09 October 2014

Dear Jenderal..

Kaget gaaaak?
Gak yes?
Yah yaudah deh..
Ciyeee seneng tuh akhirnya setelah ribuan kali bolak balik ke sini ada postingan baru juga hahahaha..

Ga berasa udah sebulan lebih gue ga main ke sini.
Saking lamanya gue ga berkunjung, sampe-sampe waktu gue mau sign in eh ditolak sama blogger.
Dia ngambek.
"Kemana aja kamu? Menghilang seenak jidat ga ngasih kabar. Kamu pikir aku apaan!"



*kemudian hening*



Ada yang mau tau kabar gue?
Gak ada yes?
Yah yaudah deh..

Oke, walaupun kalian gak pengen tau kabar gue, tapi karena gue baik hati jadi gue akan kasih tau kabar gue. Alhamdulillah kabar gue baik. Setelah melalui perjalanan mencari kitab suci yang begitu rumit dan berbelit-belit, akhirnya gue menemukan suatu titik terang.
Ya, begitulah hidup.
Selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. *Plak! Sok tua lu!*

Salah satu hikmah dari peristiwa itu adalah........



Adalah.....



UKURAN CELANA GUE NAIK TIGA NOMOR.



OMAIGAT OMAIGAT OMAIGAT

Ini merupakan suatu prestasi yang luar biasa.
Setelah berdamai dengan keadaan, nafsu makan gue melonjak naik.
Mungkin ngunyah adalah satu satu cara yang efektif untuk menjaga hati biar ga sedih lagi.

Dalam sehari gue minimal makan 4 kali.
Dan salah satu sponsor terbesar dari bertambahnya ukuran celana gue adalah makan tengah malem.
Jadi beberapa bulan ini gue membiasakan diri untuk tidur setelah sholat isya, terus bangun tengah malem untuk menunaikan kewajiban gue sebagai mahasiswa level injury time.
Nah untuk menjaga agar kedua mata tetap terjaga, mulut harus gerak.
Alhasil lengan, perut, pipi, paha, dan kantong mata bersaing untuk menjadi yang paling besar. -_-
Tapi ini lebih ampuh ketimbang gue mesti minum kopi terus melek sampe malem.
Karena pada dasarnya hubungan gue sama kopi ga pernah baik.
Tiap kali minum kopi biar bisa melek, malah langsung merem.

Faktor lain yang cukup berpengaruh adalah hobi main masak-masakan.
Terinspirasi dari salah satu acara tipi, sebut saja Mas*piip*chef, gue sama ade gue suka battle masak gitu kalo lagi muncul jiwa isengnya.
Dengan bahan seadanya yang ada di kulkas, kita bereksperimen bikin masakan yang kadang bisa dimakan kadang bikin sepertiga populasi ayam keracunan.

HAAAAFFFFFFGGGGGGGHHHHHHHTTTTTTTTT

Kemudian muncullah kekhawatiran dari seorang ibu yang khawatir melihat anak gadisnya makan mulu tapi gak gendut-gendut.
Di suatu siang yang cerah, sang ibu menyuruh si anak untuk ngemil obat cacing 2 biji.
Si anak yang penurut mengikuti perintah ibunya.
Dan sejak saat itu, langit berubah menjadi cerah dan Teletubbies mau kembali ke sekolah.

Tapi sesungguhnya ada hikmah di balik bertambahnya ukuran celana, menyempitnya baju, dan semakin berisinya badan. Yang gue rasain sih, badan jadi ga gampang capek, ga gampang ngantuk, tapi tetep susah move on, asal diimbangi sama olahraga yes.

Alhamdulillah sekarang badan gue udah ga kayak anak kurang gizi lagi.
Akhirnya gue dan segenap kru yang bertugas hidup bahagia selamanya.

TAMAT.





01 September 2014

Source: KLIK!

