pemikiran aneh

Showing posts with label pemikiran aneh. Show all posts
Showing posts with label pemikiran aneh. Show all posts

Apr 4, 2019

UN Dihapuskan? Yay or Nay? (Part. 2)


Assalamualaikum

Hae.
Mari kita lanjutin tulisan sok-sokan nanggepin ide penghapusan UN kemarin (klik sini dulu kalo belum baca).


Selain kurikulum yang padat dan jam belajar yang panjang, masalah yang ada di lapangan adalah proporsi jumlah guru dan siswa dalam sebuah kelas di sekolah. Tapi kali ini jangan bandingin sama sekolah swasta dulu ya. Karena dari segi harga pun udah beda.


Sumber: dari sini

Di sekolah negeri, rerata satu kelas dihuni 30 sampai 40 orang siswa. Sedangkan gurunya cuma 1. Bayangkan..
Dengan 1 jam pelajaran = 40 menit di SMP atau 1 jam pelajaran = 45 menit di SMA, dengan komposisi kelas yang kayak gitu ditambah tuntutan kurikulum yang ada, yang terjadi di kebanyakan kelas saat ini adalah guru mengajar sekadar untuk memenuhi target kurikulum. Alhasil gurunya mau ngebut, tapi sayang gak semua siswa bisa ngikut. Kemudian timbullah asumsi bahwa pelajarannya itu susah lah, anaknya yang gak bisa ngikutin pelajaran lah, gurunya gak asik lah, dsb.


Hal ini juga yang akhirnya membuat bimbingan belajar di luar sana menjamur bak tukang jas ujan dadakan di musim ujan. Karena sekolah gak lagi dianggap cukup mampu untuk memenuhi tuntutan orang tua terhadap nilai-nilai indah di atas rapor anaknya. Padahal kalo orang tua mau tau apa yang ada di balik layar bimbingan belajar, dan lebih memahami anaknya, mereka gak akan mau capek-capek nyuruh anaknya ikut kelas tambahan dan lebih milih anaknya istirahat di rumah.


Mungkin kalau kurikulumnya dibuat lebih 'santai' dan perbandingan antara guru dan siswa di kelas lebih manusiawi, kegiatan belajar akan lebih asyik ya? Gak akan ada lagi anak yang malu-malu nanya di kelas, dan semua anak dapet perhatian dari gurunya. Gak ada yang terabaikan.


Terus kita gak perlu lah itu belajar segala macem hal banyak-banyak, toh gak semua yang kita pelajarin bakal berguna di kehidupan nyata kan? Belajar sedikit tapi mendalam dan berkesan itu lebih penting daripada belajar banyak kemudian terlupakan.
#Eaaaa


Anehnya, sekolah sekarang ini dianggap sekadar tempat untuk ujian. Yakin deh banyak di luaran sana orang tua yang berpesan ke anaknya untuk belajar yang bener biar nilai ujiannya bagus, biar bisa dapet kerjaan yang keren. Tapi gak banyak orang tua yang berpesan dan mendukung anak untuk cari passionnya selama sekolah supaya nanti pas lulus bisa lanjut cari kuliah yang sesuai passion dan kerja sesuai yang mereka suka.


Halah, penting amat ngomongin passion.
Yang penting tuh kerja, dapet uang.


Gak gitu, gais...
Orang yang bekerja karena passion, sama orang yang bekerja sekadar kerja itu beda. Contohnya, dokter kandungan yang bekerja sesuai passionnya akan bekerja pakai hati. Menjalankan semua tugasnya dengan senang hati, dan menganggap pasiennya perlu dibantu, diedukasi, dan diyakinkan kalau semua perempuan bisa melahirkan normal. Gak peduli walau biaya lahiran normal itu lebih murah daripada caesar.

Orang yang passionnya dagang, bisa jadi pedagang yang jujur tanpa perlu melakukan hal curang dan merugikan orang.

Yang passionnya jadi pemimpin, bisa jadi pemimpin yang amanah. Kerjanya karena Allah, bisa memimpin dengan baik, tanpa pernah mikirin bagaimana caranya memupuk kekayaan sebanyak mungkin untuk keluarganya.

Dan masih banyak contoh profesi lain yang sebenernya bisa kita bedain mana yang kerja pake hati, mana yang cuma mau memperkaya diri.


Nah, ini yang sebenernya perlu diperhatiin.


Karena banyak sekarang ini anak-anak yang lulus SMA, tapi belum tau mau lanjut kemana. Yang kuliah hanya sekadar kuliah demi tuntutan orang tua dan gengsi lingkungan sekitar. Macem drama koreya SKY CASTLE gitu lah. Makanya gak jarang yang akhirnya ngerasa salah jurusan ketika mereka di bangku kuliah. Termasuk yang pernah dialamin pemilik blog ini. Dan begitu lulus bingung mau kerja apa. Ujung-ujungnya banyak yang nyasar kerja di bank. Lulusan pertanian misalnya.


Padahal kalau kita mau buka mata lebih lebar, banyak loh profesi yang lebih keren di luar sana. Bahwa kerjaan keren gak melulu di kantoran pake jas, depan komputer sampe mata kunang-kunang, haha-hihi sambil minum kopi kekinian, nongkrong di emol sambil petantang petenteng bawa barang-barang kreditan demi tuntutan pergaulan. Seolah udah jadi stereotip kalau definisi kerjaan keren ya yang kayak gitu.


Pengalaman beberapa waktu ngikut suami tugas di pedalaman Kalimantan berhasil membuka mata pemilik blog ini bahwa Indonesia punya Sumber Daya Alam (SDA) yang begitu melimpah ruah. Dan profesi yang berkecimpung di dunia SDA, yang kerja di lapangan penuh tantangan, itu keren banget sih. Kita gak boleh biarin orang asing yang ambil alih.


Di sini pentingnya peran guru dan orang tua untuk memfasilitasi. Membantu anak untuk cari tau apa passionnya, kemudian mengarahkan atau memberi gambaran tentang apa yang bisa dilakukan dengan kemampuannya tersebut.
Ini sih kayaknya yang luput dari pendidikan saat ini.


Yang perlu digarisbawahi adalah kita gak perlu memaksa anak untuk menguasai semua bidang. Karena akan jadi kasian ketika dia malah gak tau apa passion dan tujuan hidupnya. Fokus pada kelebihannya, bantu untuk kekurangannya.


Halah ngomong doang.


Sejujurnya pemilik blog ini bukan orang yang super pinter dalam hal pelajaran. Sungguh. Cuma sekadar suka dunia pendidikan dan anak-anak serta ditakdirkan untuk terjun ke lapangan. Iya gitu deh kayaknya. Makanya fokusnya bukan jadiin anak juara olimpiade. Lebih ke pengen ngasih pengalaman belajar yang menyenangkan aja sih. Jadi buat yang gak bisa ya dimotivasi, buat yang udah bisa dikasih tantangan lebih supaya makin percaya diri. Emang butuh effort lebih, pun terkadang ngerasa lelah di tengah jalan, tapi ketika ada anak yang dulunya benci banget Matematika dan udah bertahun-tahun gak ketemu terus nyapa terus bilang, "Alhamdulillah aku keterima di Arsitektur UI. Makasih ya miss udah ngebimbing dulu waktu SMP. Gak sadar itu udah lama banget tapi masih berkesan" itu rasanya terharu pisan..


