29 March 2017



Perkenankan aku menyapamu dalam tulisan. Menyampaikan rangkaian kata yang tak kuasa kujabarkan lewat suara. Sebaris aksara yang aku bahkan tak yakin kau akan membacanya.


Hai, apa kabar?
Akan kumulai tulisan ini dengan menanyakan kabarmu. Tentu saja aku ingin tahu. Sudah terlalu lama kita tak jumpa, kan?


Hari ini langit masih tampak sayu. Tangisnya sudah mulai reda, menyisakan bau hujan dimana-mana. Namun matahari mulai beranjak mengambil bagian. Tak boleh mendung terlalu lama, katanya.


Aku mulai berani duduk-duduk di bawah langit. Di sebuah lapangan rumput yang luas dan menghijau. Melupakan hujan, yang beberapa waktu silam terasa begitu menyesakkan. Tidak, aku tidak benci hujan. Aku hanya benci kisah yang pernah ada di dalamnya.


Kulihat seseorang tengah berjalan menuju arahku. Membawakan segenggam cita dan harapan. Membuat tubuhku seketika kaku. Bingung. Entah harus lari, atau menantimu sampai ke sini.
Sampai akhirnya, kuberanikan untuk tetap tinggal.


Ia datang sambil menyuguhkan sebuah senyuman hangat. Sebuah tatapan lekat yang sudah lama tak kulihat. Sebuah langkah yang tergesa, dan lisan yang mengucap,
"Maaf aku terlambat."


Hatiku mengembang. Ini bukan soal cepat atau lambat. Ini soal waktu yang tepat. Waktu. Waktu yang membawamu menemuiku saat ini. Bukan kemarin, bukan nanti. Tapi hari ini.
"Terima kasih sudah datang", ucapku dalam diam.


Aku persilakan kau masuk, kemudian duduk.
"Hati-hati", kataku dengan hati-hati.
Tempo hari ada yang pernah bermain-main di sana, dan memecahkan separuh hatinya hingga retak.
Tak bertanggung jawab.
Aku khawatir sisa pecahannya akan mengenaimu.


Tak perlu khawatir tentang aku. Tentang masa lalu. Karena pada akhirnya, semua perkara hidup hanya perlu diikhlaskan, kan? Cukup lihat aku yang sekarang. Yang pernah mencoba bertahan. Sendirian.


Padamu yang aku semogakan untuk tetap tinggal,
suatu hari nanti...



06 February 2017

Assalamualaikum

Tahun 2017 diawali dengan sebuah kejadian yang cukup drama.
Dimana pada akhirnya surat keputusan untuk resign melayang, sekaligus kembali pulang.

HA? RESIGN?

Iya. Resign.

Setelah melalui pemikiran yang panjang selama berbulan-bulan, akhirnya memberanikan diri untuk nulis surat resign. Bukan, bukan ndak mau bersabar. Tapi ketika tempat kerja sudah ndak lagi menjadi tempat belajar yang baik, dan cenderung malah merusak, mungkin mengundurkan diri adalah cara yang boleh diambil.


Kenapa boleh?


Terusin aja bacanya, ya. Nanti juga tau jawabannya.



Sejujurnya, semester lalu terasa begitu berat. Tahun kedua dengan tantangan berkali-kali lipat. Cobaan rasanya dateng dari segala penjuru. Bahkan udah pengen nyerah dari awal semester.

Tapi mungkin bener kata salah seorang temen kalau 'setiap kita pasti punya masa'. Ya kalau masanya belum habis, mau bagaimana pun ya belum bisa berakhir. Takdir. Takdir yang membawa saya ke tempat ini. Takdir pula yang menahan saya untuk sampai di semester akhir.

Menjelang akhir semester, rasanya bener-bener udah ndak karuan. Lelah dan marah bersekutu membuat kata sabar lupa dari ingatan. Sampai akhirnya, surat resign pun melayang ke ruang pimpinan.