Kau percaya takdir kan?
Takdir membawaku kembali ke tempat ini
Menikmati setiap gram zat adiktif yang tersembunyi dibalik senyum dan sapa mereka
Sebuah candu yang menyenangkan

Kau percaya takdir kan?
Di atmosfer ini aku dikembalikan
Dimana sapa dan doa bergabung menjadi penyembuh sayap yang sedang luka
Kusebut mereka keluarga

Kau percaya takdir kan?
Di tempat yang sama setaun kemarin
Terukir banyak cerita teristimewa
Senyum, tawa, air mata
Masih dapat kuingat jelas rasanya

Kau percaya takdir kan?
Aku yang masih tersesat dalam bayang-bayang kenangan
Melihat kita masih berdiri di tempat ini
Meringkuk bersama menanggung beban dunia
Ternyata waktu tak mengijinkanku menghapus itu semua

Kau percaya takdir kan?
Telah kulangkahkan kakiku menjauh
Melewati waktu bersimbah air mata
Namun takdir menggiringku ke tempat ini lagi
Mengais sisa kenangan yang masih berserakan

Jadi, kau percaya takdir kan?






31 August 2014


Allah memberikan dua mata, dua telinga, dan satu mulut agar kita bisa lebih banyak melihat dan mendengar sebelum berbicara

Telingamu yang jumlahnya dua berguna untuk mendengarkan secara berimbang

Sisi kanan, sisi kiri

Tak hanya dari satu sisi

Mendengar itu sulit

Belajar membunuh spekulasi pribadi

Agar tidak main hakim sendiri

Pun matamu yang dua jumlahnya, ajaklah mereka mencari lebih banyak

Membaca lebih banyak

Mengamati lebih bijak

Sebelum kamu persilakan mulutmu berkomentar

Bisa kan bersikap lebih adil?

Dengarkanlah, dengan mendengar kau bisa banyak belajar

Lihatlah lebih banyak, dengan melihat kau bisa lebih bijak


Yang masih belajar mendengarkan,







20 August 2014

Source: KLIK!

Kudapati diriku dalam kegelapan. Tak dapat kuingat dengan jelas apa yang terjadi padaku tadi. Sepertinya aku membentur sesuatu yang cukup keras hingga membuatku terjatuh dan tak sadarkan diri. Perlahan kulihat sekelilingku. Syukurlah ternyata aku tidak sendiri. Jantungku pun memperlambat degupnya. Kucoba menyapa mereka, tak ada jawaban. Kudekati mereka perlahan. Lebih dekat. Semakin dekat. Hingga aku pun menemukan suatu  kejanggalan.

Aku berada di antara orang-orang putus harapan. Di antara puing-puing semangat, yang telah retak entah sejak kapan. Sayap-sayapnya patah dan tak lagi mampu membawa mereka terbang. Terasa begitu tepat, meski tak bisa dianggap tepat, karena baru saja aku pun terjatuh dari tempat yang tengah kuperjuangkan. Apa kisahku akan berakhir di sini seperti yang lain? Sejenak keraguan muncul dalam benakku. Ah, tidak! Aku masih beruntung, sayapku tidak patah, hanya terdapat sedikit luka yang ku yakin tak akan lama sembuhnya. Walaupun tidak cukup kuat, tapi ketika kulihat sayap mereka patah, ingin rasanya kuberi milikku sebelah. Kemudian bersama menyalakan lagi lilin harapan yang sempat padam, walau harus saling memapah ketika berjalan.

Aku butuh diselamatkan. Ah, bukan. Kita butuh diselamatkan. Jika kamu yang aku pinta untuk menyelamatkan, apa kamu mau?

Tolong aku.





30 July 2014

Dear Jenderal..

SIAPA YANG SUKA MARTABAK ANGKAT TANGAAAAAN!
Wuiiiiiih....
Menurut hasil survey, 9 dari 10 orang Indonesia suka martabak.
Plis jangan tanya itu surveynya siapa.