Karena sejatinya belajar dengan paksaan itu gak baik, sodara-sodara..


Pendidikan bukan sekadar angka di atas kertas. Jauh dari itu, pendidikan seharusnya bisa menyiapkan manusia untuk menjadi pribadi yang baik.


Baiklah, mari kita akhiri tulisan sok tau dan sok pinter 2 episode kali ini. Semoga apa yang disemogakan bisa diwujudkan. Tapi kalo misalnya ndak bisa diwujudkan, ya setidaknya ini pernah ada di pikiran.
Daripada nggak pernah mikirin, ya kan?


Jadi, kalau UN dihapuskan YAY atau NAY nih?


Dari anak paling sok tau di pinggiran kota Jakarta,
Wassalamualaikum


Mar 25, 2019

UN Dihapuskan? Yay or Nay? (Part.1)


Assalamualaikum

Hae.
Rabu, 17 Maret 2019 untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia ada debat calon wakil presiden. Di atas panggung ada KH. Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahuddin Uno. Topiknya tentang pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya.
Wow.
Yang pertama terlintas ketika tau ada debat cawapres adalah 'kenapa?'
Kenapa tumben banget debat cawapresnya dipisah? Biasanya kan jadi satu barengan sama debat capres ya kan? Apa pemilu tahun ini kita bisa milih capres dan cawapres semau kita? Misal pengennya nyoblos capres nomor 01 terus cawapresnya nomor 02 gegara pas liat debat ngeliat capresnya bagusan nomor 01, tapi cawapresnya nomor 02.
Pun sebaliknya.

Sumber: dari sini

Oke, tapi postingan kali ini bukan mau ikut-ikutan nyemplung ke dunia politik maupun menampilkan kecenderungan ke salah satu calon. Bukan. Toh yang punya blog ini sesungguhnya salah satu swing voter yang masih belum yaqueen sama kedua pasang calon.
Tolong jangan bully akuh..


Yang pengen dibahas saat ini adalah pernyataan salah satu cawapres yang menyebutkan bahwa akan menghentikan Ujian Nasional dan akan diganti dengan penelusuran minat dan bakat.
Menarik nih.
YES OR NO?


Mari kita bahas dari kacamata seorang anak muda yang sok tau pernah jadi murid dan sekarang jadi pendidik..
Ashek.


Sebenernya isu tentang penghapusan UN ini udah ada beberapa tahun silam. Bahkan ketika pemilik blog ini masih sekolah. Entah jaman putih biru atau jaman putih abu-abu. Lupa.
Dulu waktu denger kabar itu, sebagai anak sekolahan yang belum punya pikiran jauh ke depan, rasanya bingung dan sedih aja gitu. Beneran deh. Yang ada di pikiran waktu itu adalah lah terus buat apaan capek belajar lama-lama? Terus gimana caranya biar bisa masuk sekolah yang bagus kalau ndak pake nilai UN?

Karena sejujurnya dengan UN alias UAN (istilah jaman dulu) itu bisa bikin semangat belajar penulis blog ini naik. Dengan kata lain UN jadi alasan untuk belajar. Jadi ada motivasi untuk dapet nilai tinggi biar bisa masuk sekolah negeri bergengsi. Iya, kalo ndak ada UN belajarnya mah asal-asalan.
Makanya bingung aja waktu dibilang UN mau dihapus..


Tapi semakin berjalannya waktu, semakin banyak pengalaman dan pelajaran yang didapatkan, akhirnya bisa mengerti kalau sebenernya pendidikan yang sesungguhnya ndak kayak gitu..


Sayangnya mereka bilang UN ndak bisa dihapus karena itu amanah dari Undang-Undang (UU) terkait Standar Pendidikan Nasional. Mereka pun berdalih sampai saat ini pelaksanaan UN udah direformasi, dimana bukan jadi faktor kelulusan lagi. Tapi apa udah cukup? Kenapa harus distandardisasi padahal kenyataannya secara aspek daya dukung dan intake siswa beda-beda?
Eh, bentar...
Mereka itu siapa?
Coba cari di gugel.


FYI, di Finlandia mereka ndak menerapkan UN untuk jadi bagian dari pendidikan. Tapi negaranya bisa jadi negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Mereka cuma ada satu tes standar yang wajib diikutin ketika usianya udah 16 tahun. Udah itu aja. Selebihnya ndak ada PR ataupun ulangan.


Oke, mulai sok pinter -__-


Kalaupun UN tetap mau diadakan nih ya, kenapa ndak tiap hari guru dan siswanya belajar soal-soal UN di sekolah. Istilah kerennya drilling. Toh soal-soal UN tiap tahun indikatornya hampir itu-itu aja kan. Ndak perlu lah nunggu 6 bulan sebelum UN untuk intesif UN. Nanti kalah loh sama bimbel-bimbel di luar sana yang nawarin harga jutaan padahal isinya pembahasan soal doang.


Tapi bukan itu kan tujuan pendidikan?

Tujuan Pendidikan Nasional menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3 adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sayangnya pendidikan saat ini masih berfokus pada teori, hafalan, dan angka di atas kertas. Dimana sebuah angka bisa jadi standar kebanggaan. Bahkan ndak jarang ada oknum guru yang ngasih bocoran soal biar siswanya dapet nilai yang bagus. Bukan cuma ketika UN, pun ketika ulangan harian. Tujuan apa? Biar ndak diprotes orang tua, biar reputasinya bagus, biar ndak capek bikin remedial, biar siswanya bangga walaupun dengan cara yang tidak dibenarkan.
Emang ada kayak gitu?
Banyak.


Tapi ndak serta merta kita boleh nyalahin gurunya begitu aja. Banyak faktor loh ternyata yang mendasari itu semua. Materi yang begitu banyak, jam pelajaran yang terbatas, administrasi guru yang seabrek, sistem penilaian yang makin riweuh, tuntutan standar nilai yang ditetapkan sekolah, tuntutan orang tua murid, dsb. yang akhirnya membuat guru-guru memutuskan untuk potong kompas.


Sedih ya?
Tapi itulah kenyataan di lapangan.
Jadi buat orang tua yang baca tulisan ini, jangan bangga dulu kalau nilai anaknya bagus. Dan jangan suka ngasih kritik berlebihan ke guru sebelum nyobain ngajar.


Lanjut lagi.
Jadi sebenernya yang salah apa?
Yang perlu diperhatikan apa?


Hmm..
Apa ya..
Pembenahan kurikulum sih.
Kurikulum kita terlalu padat tapi kurang tepat.