Saya ndak akan cerita secara detil permasalahannya apa. Tapi yang pasti, selama satu semeter kemarin, ada sebuah kedzoliman yang terus menerus dibiarkan hingga akhirnya merugikan suatu pihak. Berat yes bahasanya? Jadi berasa tua... Hiks.

Banyak yang menyayangkan keputusan itu sih, dan beberapa diantaranya berusaha untuk menahan. Tapi rasanya tuh kayak udah capek banget. Capek hati, capek fisik. Pengen rehat. Akhirnya, setelah pembagian rapor semester 1, saya resmi mengundurkan diri.






SELESAI.








Beberapa minggu libur dari aktivitas sekolah yang seharusnya belum libur itu rasanya bahagia banget. Tenang. Walaupun kadang suka kangen sama anak-anak sih. Terus kepikiran pengen balik lagi, terus tetiba wakasek kirim pesan suruh dateng lagi ke sekolah hari Senin, terus jadi galau, terus jadi uring-uringan sendiri. Biar gimana pun ndak mudah untuk cari ladang amal lain jaman sekarang.

Tepat pada akhir libur semester 1, hari Minggu, saya izin pamit di grup kelas karena sebelumnya memang belum pamitan. Ya, akhirnya selesai sudah semuanya.

Hari pertama sekolah dapet laporan kalau anak-anak kelas 4 pada nangis berjamaah karena ditinggal wali kelasnya. Beberapa anak kirim pesan kalau kangen suara wali kelasnya yang suka nyanyi di kelas. Sepi katanya. Meleleh lah air mata gegara baca pesan kayak gitu. Ternyata ada juga yang kangen suara cempreng ini. Hiks.

Hari kedua sekolah, pagi-pagi wali murid telepon. Ngobrol panjang lebar yang intinya minta untuk berpikir ulang, sembari mohon untuk tetap tinggal. Sedih lagi, nangis lagi. Dan di hari yang sama, wakasek minta untuk besok datang lagi ke sekolah.

Hari ketiga sekolah, akhirnya memberanikan diri untuk kembali datang ke sekolah. Bukan, bukan untuk ngajar. Tapi untuk memenuhi panggilan wakasek. Ke sekolah, diliat anak-anak, heboh lah mereka. Semua ngumpul di ruang guru. Ada yang sibuk nangis, ada yang sibuk meluk. Jadi berasa keren.

Dan pada akhirnya saya kembali lagi ke sini, setelah melakukan diplomasi, negosiasi, dan tausiyah yang panjang dan penuh air mata. Terkadang ada hal yang harus diabaikan. Ada hal yang tidak perlu dipikirkan. Fokus aja sama tujuan.

Siapa yang bakal jamin kalau di tempat yang lain ndak ada masalah yang sama kayak di sini. Di setiap tempat pasti ada masalahnya masing-masing. Ada dua pilihan sikap yang bisa kita ambil, bersabar atau tinggalkan. Allah menjanjikan pahala yang banyak untuk orang-orang yang mampu bersabar, kan?



!لا تجعل البشر مرآة لأخلاقك، تسيء إن أساءوا، وتحسن إن أحسنوا، كن مصدر ضوء ولا تكن انعكاسًا 
"Jangan jadikan orang lain sebagai cermin akhlakmu. Kau berperilaku buruk seiring buruknya akhlak mereka. Kau berperilaku baik saat baik akhlak mereka. Jadilah sumber cahaya, bukan pantulannya!"



Wassalamualaikum


14 November 2016

Source: KLIK!

Ayah: "Nak, perlulah kalian tahu, bahwa ayah mulai berbuat baik kepada kalian sebelum kalian hadir di dunia ini, maka berbaktilah kepada ayah apalagi ibumu."

Anak: "Ayahku sayang.. tanpa mengurangi rasa hormat, tunjukkanlah kebaikan yang ayah lakukan padaku, padahal aku belum lahir."