Ngomong-ngomong soal martabak, beberapa hari yang lalu gue berhasil membuat suatu mahakarya yang sangat cetar membahana, yaitu martabak manis.
Ini terjadi karena tengah hari bolong ngeliat gerobak tukang martabak yang tergeletak tak berdaya di pinggir jalan.
Ya, jatuh cinta itu memang sederhana... *Apasih ki -_-*

Berbekal kesoktauan dan keberanian, gue pun mengumpulkan bahan-bahan.
Menurut resep yang gue baca sih kayaknya gampang bikinnya.
Iya, kayaknya.

Ceritanya martabak ala OTRL

Berikut ini adalah bahan-bahan untuk membuat martabak manis menurut buku resep bonus beli Happy*piiip* Double Pan:

BAHAN:
350 gr tepung terigu
75 gr gula pasir
3 butir telur, dikocok sebentar
500 ml susu hangat
5 gr ragi instan
1/2 sdt baking powder
1/2 sdt garam

ISIAN:
4 sdm susu kental manis
150 gr meses
100 gr keju cheddar, parut

Bahan-bahan Martabak
Yap, itu teorinya.
Aslinya mah pake the power of kira-kira.
Soalnya sebelum bikin udah diwanti-wanti ga boleh bikin banyak-banyak kalo ga enak takut ga ada yang makan.
Alhasil takarannya pun jadi serampangan.
Tepung terigunya secukupnya, gulanya seikhlasnya, susunya semampunya, dan bahkan untuk ragi sama baking powder gue malah masukinnya 1/2 sendok makan bukan 1/2 sendok teh gegara salah baca -_-
Untuk isiannya itu sih optional.
Kalo udah jago, boleh pake Nutella atau cokelat Toblerone biar kayak martabak gaul.
Tapi buat yang baru pertama nyoba, meses sama keju adalah pilihan yang tepat untuk menekan biaya produksi.
Bahkan saking pengen neken biaya produksi, keju cheddarnya gue ganti pake keju slice yang dipotong panjang-panjang.
Plis jangan tanya enak apa ga.

Oke lanjut ke cara pembuatan martabak manis yes..

CARA MEMBUAT:

  1. Campur tepung terigu, gula, ragi, baking powder, dan garam.
  2. Masukkan telur, aduk rata. Tambahkan susu hangat, aduk kembali. Tutup dengan lap. Diamkan adonan hingga mengembang selama 2 jam.
  3. Panaskan Happy*piiip* Double Pan dengan api sedang. Tuang adonan hingga menutupi bagian dasar Happy*piiip* Double Pan. Masak hingga setengah matang dan adonan berlubang-lubang. Tutup Happy*piiip* Double Pan. Masak hingga matang. Angkat.
  4. Potong martabak menjadi 2. Oleskan bagian dalamnya dengan margarine. Tuangkan susu kental manis, ratakan. Taburi meses dan keju pada salah satu sisi. Oleskan bagian luarnya dengan margarine. Angkat. Sajikan.

(untuk 6 orang)


NAH GAMPANG KAN...
Sekali lagi, ini cuma teorinya.
Ga harus diikutin banget banget.
Prakteknya mah nungguin adonan ngembang 2 jam itu malesin banget, jadi gue cuma nunggu 1 jam doang.

Alhamdulillah martabaknya jadi dan bisa dimakan.
Teksturnya sih udah martabak banget, cuma masih agak kurang manis dikit.
Kan.....apa gue bilang.
Gue tuh punya bakat masak asal ga sama kakak gue.

Hasil karya anak bangsa yang lainnya:

Ceritanya pancake ala MRZ, NJS, dan OTRL

Ceritanya Crepes pisang + apel + es krim ala MRZ, NJZ, OTRL, dan RR

Mau main masak-masakan ga? Yuk!
Salam kece,






Dear Jenderal..

EID MUBARAK 1435 H! ^^
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin.
Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan.
Aamiin.


Sumber: KLIK!

HALOOOOOOO!
Masa bulan Ramadannya udah pergi lagi.. Hiks.. Cepet banget ya..
Gimana targetannya tahun ini?
Lebih baik dari tahun kemaren dong?