Oke, mulai sok tau lagi -___-


Begini..
Di Jepang, pendidikan adab itu jadi fokus pertama sebelum mulai belajar ilmu pengetahuan. Tiga tahun pertama di sekolah yang dipelajari adalah tentang cara menghargai diri sendiri dan orang lain, membantu sesama, cara mengantri, cara bersikap di tempat umum, dan lain sebagainya yang emang berguna dalam kehidupan.


Di Finlandia, anak-anak baru boleh sekolah ketika usia 7 tahun. Sebelum nyampe di usia itu mereka dilarang untuk sekolah. Ndak kayak di Indonesia, anak-anak udah diajak berlomba-lomba untuk sekolah sedini mungkin. Terus apa yang dipelajarin di Finlandia? Untuk tingkat elementary school, mereka fokus di reading, writing, dan comperhension skill. Dengan jam pelajaran yang pendek, dan istirahat yang panjang (total 75 menit sehari).


Lain halnya di Indonesia. Pelajaran anak kelas 1 SD sekarang aja udah rumit. Belum lagi kalau harus ikut sekolah yang fullday. Dengan jam belajar yang super panjang, dan istirahat ala kadar, makin pusing lah itu kepala anak. Makanya makin banyak aja kan berita siswa yang 'berontak' di sekolah. Akhirnya guru juga yang jadi kambing hitamnya. Siswa mukul gurunya lah, siswa nantangin gurunya lah, guru lagi ngajar siswanya malah ngerokok di kelas lah, joget-joget ndak pantas di depan gurunya lah, dan masih banyak berita yang ndak ngenakin di luar sana.
Miris..
Padahal jaman jadi siswa dulu mau duduk di bangku guru aja rasanya takut ya..


Tapi kan sebagai guru punya hak dong untuk tegas?
Tidak semudah itu, Ferguso..
Ngadepin anak milenial sama aja kayak ngadepin orang tuanya. Bisa-bisa guru yang dituntut balik kalo kelewat tegas. Entah kenapa, kepercayaan orang tua ke sekolah dewasa ini tuh makin berkurang. Kalo dulu anaknya salah terus dinasehiatin sama gurunya, orang tuanya minta maaf ke gurunya terus anaknya ikut dinasehatin.
Sekarang mah boro-boro...
Anaknya yang salah, gurunya yang dimarahin.
Duh, jangan gitu ya buibuk pakbapak...

Adab sebelum ilmu itu penting.


Belum selesai yes. Kita bersambung ke part.2...


Wassalamualaikum

 

Oct 7, 2016

Bahasa Arab


Assalamualaikum


Mereka mengatakan: Orang miskin adalah yang tidak mengetahui bahasa Inggris, karena ia akan mendapatkan kesulitan dalam memahami perkataan manusia.

Aku mengatakan: Orang miskin adalah yang tidak mengetahui bahasa Arab, karena ia tidak akan mendapatkan kesulitan dalam memahami perkataan Tuhan manusia.


Di hari terakhir anak-anak ujian tengah semester, terjadi sebuah peristiwa yang berhasil mencederai hati siswa dan juga wali kelasnya yang super sensitif nan melankolis.

Ujian jam kedua adalah bahasa Arab. Dari awal soal dibagikan, kelas langsung rame. Katanya soalnya susah. Sang wali kelas yang notabene cuma ngerti shobahul khoirshobahun nur, sama ahlan wa sahlan langsung angkat tangan dan milih jaga lilin di bagian belakang kelas. Kelas pun diambil alih sama partnernya yang memang produk pesantren dan merupakan guru bahasa arab tapi nggak ngajar di kelas ini.

10 menit pertama kelas masih agak sedikit kondusif. Sang partner wali kelas berusaha untuk membantu anak-anak memahami soalnya. Tapi setelah itu...
"MISS INI KITA KAN BELUM BELAJAR."
FYI, dari kisi-kisi yang dibagikan ke anak-anak, ujiannya bab 1 sampe bab 3. Sedangkan yang baru dipelajari cuma bab 1 dan beberapa lembar bab 2. Wajar sih kalo anak-anak protes. Ibarat mau perang, tapi belum punya senjata kan?

Beberapa anak nyamperin wali kelasnya yang lagi duduk di belakang sambil masang muka melas minta dibantuin. Beberapa ada yang pura-pura ke toilet padahal mau nyariin guru Arabicnya buat melakukan aksi protes mogok ujian. Dan ada satu anak laki-laki yang tetiba nangis di tempat duduknya. Pas ditanya kenapa, nggak mau jawab. Disuruh lanjut ngerjain, nggak mau. Pas udah agak sedikit tenang baru deh dia bilang,
"Aku nggak bisa ngerjain, Miss. Soalnya susah banget."
Padahal anak ini nggak pernah nangis di kelas, anaknya dewasa dan bisa diandelin, ganteng pinter juga.

Di saat kelas udah bener-bener nggak karuan, salah satu anak ada yang nyeletuk,
"Aku benci pelajaran Arabic."
Daaaaan......
Seketika terjadilah badai besar yang disertai angin puting beliung.

"HEH KAMU JANGAN NGOMONG KAYAK GITU! KAMU HARUS BELAJAR BAHASA ARAB. NANTI DI SURGA ITU PAKENYA BAHASA ARAB. DI DALAM KUBUR DITANYA MALAIKAT JUGA PAKE BAHASA ARAB. BAHASA INGGRIS SAMA BAHASA INDONESIA YANG KAMU PAKE SEHARI-HARI INI NGGAK BAKAL KEPAKE DI SURGA! MAKANYA NANTI ABIS LULUS SD LANGSUNG MASUK PESANTREN BIAR JAGO BAHASA ARABNYA."
Ya, kurang lebih begitu.

Bagai petir di siang bolong, anak-anak pada bengong. Wali kelasnya juga. Entah terlanjur baper atau emang ngomongnya sinis, tapi kalimat itu berhasil bikin hati berasa disayat-sayat. Pedih. Seketika langsung muncul banyak tanda tanya di kepala sang wali kelas yang jauh dari kata pinter ini.


Apa iya di surga pakenya bahasa Arab?
Kalo nggak bisa bahasa Arab bisa masuk surga nggak ya?
Terus yang udah bisa bahasa Arab yakin banget bisa masuk surga gitu?
Apa yang belum belajar bahasa Arab itu hina?
Apa belajar ilmu selain bahasa Arab itu sia-sia?
dan masih banyak pertanyaan lain yang muter aja di kepala tapi belum berani nanya ke ustadz beraninya nanya google.


Seketika sang wali kelas jadi sedih, kemudian nangis.
Sedih karena nggak bisa bahasa Arab.
Sedih karena cuma ketemu bahasa Arab waktu di TPA jaman dahulu kala.
Dia itu cuma anak pinggiran kota yang nggak paham agama.
Anak cupu yang masih belajar mencintai Tuhannya.
Dari keluarga sederhana yang cuma tau kalo masuk sekolah negeri itu hebat, dan sekolah swasta itu nyusahin orang tua.
Anak yang nggak bisa apa-apa, tapi dititipin Allah amanah yang luar biasa.
Nggak pantes banget rasanya.