Ayah: "Anakku sayang, ketahuilah kebaikan yang ayah lakukan sebelum kamu lahir adalah usaha ayah memperjuangkan cinta seorang wanita yang sholihah yang akan menjadi ibumu kelak. Karena ibumu adalah pendidikan awal bagimu."

(dikutip dari salah satu status jejaring sosial seorang teman)



Hmm..
Menarik ya.



Wassalamualaikum


07 October 2016

Assalamualaikum


Mereka mengatakan: Orang miskin adalah yang tidak mengetahui bahasa Inggris, karena ia akan mendapatkan kesulitan dalam memahami perkataan manusia.

Aku mengatakan: Orang miskin adalah yang tidak mengetahui bahasa Arab, karena ia tidak akan mendapatkan kesulitan dalam memahami perkataan Tuhan manusia.


Di hari terakhir anak-anak ujian tengah semester, terjadi sebuah peristiwa yang berhasil mencederai hati siswa dan juga wali kelasnya yang super sensitif nan melankolis.

Ujian jam kedua adalah bahasa Arab. Dari awal soal dibagikan, kelas langsung rame. Katanya soalnya susah. Sang wali kelas yang notabene cuma ngerti shobahul khoirshobahun nur, sama ahlan wa sahlan langsung angkat tangan dan milih jaga lilin di bagian belakang kelas. Kelas pun diambil alih sama partnernya yang memang produk pesantren dan merupakan guru bahasa arab tapi nggak ngajar di kelas ini.

10 menit pertama kelas masih agak sedikit kondusif. Sang partner wali kelas berusaha untuk membantu anak-anak memahami soalnya. Tapi setelah itu...
"MISS INI KITA KAN BELUM BELAJAR."
FYI, dari kisi-kisi yang dibagikan ke anak-anak, ujiannya bab 1 sampe bab 3. Sedangkan yang baru dipelajari cuma bab 1 dan beberapa lembar bab 2. Wajar sih kalo anak-anak protes. Ibarat mau perang, tapi belum punya senjata kan?

Beberapa anak nyamperin wali kelasnya yang lagi duduk di belakang sambil masang muka melas minta dibantuin. Beberapa ada yang pura-pura ke toilet padahal mau nyariin guru Arabicnya buat melakukan aksi protes mogok ujian. Dan ada satu anak laki-laki yang tetiba nangis di tempat duduknya. Pas ditanya kenapa, nggak mau jawab. Disuruh lanjut ngerjain, nggak mau. Pas udah agak sedikit tenang baru deh dia bilang,
"Aku nggak bisa ngerjain, Miss. Soalnya susah banget."
Padahal anak ini nggak pernah nangis di kelas, anaknya dewasa dan bisa diandelin, ganteng pinter juga.

Di saat kelas udah bener-bener nggak karuan, salah satu anak ada yang nyeletuk,
"Aku benci pelajaran Arabic."
Daaaaan......
Seketika terjadilah badai besar yang disertai angin puting beliung.

"HEH KAMU JANGAN NGOMONG KAYAK GITU! KAMU HARUS BELAJAR BAHASA ARAB. NANTI DI SURGA ITU PAKENYA BAHASA ARAB. DI DALAM KUBUR DITANYA MALAIKAT JUGA PAKE BAHASA ARAB. BAHASA INGGRIS SAMA BAHASA INDONESIA YANG KAMU PAKE SEHARI-HARI INI NGGAK BAKAL KEPAKE DI SURGA! MAKANYA NANTI ABIS LULUS SD LANGSUNG MASUK PESANTREN BIAR JAGO BAHASA ARABNYA."
Ya, kurang lebih begitu.

Bagai petir di siang bolong, anak-anak pada bengong. Wali kelasnya juga. Entah terlanjur baper atau emang ngomongnya sinis, tapi kalimat itu berhasil bikin hati berasa disayat-sayat. Pedih. Seketika langsung muncul banyak tanda tanya di kepala sang wali kelas yang jauh dari kata pinter ini.