Mungkin ini adalah lebaran terakhir dengan formasi lengkap di rumah gue sebelum kakak gue memulai hidup barunya.
Iya, jadi insya Allah 10 hari lagi kakak gue nikah.
Yang bikin sedih sih bukan karena ga ada lagi temen tendang-tendangan pas tidur, tapi gue belum siap menghadapi serangan pertanyaan "kapan nyusul?" dan "mana pacarnya?"
Hiks. Syedih kan?
Ga ya?
Yaudaaah.. -_-

Lebaran kali ini juga beda dari lebaran taun kemaren.
Kalo taun kemaren lebaran 1434 H, taun ini 1435 H.








*kemudian hening...*







Oke gue ulang ya..
Lebaran taun ini juga beda dari lebaran taun kemaren.
Kalo lebaran taun kemaren gue masih umur 20 menuju 21, taun ini gue udah umur 21 menuju 22.








*kemudian hening lagi*
*AMPUN DEH KI LO TUH MAU NULIS APAAN SIH? -_-*





Oke gue ulang sekali lagi ya.
Lebaran taun ini juga beda dari lebaran taun kemaren.
Kalo taun kemaren gue sama kakak gue masih iseng sibuk bikin kue-kue kering, taun ini kita dengan berat hati menaruh kepercayaan kepada kue-kue yang udah jadi.
Gatau deh itu kue dari mana, tetau udah ada aja.
Sebenernya sih kakak gue berniat pengen bikin, tapi karena lagi sibuk ngurusin nikahan akhirnya ga jadi bikin deh.
Alhamdulillah..
Soalnya taun lalu kue eksperimen gagal kakak gue baru abis beberapa bulan setelah lebaran saking awetnya.

Lebaran taun ini juga beda dari lebaran taun kemaren.
Kalo taun kemaren sebelum lebaran terang benderang, taun ini malah ujan terus terusan.
Biasanya takbiran sambil duduk manis makan opor ayam, taun ini berjibaku bersihin air banjiran -_-
Mungkin air banjirnya mau ikutan lebaran kali ya...

Semakin bertambah usia, semakin ga berasa beda bulan puasa sama ga puasa.
Eh? Iya ga ya?
Entah gue sih ngerasanya gitu.

Lebaran itu identik dengan perbaikan gizi.
Tiap masuk rumah orang, pasti disuruh makan.
Beruntunglah orang-orang yang dianugerahkan badan kecil macem gue.
HAHAHAHAHAHAHAHA

Sebagai anak ibu yang paling rajin makan, lebaran kali ini gue jadi bulan-bulanan seisi rumah.
Tiap kali ambil makanan pasti langsung diliatin terus diledekin "makan apa lagi tuh?"
Emang apa salahnya sih orang kurus makan banyak?
Ga salah kan? Ga salaaah?
Terus kalo ditawarin makan, kita langsung makan juga ga salah kan? Ga salaaah?
Ah, semesta emang selalu sirik sama orang cantik heeemmmmmppppfffffhhhhhhttttt.

Tapi yang paling fenomenal dan akan diingat sepanjang masa mungkin yang satu ini.
Pas lebaran hari pertama kan main ke rumah bude, nah ternyata di sana bude bikin bakso banyak banget.
YA SALAM INI SURGAAAAAAAA AAAAAAAAAAAK >.<
Terus kan disuruh makan, tapi gue bilang nanti dulu nunggu masih pada sholat.
Eh terus kan dipaksa ya, yaudah aku bisa apah...
Akhirnya gue ka dapur deh, gue liat satu batalion bakso menari-nari di dalam panci.
Begitu centongnya masuk ke panci, semua bakso berlarian pengen naik ke centong buat pindah ke tempat yang lebih layak.
Dengan sekuat tenaga gue tahan diri untuk ga mengikuti apa mau mereka.
Tapi aku ga bisa..
Aku lemah kalo sama bakso..

Setelah melakukan audisi yang cukup ketat, akhirnya terpilihlah 5 butir bakso masuk ke dalam mangkok.
Sambil nungguin orang-orang pada sholat gue makan deh satu-satu baksonya.
Satu.....