Wassalamualaikum
Dari yang masih dan akan terus belajar,


Sep 4, 2016

Nostalgia #1: Telepon


Assalamualaikum

Akhir-akhir ini sinetron jaman dulu diputer lagi di salah satu stasiun TV swasta. Sebut aja **TV. Untuk generasi 90an, pasti ada aja yang keinget kalau nonton acara TV jaman kecil dulu. Eh, iya nggak sih?

Kami ini saksi hidup perkembangan teknologi. Dari dulu jamannya pager, telepon, ponsel masih segede ulekan, disainnya mulai kecil, berwarna, sampe akhirnya ada kamera. Oke, kali ini pengen ngebahas soal telepon.

Telepon pun dulu macem-macem bentuknya. Semakin aneh dan nggak biasa, semakin meningkatlah harga diri bangsa dan negara (apaan sih ki! -_-). Dari yang model angkanya diputer, telepon kabel biasa, sampe telepon portable yang bisa dibawa kemana-mana macem ponsel. Apalagi kalau di rumahnya ada telepon yang paralel dari lantai 1 ke lantai 2. Wuuuiiih... kekerenannya bertambah satu tingkat.

Source: KLIK!


Anak-anak jaman dulu bahagia banget kalau denger bunyi telepon.

Ah, kamu doang kali, ki!

Hehehe iya kali ya. Tapi serius deh, dulu waktu kecil, saya suka berebut untuk angkat telepon sama kakak saya. Dulu tuh selalu diajarin kalau angkat telepon begini:

"Halo, assalamualaikum. Selamat pagi/siang/sore/malam. Dengan keluarga bapak S di sini. Mau bicara dengan siapa?"

Berasa presenter acara kuis.

Tapi dulu kalau jawab teleponnya nggak sopan pasti ditegur sama ibu bapak. Anak-anak sekarang gitu juga nggak sih?

Jaman dulu, waktu awal-awal punya ponsel, kan yang namanya nelepon sama SMS masih mahal ya, jadi telepon rumah tuh berguna banget. Termasuk waktu PDKT. Jaman SMP dulu, walaupun udah punya nomer ponsel, tapi tetep kalau mau ngobrol teleponnya ke rumah. Biar murah. Biasanya nanti orangnya SMS gini dulu:
"Aku mau nelepon ke rumah ya. Mau ngobrol. Nanti kamu yang angkat."
Abis itu stand by deh di depan telepon. Tapi paling awkward adalah ketika lagi nelepon, dan di ruang keluarga ada kakak, adik, ibu, bapak, dan handai taulan yang bisa mendengar semua percakapan. Kalau obrolannya biasa sih nggak masalah, tapi kalau obrolannya udah 'aneh-aneh' macem nyatain perasaan lewat telepon gitu beeeeh..... bisa tau-tau gemeteran, keringetan, dan pengen pingsan.

Serius, itu pernah kejadian.

Source: KLIK!

Sekarang mah enak. Masing-masing orang udah punya ponsel. Kalau ada keperluan bisa langsung ke nomor orangnya. Kalau dulu mah, kudu nelpon ke rumah, nanya orangnya ada nggak, nah kalau orangnya lagi males ngomong biasanya bakal ada drama "tolong bilangin kalau lagi nggak ada di rumah".

Sekarang rasanya udah nggak banyak rumah yang masih pasang telepon. Di rumah saya aja terakhir pasang telepon itu jaman masih SMA. Terus karena gangguan mulu, kresek-kresek mulu, orang Telk*mnya dipanggil suruh benerin mulu, terus katanya gangguan di jaringan kabel-kabel apaan tau, tapi karena di daerah rumah udah nggak banyak yang pake telepon akhirnya nggak mau benerin, dan akhirnya nasib teleponnya berakhir begitu aja.
Hiks.

Sekian dulu postingan kurang kerjaan kali ini. Nanti kalau ada waktu lanjut lagi bagian 2, 3, 4, dan seterusnya yes.

Wassalamualaikum


Aug 14, 2016

Di Balik Layar Full Day School


Assalamualaikum

Beberapa waktu belakangan, lagi rame-ramenya nih berita tentang Menteri Pendidikan kita yang baru mengangkat isu Full Day School alias sekolah sehari penuh untuk pendidikan dasar (SD & SMP). Sebagai pengajar di sebuah sekolah yang lebih dulu mengusung konsep FDS, saya punya beberapa pandangan. Tulisan ini bersumber dari kisah nyata, tapi sama sekali nggak ada maksud mau menjatuhkan pihak mana pun.



Oke kita mulai.




Sebagai siswa FDS,
aku bosen sekolah. Setiap hari aku masuk jam 07.00 dan harus pulang jam 16.00, dengan jadwal pelajaran segambreng dan waktu breaktime sedikit. Pagi-pagi lagi males gerak disuruh sholat dhuha, pas siang lagi asik-asik makan disuruh cepet-cepet biar nggak ketinggalan sholat Dzuhur. Berasa di pelatihan tentara. Sebenernya enak sih, di sekolah bisa ketemu temen-temen. Aku lebih suka main, ketemu temen, main sama mereka, tapi sayangnya nggak bisa. Aku dipaksa untuk duduk anteng, karena yang nggak anteng dianggap anak bandel, dan nelen semua ilmu yang dikasih semua guru yang minta diperhatiin dari pagi sampai sore hari selama 5 hari berturut-turut. Kalau aku nggak merhatiin, nanti aku dimarahin. Padahal aku kan capek. Banyak banget hal yang harus diinget. Banyak hal yang harus ditulis. Otak dan tangan aku butuh istirahat.


Sebagai guru FDS,
saya merasa seperti kerja rodi. FDS menjadikan guru layaknya orang kantoran. Lebih dari orang kantoran malah. Masuk pukul 07.00, pulang pukul 16.00, bahkan kalau ada rapat kita bisa pulang selepas Isya. Ya mau bagaimana lagi, wong waktunya nggak ada. Belum lagi kalau ada pelatihan di hari libur, seolah tidak rela kami beristirahat barang sebentar. Gajinya besar? Belum. Tapi kan pahalanya banyak? Ya mungkin, tapi tanggung jawabnya juga amat sangat banyak. Tugas guru bukan hanya mengajar di kelas, ada setumpuk administrasi yang harus dipenuhi. Nggak heran banyak guru jomblo di FDS. Tolong pak Menteri, perhatikan nasib kami..


