hal. 220-221)

Pemimpin keluarga macam apa yang minta istrinya percaya sama suami, tapi dia sendiri menyembunyikan nafkahnya. Nafkah suami itu hak keluarga, lho. Di keluarga saya, saat seseorang menjadi kepala keluarga, dia bertanggung jawab lahir batin akan kecukupan dan kebahagiaan keluarga. Sekarang dan nanti. (hal. 225)

Oke, udah segitu aja.


Udah, ki?


Iya udah.


INI MAH BUKAN REVIEW. INI MAH KALO BISA MALAH LO TULIS ULANG BUKUNYA DI SINI. -___-


Kenapa sih? Kenapaaa? Salahku apaaah?


Oiya, btw buku ini udah difilmin. Filmnya sebagus bukunya nggak sih? Ah paling sebentar lagi diputer di tipi, yak. *PLAK!*


Wassalamualaikum