Satu......


Satu......


Eh lah kok tinggal 2 ya? Ga berasa.
Orang-orang belom selese sholat, eh baksonya tinggal 2.
Yaudah gue irit-irit sampe pada selese sholat.
Jadi gue berniat ikut ke dapur buat ambil bakso lagi pas yang lain pada ambil bakso gitu.
Tapi karena yang sholat kelamaan, akhirnya bakso gue keburu abis duluan. -_-

Dengan langkah malu-maluin gue beranjak ke dapur sambil celingak celinguk mau ambil bakso.
Eh ternyata di dapur ada bude gue.
Karena malu, yaudah gue batalkan niat nambah bakso dan langsung pura-pura nyuci piring.
Yaudah gapapah....
Gapapaaaah.....

Hiks.


Tapi emang rejeki anak sholehah sih ya, ada aja jalannya buat makan bakso lagi.
Abis nyuci piring gue liat ibu gue mau ngambil bakso.
Dengan jurus seribu bayangan langsung gue deketin ibu, gue bisikin "Bu, tambahin 2 bu baksonya buat aku.."
Eh ibu malah bilang "Dua doang? Ga dua lagi?"
APA? DUA LAGI?
Sebagai anak yang penurut ya udah gue ngangguk.

Gue duduk deket ibu gue, terus gue minta suapin.
Ini semata-mata sebagai bentuk kamuflase, biar gue ga dikatain makannya banyak.
Setelah abis 4 butir bakso, tetiba ibu gue ke dapur lagi.
Kirain mau nyuci piring....
EH TERNYATA NGAMBIL BAKSO LAGI!

Gue terperanjat.
Mata gue terbelalak.
Ini seperti mimpi.
Ternyata ibu ngambilin bakso lagi buat nyuapin gue.
Padahal mah gue ga minta.


Ah, ibu mah bisa aja...



Bakso kloter ketiga ini gue ga ngitung berapa jumlahnya.
Perasaan gue sih 5, tapi kata ibu sih 4.
Yaudah demi perdamaian dunia, kita ambil yang paling sedikit ya, 4 buah bakso.

Ga sampe di situ aja, waktu gue mau ke belakang buat nyuci piring, tetiba bapak nitip mangkok.
Daaaaaan........
Di mangkok bapak masih tergeletak satu setengah buah bakso yang... ah sudahlah.
Tetiba bapak udah berhasil mendaratkan bakso yang malang itu ke mulut gue.
Ah, bapak mah....

Jadi total bakso yang masuk ke perut adalah 5 + 4 + 4 + 1,5 = 14,5!!!
Tapi demi perdamaian dunia, kita anggep 14 bakso aja ya ya ya ya?
Padahal sih pas pulang dibungkusin baksonya, eh tapi mungkin emang ga jodoh kali ya, tetau baksonya ketinggalan.
Mungkin kalo ga ketinggalan........ah sudahlah.

Dan sekarang legenda 14 butir bakso ini sedang jadi buah bibir di kalangan orang-orang rumah.
Orang-orang di rumah berkoalisi menyebarkan kisah 14 butir bakso ini.
Mungkin ini adalah prestasi yang sangat membanggakan jadi semua orang harus tau -_-

Baru lebaran hari ketiga, tapi orang-orang bilang pipi gue gedean.
Heeeemmmmmpppppffffffhhhhh...
Kalo bisa protes mungkin pipi gue bakal protes.
Dari sebelum lebaran pun pipi gue udah teraniaya.
Dibilang "cadangan lemaknya di pipi" lah, dibilang "bedakan pake Baking Powder ya jadi pipinya ngembang" lah, dll.
Padahal kan pipi gue kecil............perasaan.

ITADAKIMASU!!! ^^
Salam kece,






24 July 2014

Assalamualaikum :) 

Hai kamu! Gimana Ramadannya taun ini?
Di penghujung Ramadan yang tinggal hitungan hari ini, sang pemilik blog lusuh mau nulis tentang salah satu acara tv paling keren versi yang nulis.
Bukan.
Bukan CHSI.