Sebagai orang tua siswa FDS,
saya akan merasa tenang, karena saya kerja anak-anak ada di tempat yang tepat. Nggak perlu khawatir anak akan kesepian di rumah, nggak perlu sewa babysitter untuk ngurusin, ya paling untuk anter jemput anak aja. Nanti kalau ada apa-apa sama anak, ya tinggal salahin sekolahnya. Toh si anak lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Belum lagi, mata pelajaran yang lebih banyak dan lebih beragam dari sekolah umum, pasti bisa membuat anak saya semakin pintar dan luas pengetahuannya. Pun saya nggak perlu repot mendidik anak untuk pintar masalah agama. Di sekolah pasti sudah diajarkan bagaimana cara sholat, membaca, dan menghafal Al-Qur'an. Jadi saya bisa bekerja dengan tenang. Mengumpulkan uang untuk nanti anak-anak liburan. Suka ribet soalnya kalau anak-anak ada di rumah.


Sebagai calon orang tua,
saya nggak akan mendaftarkan anak saya ke FDS. Mungkin homeschooling adalah pilihan tepat. Saya ingin mendidik anak-anak saya sendiri, membuat sekolah sendiri, dengan kurikulum sendiri, dan mata pelajaran yang anak pilih sendiri. Tidak mungkin? Mungkin. Oleh karenanya saya harus terus belajar.



Sekian dan mohon maaf sebesar-besarnya.

Wassalamualaikum



May 14, 2015

Malu sama Ikan


Dear Jenderal..

Meskipun track record gue di dunia melihara hewan sudah tidak diragukan lagi keparahannya, tapi gue sebagai anak gadis yang gigih dan pantang menyerah kembali mencoba peruntungan dalam dunia pelihara melihara tuyul hewan. Setelah kura-kura, bebek, ayam, dan tamagotchi yang berakhir di tempat pembuangan, pilihan selanjutnya jatuh kepada ikan. Seperti biasa, keinginan kayak gini tuh munculnya tiba-tiba. Tetau kepikiran aja gitu pengen melihara tuyul ikan. Pemilihan ikan sebagai hewan-yang-niatnya-mau-dipelihara-dengan-penuh-cinta ini didasari oleh 3 perkara, yaitu:

  1. Gue suka berenang
  2. Bapak gue suka nonton Finding Nemo
  3. Gue suka makan ikan


Ikan pertama gue ada 3 ekor. Entah jenis apaan gue juga gatau, pokonya ikannya kecil lincah bisa guling-guling. Karena ikannya kecil, gue pilihin stoples yang ga terlalu gede sebagai rumahnya biar dia ga perlu repot nyewa pembantu buat ngurusin. Tapi ternyata gue salah. Dalam tempo kurang dari 12 jam, 1 dari ketiga ikan tersebut udah bergaya dengan posisi yang ga selayaknya ikan normal, miring-miring ngambang. Gue teriak manggil bapak, terus kata bapak masih bisa diselamatkan. Langsung deh dikasih pertolongan pertama. Bukan di kasih napas buatan, tapi diangkat terus dicemplungin ke ember kamar mandi. Beberapa jam kemudian ikan itu kembali berenang dengan lincahnya. Bapak gue emang hebat.

Sayangnya, 2 ekor ikan yang lain udah terlanjur sedih terus frustrasi gegara ditinggal temennya. Di pagi hari yang cerah, mereka ditemukan tewas mengambang dengan indahnya. Innalillahi..

Tapi ternyata ikan yang di kamar mandi itu juga ga mau gue pelihara. Ga mati sih, sehat banget malah. Tapi...
Di suatu pagi yang damai, konon ketika bapak di kamar mandi dan sedang mengguyur sesuatu-yang-tidak-perlu-disebutkan-itu-apa di wc, ikannya ikut terjun bebas. Hemmmmppppffffttttthhhh *kibar bendera kuning*

Akhirnya beli ikan lagi. Sekarang belinya 2 ekor, tapi ikan mas koki gedut lucu kayak kamu.
Iya kamu..
Namanya Fernandes sama Paulina. Gue ga tau sih itu mereka jenis kelaminnya apa, tapi yaudah lah namain gitu aja. Alhamdulillah awet sampe sekarang. Prestasi loh ini, udah hampir 2 minggu belum mati. Mungkin inilah bakat gue sesungguhnya.

Tapi 2 minggu ngerawat ikan 2 biji ternyata bete juga. Kesel soalnya kok ga gede-gede ikannya. Terus bapak tetau beliin ikan lagi 9 ekor. 7 ekor ikan sejenis kayak yang waktu kemaren mati sama 2 ekor ikan cantik mahal (goceng cuma dapet 2) yang sama gue juga ga tau itu ikan apa. Ember gue jadi rame.


Punya peliharaan itu enak. Bisa ngilangin penat. Aneh ya, padahal cuma ngeliatin ikan mondar-mandir-mangap-mangap sana sini, tapi rasanya seneng aja gitu. Kadang gue mikir, ikan apa ga bosen ya tiap hari kerjanya mondar-mandir-mangap-mangap doang? Habitatnya juga di situ-situ doang, kerjanya gitu doang, tapi dia ga pernah protes tuh ke Allah. Mungkin kalo dia bisa protes kayak manusia, dia bakal bilang gini, "Ya Allah, aku bosen tiap hari kerjanya cuma mondar-mandir-mangap-mangap doang. Aku mau mogok napas. Aku mau mati aja."
Beda kan sama manusia. Manusia mah enak, banyak tempat yang bisa dikunjungin, banyak orang yang bisa diajak ngobrol, banyak juga kegiatan yang bisa dilakuin, tapi kadang kita suka lupa bersyukur.
Iya ga sih?
Pernah dong ngerasa jenuh sama kerjaan yang gitu-gitu aja?
Pernah dong ngerasa bosen sama hidup yang monoton?
Bisa jadi itu karena kita kurang bersyukur.
Masih inget kan caranya bersyukur?
Atau jangan-jangan karena saking sibuknya jadi lupa gimana caranya bersyukur ya?
*ini tuh mau nulis apaan sih ki -_-*

Oke balik lagi ke masalah ikan.
Udah 3 hari ini ikan gue mati satu persatu. Gue bingung. Perasaan makanannya terjaga 4 sehat 5 sempurna, tempat tinggalnya bersih, airnya dari mata air pegunungan yang rasanya beda kayak ada manis-manisnya gitu. Atau jangan-jangan ikan-ikan gue abis protes ke Allah ya?
Tapi berdasarkan hasil pengamatan gue, ditemukan beberapa jentik nyamuk di dalam ember tempat ikan bersemayam. Ini pasti mimpi.
Di daerah rumah gue kebetulan lagi banyak yang sakit. Ada yang DBD, ada yang tipes, ada yang muntaber, dll. Setelah melihat, mempertimbangkan, dan menganalisis fenomena alam, akhirnya gue simpulkan bahwa ikan gue mati karena suspek DBD gegara mainnya sama jentik nyamuk di ember. Padahal udah gue bilangin kalo bertemen tuh ati-ati. Hiks :"


Salam kece,




Sep 1, 2014

Kau Percaya Takdir Kan?


Source: KLIK!