Apa iya di surga pakenya bahasa Arab?
Kalo nggak bisa bahasa Arab bisa masuk surga nggak ya?
Terus yang udah bisa bahasa Arab yakin banget bisa masuk surga gitu?
Apa yang belum belajar bahasa Arab itu hina?
Apa belajar ilmu selain bahasa Arab itu sia-sia?
dan masih banyak pertanyaan lain yang muter aja di kepala tapi belum berani nanya ke ustadz beraninya nanya google.


Seketika sang wali kelas jadi sedih, kemudian nangis.
Sedih karena nggak bisa bahasa Arab.
Sedih karena cuma ketemu bahasa Arab waktu di TPA jaman dahulu kala.
Dia itu cuma anak pinggiran kota yang nggak paham agama.
Anak cupu yang masih belajar mencintai Tuhannya.
Dari keluarga sederhana yang cuma tau kalo masuk sekolah negeri itu hebat, dan sekolah swasta itu nyusahin orang tua.
Anak yang nggak bisa apa-apa, tapi dititipin Allah amanah yang luar biasa.
Nggak pantes banget rasanya.


Wassalamualaikum
Dari yang masih dan akan terus belajar,


03 October 2016

Assalamualaikum

Latar: Ruang kelas 4, pasca UTS
Tokoh: Wali Kelas yang sedang memeriksa jawaban ujian dan Kepala Biro yang hendak ke mushola


DREEEEET! *suara pintu dibuka*

KB : Anak-anak lagi ujian ya?
WK : Iya, ustadz.
KB : Mulai hari ini ujiannya ya?
WK : Iya, ustadz.
KB : Seminggu?
WK : Iya, ustadz. Sampai hari Jumat.
KB : Kamu kenapa?
WK : *bingung* Kenapa apa maksudnya ustadz?
KB : Itu saya denger kabar katanya mau keluar.
WK : *nyengir*
KB : Memang ada apa?
WK : *nyengir lagi* Ustadz denger kabar dari mana?
KB : Ada lah. Semua berita tuh sampe ke saya. Kenapa? Bisyarahnya kurang?
WK : Bukan, ustadz. Saya nggak pernah mempermasalahkan itu.
KB : Terus kenapa?
WK : *nyengir lagi*
KB : Rumahmu dimana?
WK : Di sana, ustadz.
KB : Naik apa kalau ke sekolah?
WK : Bawa motor, ustadz.
KB : Weh, bisa naik motor?
WK : Bisa dong, ustadz. Saya kan strong.
KB : Sudah ngajuin ke kepala sekolah?
WK : Belum ustadz. Baru ngobrol sama ustadz R (wakil kepala sekolah). Tapi nggak dibolehin.
KB : Jangan dulu lah. Nanti aja tahun ajaran baru, kalau udah dapet di tempat lain, baru resign. Kalau keluar sekarang kan sekolah lain udah nggak nerima pendaftaran guru baru. Kecuali kalau kamu udah nggak mau ngajar lagi.
WK : Iya ustadz, nggak kok. Kan nggak dibolehin sama ustadz R.
KB : Emang berat banget ya?
WK : *nyengir* Kalau itu wali kelas 2 emang beneran mau keluar ustadz?
KB : Loh, ya nggak tau saya. Kamu sekarang gimana?
WK : Nggak apa-apa kok, ustadz. Mungkin kemarin cuma lagi agak sedikit emosi. Sekarang ya disabar-sabarin aja.
KB : Nah, yaudah saya sholat dulu.


Ustadz yang satu ini emang luar biasa banget. Dibandingin perlakuannya ke guru yang lain, dari awal ketemu beliau udah keliatan sayang banget sama wali kelas 4. Padahal ketemu aja jarang. Entah bener atau engga, maklumin aja soalnya si wali kelas emang gampang ngerasa spesial. Taunya orang yang dimaksud emang baik sama semua orang.

#Eaaa...



Wassalamualaikum