Walaupun ada di stasiun tv yang sama, tapi gegara CHSI tayang pagi-pagi, acara ini jadi ga ada lagi jam setengah 5 pagi.
Syebel.
Hafiz Indonesia, acara yang isinya cimit-cimit umur 3-7 tahun yang ga cuma lucu, tapi juga membanggakan.
Mereka ga berlenggak lenggok, akting, nyanyi, dll kayak acara tipi yang sebelah itu, tapi di sana mereka maju sebagai para penghafal al-Quran yang luar biasa subhanallah :"


Pasti bukan cuma gue doang deh yang tiap nonton ini berkacamata berkaca-kaca matanya.
Antara kagum dan malu berkoalisi membentuk butiran air mata yang siap jatuh kapan aja. (lebay!)

Di antara sekian banyak cimit hebat, ada satu hafiz cilik usia 5,5 tahun yang bisa hafal 29,5 juz.
Namanya Musa, anak dari ibu Yulianti dan bapak La Ode Abu Hanafi.
Adiknya juga ikutan Hafiz Indonesia loh.
Namanya Luqman, 3,5 tahun, peserta termuda yang hafal 2 juz.
Subhanallah..

Luqman & Musa, Adik kakak penghafal al-Quran

Nih buat yang pengen punya anak kayak gini, ada 10 tips mendidik dari Ayah Musa yang dikutip dari sini:
  1. Cari istri sholehah yang kelak akan menjadi partner anda dalam mendidik anak
  2. Tegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar kepada anak meskipun masih kecil
  3. Jauhkan dari musik dan tontonan yang merusak
  4. Tanamkan aqidah dan tauhid kepada anak
  5. Perkenalkan kepada anak siapa ahlu sholah dan siapa ahlu maksiat
  6. Orang tua harus mnjadi contoh anak
  7. Orang tua ketika amar ma'ruf dan nahi mungkar harus ada rasa tega diri mereka kepada anak-anak, Contohnya ketika mmerintahkan belajar,banyak orang tua yang tidak tega. Ingat, Emas tidak akan jadi mulianya dan berharga kecuali setelah penempaan yang luar biasa.
  8. Tentukan jadwal anak seketat mungkin, kapan belajar, makan, mandi, bermain, dan orangtua harus istiqomah dan jangan di remehkan dan di langgar
  9. Jangan terlalu memperdulikan perkataan orang dalam mendidik anak kita, tetap istiqomah dan fokus pada tujuan yang ingin dicapai.
  10. Meskipun ada Ketegasan dalam mendidik, orang tua juga harus tetap mempelihatkan Kelembutan kepada anak
Setelah bersusah payah ngubek-ngubek internet, berikut adalah beberapa foto hafiz-hafiz cilik hasil stalking twitter @hafizIndo2014:

5 besar Hafiz Indonesia 2014: Fuadi, Musa, Abiw, Denissa, Aza

Abiw, 5 Besar Hafiz Indonesia yang lucu banget >.<

Abiw & Luqman, duo cimit yang gemesin

Aaaaaaaaaaaa Abiw aaaaaaaaaaaa!! Biar kecil gini tajwidnya jarang salah loh~

Adi Hafiz Indonesia, peserta termuda tahun lalu yang tahun ini ikut lagi.
Udah apal 2 juz. Gedenya pasti ganteng nih

Ini lucu namanya siapa?