Kau percaya takdir kan?
Takdir membawaku kembali ke tempat ini
Menikmati setiap gram zat adiktif yang tersembunyi dibalik senyum dan sapa mereka
Sebuah candu yang menyenangkan

Kau percaya takdir kan?
Di atmosfer ini aku dikembalikan
Dimana sapa dan doa bergabung menjadi penyembuh sayap yang sedang luka
Kusebut mereka keluarga

Kau percaya takdir kan?
Di tempat yang sama setaun kemarin
Terukir banyak cerita teristimewa
Senyum, tawa, air mata
Masih dapat kuingat jelas rasanya

Kau percaya takdir kan?
Aku yang masih tersesat dalam bayang-bayang kenangan
Melihat kita masih berdiri di tempat ini
Meringkuk bersama menanggung beban dunia
Ternyata waktu tak mengijinkanku menghapus itu semua

Kau percaya takdir kan?
Telah kulangkahkan kakiku menjauh
Melewati waktu bersimbah air mata
Namun takdir menggiringku ke tempat ini lagi
Mengais sisa kenangan yang masih berserakan

Jadi, kau percaya takdir kan?






Aug 31, 2014

Mendengarkan Itu Sulit



Allah memberikan dua mata, dua telinga, dan satu mulut agar kita bisa lebih banyak melihat dan mendengar sebelum berbicara

Telingamu yang jumlahnya dua berguna untuk mendengarkan secara berimbang

Sisi kanan, sisi kiri

Tak hanya dari satu sisi

Mendengar itu sulit

Belajar membunuh spekulasi pribadi

Agar tidak main hakim sendiri

Pun matamu yang dua jumlahnya, ajaklah mereka mencari lebih banyak

Membaca lebih banyak

Mengamati lebih bijak

Sebelum kamu persilakan mulutmu berkomentar

Bisa kan bersikap lebih adil?

Dengarkanlah, dengan mendengar kau bisa banyak belajar

Lihatlah lebih banyak, dengan melihat kau bisa lebih bijak


Yang masih belajar mendengarkan,







Jun 8, 2014

Misteri Tewasnya Ayam Bapak


Dear Jenderal..

Setelah tidak sukses melihara bebek, akhirnya bapak gue pindah haluan untuk melihara ayam.
FYI, bapak gue udah pernah melihara ayam sebelumnya.
Jam terbangnya udah banyak, pengalamannya udah segambreng, prestasinya segudang, dan pernah menyabet penghargaan sebagai pemelihara ayam teladan sekecamatan makasar. *oke ini lebay -_-*

Hari ini ayam bapak gue tetiba mati lagi.
Minggu lalu ayam jagonya juga baru mati.
Tanpa pamitan, tanpa ngasih pertanda apa-apa, tanpa nulis surat wasiat.
Gimana ga galau coba.........

Gambar pinjeman dari timquilts.com

Sebagai anak kesayangan bapak yang sering diberi titah untuk ngasih makan ayam, naluri detektif gue pun mencuat ke permukaan.
Gue mulai menggunakan kemampuan analisis matematika untuk menganalisis faktor-faktor apa aja yang bisa menjadi penyebab tewasnya ayam bapak secara tetiba.
Berikut adalah beberapa dugaan yang sempat singgah di pikiran gue:
1. Ayamnya sakit
2. Ayamnya digigit uler
3. Ayamnya diganggu makhluk astral

Berdasarkan dugaan yang diajukan, tanpa membuat analisis data lebih lanjut dan melakukan perhitungan statistika, didapatkan hasil terima H0 dan tolak H1 pada dua hipotesis awal.
Ini berarti tidak ada pengaruh antara kedua variabel tersebut dengan kematian sang ayam. (ini apaan sih ki -_-)
Kata bapak, ayam-ayam yang tetiba mati itu tadinya kondisinya sehat wal afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun.
Makanannya senantiasa terjaga, 4 sehat 5 sempurna. Table manner selalu diperhatikan. Sendok, garpu, pisau semua direndem air panas dulu dengan suhu 200°. Dilarang makan sebelum cuci tangan pake desinfektan.
Pergaulannya dibatasi, ga boleh main sama ayam-ayam alay yang bulunya diombre.
Adat istiadat dijunjung tinggi. Ayam jantan dan betina dipisah pake hijab 3 rangkap.
Terjaga banget kan?

Gambar pinjeman dari wapday,com

Maka dari itu, muncullah dugaan yang ketiga, diganggu makhluk astral.
Sebagai penonton setia acara uji nyali di tipi, gue ngerasa kalo ini bukan kejadian biasa.
Buat yang pernah nonton film Conjuring, di sana ada scene dimana peliharaan yang punya rumah mati mendadak karena............duh gue ga sanggup ngelanjutinnya.

Setelah kejadian ini, mungkin bapak bakal meriksain ayam-ayam yang ada ke dokter hewan.
Eh, tapi di kampung makasar ga ada dokter hewan.
Kalo diperiksa di bidan aja bisa ga sih?

Yang menyedihkan dari kasus ini adalah ayam yang mati hari ini baru aja punya anak yang lucu-lucu. :"
Begitu induknya terkapar tak berdaya, semuanya langsung men-'ciapciap' minta tolong.
Sekarang anak ayam yang lucu-lucu itu dievakuasi di dalem kardus dan diberi kehangatan dari sebongkah lampu pijar.
Bayangkaaaaaaaan....
Anak sekecil itu udah ditinggal induknya.
Gue bisa ngebayangin gimana sedihnya. Hiks. :"
Makanya buat yang masih punya orang tua, ayo disayangin ya bapak ibunya ya.
Jangan sampe urusan dunia bikin kalian lupa sama mereka.

Gambar pijeman dari s217.photobucket,com

Sampe tulisan ini diturunkan, polisi (baca: bapak gue) dan anak buahnya masih menelusuri kasus endemik ini.
Ya baiklah mari kita doakan bersama-sama agar amal dan ibadahnya diterima oleh Allah SWT, serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Aamiin.
Salam kece,






Mar 20, 2014

Jungkir Balik Dunia Skripsi


Dear Jenderal..

Skripsi.
Es. Ka. Er. I. Pe. Es. I.
Satu kata yang terdiri dari tujuh huruf yang bisa merubah kehidupan normal kalian jadi ga normal.
Satu kata yang bisa bikin susah tidur, lupa makan, panas dalam, mual-mual, nangis sesenggukan, dan jerawatan.
Satu kata yang bikin waktu terasa jalan begitu cepat.
Satu kata yang bisa bikin para jomblo bersyukur ga punya pacar.

Sambil terus jalan, gue pengen tetep ninggalin jejak di sini.
Bukan mau mengabadikan lebih banyak memori, tapi cuma kasian aja sama yang kerjanya bolak balik ke blog ini nungguin postingan baru hahahaha.
Pasti kalian merindukanku kaaaan?
IYA KAN IYA KAAAAN??

Gambar Pinjeman

Walaupun jalan gue gak mulus-mulus amat, gue mau coba berbagi tips nih buat kalian yang lagi bergulat sama yang namanya skrispi yummy ulala cetar membahana itu.
Siap-siap ya..
Tarik napaaaaaaaaas....