Rifa, 5 tahun, 1.5 juz + beberapa surat lain
Musa, 5.5 tahun, 29.5 juz
Hafiz termuda peringkat 12 dari 25 hafiz Internasional (sumber: KLIK)


Rasyid, 7 tahun, menguasai berbagai irama imam besar dunia
Fuadi, 3 besar Hafiz Indonesia adem deh kalo dengerin dia subhanallah :)
Siapa yang nyangka kalo si ganteng ini anak dari seorang supir angkot dan ibu rumah tangga :"

3 cimit: Abiw-Luqman-Adi

Aza, 3 besar Hafiz Indonesia yang iramanya bagus banget :)


Denissa, 4 besar Hafiz Indonesia
satu-satunya perempuan yang bisa bertahan sampe 4 besar

Luqman Hafiz Indonesia

Rasyid Hafiz Indonesia

32 finalis Hafiz Indonesia


Sangat bijak kiranya jika orang tua mendekatkan anak pada kebaikan-kebaikan sejak usia dini. Bukan suatu kebanggaan jika anak usia 3-7 tahun bisa menyanyikan lagu orang dewasa atau berlenggak lenggok menarikan tarian yang sedang booming di tv.
Ingatlah bahwasanya doa dari anak sholeh dan sholehah merupakan satu dari tiga amalan yang tidak akan terputus walaupun sudah meninggal dunia..






GAK KOK BLOG INI GAK DIBAJAK..






BONUS VIDEO BAPAKNYA CIMIT LUCU:



  

UPDATE:
Selamat buat abang Musa juara 1 Hafiz Indonesia, Aza juara 2, dan Fuadi juara 3. SUBHANALLAH KALIAN HEBAAAAT!! :"



Barokallahu fiikum..
Salam kece,




09 July 2014

Dear Jenderal..



Melepaskan tidak pernah terasa selega ini sebelumnya
Walau menyisakan sedikit kecewa, namun aku tau ini yang terbaik
Jalanku tak sama dengan jalan mereka
Walau sekuat tenaga aku coba melaluinya

Setelah berbulan-bulan tenggelam dalam hal yang tak jua memberiku kepastian
Tersesat di sebuah labirin tanpa ujung
Kurelakan setiap air mata dan segala usaha yang telah tercurah
Sesuatu yang baik pasti sedang menungguku di ujung jalan ini

Kau tau bagaimana rasanya pura-pura kuat?
Padahal perih hati tersayat
Kau tau rasanya pura-pura berani?
Padahal sejuta ketakutan bergelojak di hati
Kau tau rasanya harus bertahan
Padahal kuat rasa ingin menyerah terhadap keadaan

Karena Allah tau aku mampu
Allah memilihkan pembimbing hebat untuk menghebatkanku
Aku tidak akan menyerah




"... janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-oran yang kafir." (QS. Yusuf: 87)


Bertahanlah..






28 June 2014

Dear Jenderal..

Masih inget istilah ‘anak bawang’ ga?
Buat anak generasi 90an pasti pernah denger istilah ‘anak bawang’ kan?
Itu loh......

Anu......

Itu.....

Eh kenapa namanya anak bawang ya?
Kenapa ga anak ketumbar? Anak kemiri? Atau anak bumbu dapur yang lain?

Dari vimeo.com


Oke lupakan.

Karir gue sebagai anak bawang dimulai sejak badan adek gue tumbuh dengan tidak berperikekakakan.
Sebagai pemilik badan paling mungil dan muka paling imut di rumah, kasta gue sebagai anak ketiga seolah bergeser jadi anak bungsu.
Dan kasta adek gue naik setingkat jadi anak ketiga. -___-

Sebelum puasa, biasanya gue sekeluarga main ke rumahnya kakak pertama gue, mas Anggiet Sunu Prihatmoko.
Iya, kakak pertama gue udah punya rumah sendiri.
Rumahnya di surga.

Rumah mas Anggiet

Eh kayaknya gue belom pernah cerita tentang mas gue ya?
Jadi sebenernya gue punya 2 kakak 1 adek.
Tapi kakak pertama gue itu udah meninggal.
Jujur sampe sekarang gue ga tau kenapa sebab pastinya.
Soalnya pas mas Anggiet meninggal gue sama kakak gue belom lahir.
Konon ada dua gosip yang beredar di tengah khalayak ramai.
Pertama, karena *piiiip*.
Dan yang kedua, karena *tuuuuut*.
Tapi yang gue yakini kebenaran dan kesahihannya adalah karena emang sudah takdirnya...