TAHAAAAAAAAN....



BUAAAAAAAAAAAANG...



Tarik na...*PLAK! KELAMAAN KI!*

Oke oke maaf.
Berikut adalah tips mengerjakan skripsi ala kembarannya Laura Basuki:

1. NIAT
Ini hal yang amat sangat krusial. Satu kata yang bisa mematikan pergerakan. *eh? apaan sih ki?*
Yang namanya ngerjain skripsi tuh pasti banyak banget halangannya.
Dari yang males lah, ada yang ngajak main lah, nyasar ke folder film lah, nyasar ke sosial media lah, dan masih banyak lah-lah yang lain lah..
Tapi semua itu ga akan berpengaruh kalo kalian membentengi diri kalian dengan niat yang kuat. #tsaaah
Coba pas halangan itu dateng kalian inget kedua orang tua kalian, yang udah biayain kalian sampe sejauh ini.
Mereka ga bakal minta diganti uangnya, tapi mereka pasti pengen ngeliat anaknya pake toga.
Percaya deh :"

2. KERJAIN
Nah kalo udah punya niat, langsung deh kerjain skrispi yummynya.
Karena punya niat aja ga cukup bro.
Tetep harus dikerjain.
Seinstan-instannya mie instan kan juga ada prosesnya.
Sama kayak skripsi.
Ga instan.
Perlu banyak revisi dan air mata selama prosesnya.
Nikmatin aja :)

3. CARI TEMEN SEPERJUANGAN
Selain bikin semangat ngerjain, ini juga bisa jadi pengingat kita.
Gue sih nyebutnya pembimbing 3.
Di fase skripsi, kalian akan terbiasa sama yang namanya sendirian, ketinggalan, jatuh, bangun, jalan, lari, terbang, duluan, dll. Oke ini lebay.
Temen seperjuangan itu kayak saingan.
Saingan yang sehat tentu aja.
Bikin target bareng, saling nyemangatin, saling ngingetin.
Setidaknya bikin kamu ngerasa kalo kamu ga sendirian.
Tapi kalo kelak temen seperjuangan kalian jatuh terus memutuskan untuk istirahat sejenak, kalian jangan ikutan istirahat.
Tetep lanjutin perjalanan, tetep semangatin temennya biar nanti bisa sampe garis finish bareng-bareng :"

4. LIAT TEMEN YANG UDAH JALAN JAUH
Kalo untuk yang satu ini sebenernya rentan bikin galau nih.
Di satu sisi kita bisa jadi termotivasi untuk ngejar ketinggalan.
Tapi di sisi lain, kalo ga kuat mental, yang ada malah bikin ngedown.
Itu wajar kok.
Yang penting saat nge-down kalian ga lupa untuk nge-up lagi. *apaan sih ki -_-*

5. PASANG FOTO DOSEN PEMBIMBING
Dengan pasang foto DP jadi wallpaper di hape, harapannya sih bikin jadi ngerasa punya kewajiban untuk ngerjain skrispi gitu.
Selain itu bisa mengurangi tingkat ketakutan pas mau bimbingan hahahaha.
Serius loh.
FYI, di prodi pendidikan matematika itu dosen pembimbing ditentuin sama jurusan.
Jadi mau ga mau, suka ga suka, lo harus terima siapapun pembimbingnya.
Kalian pernah denger pepatah "jangan terlalu benci nanti malah jodoh"?
Jadi ceritanya gue pernah trauma sama satu dosen dari jaman semester 1, dan yunowat......
SEKARANG BELIAU JADI DP GUEEEEEEEEEH!!!
Ini namanya jekpot bro.
DP gue adalah dosen yang terkenal sangat perfeksionis di seluruh alam semesta.
*AMPUN BU AMPUUUUN >.<*

Terus DP gue yang satunya adalah seorang Pembantu Dekan yang ga usah dibayangin sibuknya kayak apa.
Beliau telah dinobatkan jadi orang tersibuk nomer 3 di Indonesia versi on the spot setelah pak SBY dan pakde Jokowi.
#AKURAPOPO

Cimitnya ucu aneeet >.<

6. BANYAK NANYA
Cari temen atau kakak tingkat yang sebimbingan.
Ini ibarat ngestalk gebetan gitu.
Gali informasi sebanyak-banyaknya tentang dosen pembimbing kalian.
Mulai dari tipe bimbingan, pantangan, nyari lagu kesukaannya juga boleh.

7. BERDOA
Usaha maksimal juga harus diiringin sama doa.
Minta sama yang punya skenario hidup untuk diberikan kekuatan ngejalanin ini semua.
Ga perlu ngiri sama jalan orang lain.
Setiap orang punya jalan hidup masing-masing kok.
Kalo minta dimudahkan boleh ga sih?
Ya seterah sih, tapi akan lebih bijak kalo berdoanya ga ngatur-ngatur Allah.
Percaya aja kalo Allah pasti lebih tau yang mana terbaik buat hambaNya.
Tinggal kita berusaha semaksimal mungkin :)



Udah deh itu aja dulu.
Salam kece,






Mar 7, 2014

Mencoba Gaul: Nonton Teater JKT48


Dear Jenderal..
HOLAAAAAAAAAAAH!!

HAI KAMU YANG DI SANA LAGI NGAPAIIIIIN??
KANGEN SAMA AKU GAAAAAAK??
IYA AKU UGA ANEN AMA AMUUUU UWUWUWUW :3

Oke lupakan postingan terakhir gue yang terkesapn kayak orang frustrasi beberapa waktu lalu.
Sekarang gue mau cerita pengalaman gue nonton teater JKT48 minggu lalu.
YEEEEEEEEEY AKHIRNYAAAAAAAAH!!!!

Jadi ceritanya beberapa tahun silam gue sama Liana Putri Maharani alias Kapten Kinal KW 14045 punya keinginan yang sama, yaitu nonton teater JKT48.
Tapi karena kita ga ngerti gimana caranya kesibukan kita yang begitu padatnya, akhirnya keinginan itu cuma jadi sebuah wacana.

Sampe di suatu hari yang cerah, entah ada angin apa, tetiba gue pengen ngajakin dia nonton.
Dan tetau dia pun ngajakin gue nonton.
Hmmm.. Jangan-jangan kita jo..........mblo -_-


Semesta pun mendukung gue dan dirinya yang tidak perlu disebutkan lagi namanya karena bakal ngabisin waktu, tempat, dan tenaga (ini bukannya malah lebih panjang ya ki? -_-) untuk nonton teater JKT48.
Tersebutlah seorang kakak tingkat bernama Ahmad Alfathani memberi kabar kalo tanggal 2 Maret 2014 itu jadwalnya Ladies and Kids.
Untuk penonton pemula yang cantik-cantik, kayaknya ini lebih aman dibanding hari biasa yang katanya penuh dengan fans-fans cowok yang....... *tetiba lupa mau ngetik apa*

Akhirnya karena ga ngerti prosedurnya gimana, kita minta tolong kakak itu untuk ngurusin masalah tiketnya.
Jadi tuh katanya tiketnya beli di jkt48.com.
Ya gitu lah.. gue ga ngerti.
Pokoknya tau-tau kita dapet verif buat nonton ke sana gitu.