Nah kemaren gue sekeluarga main ke rumahnya mas Anggiet.
Seperti biasa, karena emang rumahnya ga begitu jauh, jadinya kesananya naik motor.
Berhubung jumlah orang di rumah gue ganjil, berarti ada 1 orang yang bakal jadi tumbal, kalo ga bawa motor sendiri ya harus rela jadi alay boncengan bertiga.
Sungguh ini pilihan yang amat sangat sulit tau ga sih..
DAN LO TAU SIAPA TUMBALNYA?


Gue....... -_-



Berhubung kita ke rumah mas Anggietnya hari Jumat sore jamnya orang pulang kerja dan macetnya bisa bikin tekanan darah meningkat, akhirnya gue merelakan diri untuk jadi alay.
Selain karena masih cape, gue juga males bawa motor sendirian.
Ga ada temen ngobrolnya kan.
Nah biasanya tuh formasinya gini Bapak-Gue-Adek vs Kakak-Ibu.
Yaudah gue langsung nangkring naik motor bapak.
Tapi taunya kemaren kakak gue udah ngetepin si Adek buat bawa motor.
Dan mereka langsung jalan duluan dengan songongnya.
Alhasil porak poranda lah sudah formasi yang biasa digunakan.
Ibu gue teriak-teriak bingung mau naik sama siapa.
Gue dipaksa turun disuruh bawa motor sendiri.
Gue ga mau.

Tapi setelah diadakan perundingan singkat dan tipu muslihat, gue akhirnya mengibarkan bendera kuning putih.
Akhirnya ibu sama bapak.
LAH TERUS GUE?
Setelah ngerengek sambil guling-guling di tanah sampe diliatin orang-orang, akhirnya gue naik motor bertiga sama kakak sama adek gue.
Coba deh bayangin, ada tiga orang anak gadis sama-sama pake kerudung pake kacamata bocengan naik motor.
Mungkin ini yang disebut alay syariah..


Yunowat, posisi paling menyiksa kalo duduk bertiga adalah posisi tengah. Soalnya bikin pegel.
Dan itu adalah posisi gue.
Kenapa gue yang di tengah? Alasannya adalah karena gue paling kecil, kalo gue duduk di belakang katanya takut terbang.
Omeji -_-
Kalo waktu kecil, waktu kaki lo belom panjang sih gapapalah ya boncengan bertiga.
Lah ini kaki udah mentok tanah masih aja boncengan bertiga -_-
Jalanan Jumat sore yang macetnya luar biasa bikin penyiksaan ini makin terasa berat.
Hiks.
Andai malu dan pegel bisa berpadu jadi kekuatan untuk terbang ya..

Karena ga tega ngeliat kita jadi alay syariah, akhirnya setelah selesai main ke rumah mas Anggiet salah satu dari kita disuruh pindah ke motor bapak.
Nah ketebak kan siapa yang disuruh pindah?
Gue lagi.... -_-
Bukan lebih baik ini malah makin parah yassalaaaam..
Gue berada diantara ibu dan bapak.
UMUR GUE BERAPA SIH SEBENERNYA? -_-
Dan bukannya langsung pulang, ternyata bapak mampir dulu ke rumah pakde gue.
DORAEMON PLIS PINJEMIN AKU PINTU KEMANA SAJAAAAAA >.<

Ga cuma itu aja.
Karir gue sebagai anak bawang semakin menanjak ketika kakak dan adek gue melakukan program diet.
Ketika mereka kompak menjaga asupan makanan yang masuk ke sistem pencernaan, tinggal gue satu-satunya orang yang berpotensi menghabiskan stok makanan di rumah.
Alhasil tiap kali ada orang ke rumah dan ngomentarin badan gue, mereka berdua bakal kompak jawab padahal gue yang makan paling banyak. -_-

Jadi buat kalian yang punya berat badan berlebih, bisa mendonasikannya pada saya yang kurang ideal ini.
Salam kece,