Tiket Teater JKT48

Jam setengah 10 pagi gue udah nangkring-nangkring galau di fx Sudirman.
Celingak-celinguk sendirian, ga ada yang dikenal, dan keadaan teater masih gelap gulita.
Akhirnya gue pun memutuskan untuk jalan-jalan ngiterin lantai 1 sampe lantai 7, kemudian turun lagi ke lantai 1, terus naik lagi ke lantai 4, gitu terus sampe ketemu jodoh.
Setelah cape jalan-jalan galau, akhirnya gue menyerah dan milih nunggu dengan sabar di depan teater sambil ngajak ngobrol siapapun yang bisa diajak ngobrol.
FYI, teater JKT48 ada di lantai 4 fx Sudirman.
Ga susah kok nemuinnya.


Setelah beli tiket seharga Rp50.000, kita nunggu bingo.
Jadi di tiket itu ada tulisan bingo berapa gitu.
Nah nanti kalo bingonya disebutin kita baru bisa masuk.
Ngerti ga?
Ga ya?
Yaudah gapapah...
Gapapah...

Oiya, harga tiket untuk cewek sama cowok beda loh.
Kalo cewek kan Rp50.000 ya, nah kalo cowok Rp100.000.
Kenapa gitu ya?
Ah ini pasti konsiparsi... eh... konspirasi.... *apaan sih kiiiiii -_-*

Gue sih ga paham sama fans yang bolak-balik teater sampe berpuluh-puluh kali bahkan sampe ngoleksi semua barang yang dijual di sana.
Misal aja nih ya, lo cowok dan lo udah nonton 20 kali, itu artinya 20 x Rp100.000 = ............. -_-
Belom lagi beli lightstick, beli kaos, beli CD, DVD, photopack, photobook, dll.
Selama di sana gue berdoa semoga jodoh gue ga suka mangkal di tempat ginian.
Aamiin.

Teater yang gue tonton kemaren judulnya "Dareka no Tame ni" yang artinya "Demi Seseorang".
Buat yang belom pernah nonton jangan bayangin mereka bakal adu akting kayak di pementasan teater biasanya.
Di sana kita cuma duduk manis ngeliatin mereka nyanyi-nyanyi sambil joget-joget dengan rok pendek yang berkibar kemana-mana.
Sekarang gue tau kenapa banyak cowok suka main ke sana....
HAYO NGAKU! --"

Selama teater, jujur gue ga ngerti mereka nyanyi lagu apaan.
Ya emang gitu sih biasanya gue butuh beberapa kali dengerin sebelum akhirnya gue suka sama lagu mereka.
Karena gue ga tau, akhirnya gue cuma melongo sambil berharap ini segera berlalu.
Kalo ga ngerti lagunya emang biasanya waktu berapa lama banget ya -_-

Saat yang lain neriakin nama oshinya, gue malah teriak nama "LIANAAAA!!".
Ya abis gimana, gue kan emang ga ngefans sama orangnya.
Paling yang menarik perhatian gue itu Jeje, yang jago main piano sama gitar.
Hebat ya..
Gue cuma suka lagu-lagunya yang emang agak aneh liriknya itu, koreografinya, sama seifukunya doang.
Ya ada beberapa seifuku yang ga banget sih..
Seifuku mereka bagus, kayak yang ada di anime-anime gitu.
Kalo lagu emang sih agak aneh, tapi gue suka sama musiknya.
Dan kalo didengerin secara saksama dan dalam tempo yang selambat-lambatnya, insya Allah kalian bakal nemuin bagian yang bagus. *eh? iya ga sih?*
Oiya di soundcloud banyak loh yang covering lagu mereka dan bagus-bagus!
Soundcloud favorit gue punyanya Oaktheory_ID sama punya Patudu Manik.
Koreografinya juga bagus. Bisa bikin gue ikutan jejogetan di rumah sampe dimarahin orang-orang rumah hahahahaha.

Setelah selesai, kita bisa hightouch sama semua membernya.
Rasanya.... biasa aja.. *PLAK!!*

Dari pengalaman nonton teater kemaren, akhirnya gue sadar satu hal....
GUE GA COCOK NONTON GITUAN.
Keluar dari teater kuping gue budeg seketika dan kepala gue nyut-nyutan.
Gue kapok.
YA IYALAH NONTON INDONESIAN OPEN AJA MARAH-MARAH GEGARA KEBERISIKAN INI LAGI SOK-SOKAN NONTON TEATER -_-

Yaudah deh udah dulu eaaaaph..
Salam kece,






Jan 5, 2014

I Not Stupid Too 2


Dear Jenderal..


Saat kita masih kecil, ada begitu banyak dukungan dan pujian untuk membantu kita melewati rintangan.
Kita tidak sadar betapa beruntungnya kita saat itu.
Seiring waktu berlalu, dukungan dan pujian itu berubah seiring kita beranjak dewasa.
Semua jadi berbeda.

Berikanlah lebih banyak pujian.
Lihatlah sisi baik seseorang.
Apa itu sulit?
Semua orang butuh pujian.
Tapi kenapa kita ragu untuk sekadar memberi pujian?

Dalam diri setiap anak, ada sisi gelap dan sisi terang.
Carilah sisi terang, dan semua yang baik akan muncul.

Ada pepatah yang berbunyi, “Barang berguna dipakai dengan salah akan jadi tidak berguna. Barang tidak berguna dipakai dengan benar akan jadi berguna.”

Dari sini kita belajar, pengakuan terhadap seseorang adalah sumber kekuatan.
Keajaiban ini mungkin berasal dari sepatah kata yang paling sederhana.
Ekspresi atau tindakan yang paling kecil sekalipun.
Kita tak pernah tau apa yang bisa kita ubah.

(I NOT STUPID TOO 2)


Sebenernya ini film lama, dirilis tahun 2006.
Sekuel dari I Not Stupid yang rilis tahun 2002.
Awalnya gue pikir judulnya salah tulis, eh tapi ternyata bener.
Emang Singlish itu agak aneh ya..
Film ini udah bertengger dengan cantik di laptop gue dari jamannya Malin Kundang belum dikutuk jadi batu.
Tapi 2014 gue baru sempet nonton -_-

Sebuah tontonan wajib untuk orang tua, calon orang tua, guru, calon guru, anak-anak, remaja, dan juga bapak menteri pendidikan tercinta.
Banyak pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Ada juga pembenaran atas apa yang gue lakukan beberapa waktu lalu saat praktek ngajar di sekolah.

Ada karakter orang Indonesia juga loh di film ini.
Namanya Yati.
Sayangnya cuma jadi pembantu.
Hmmmm......

Salam kece,






Oct 25, 2013

Tips Gaul Hemat Anti-Mainstream


Dear Jenderal..

HUALOOOOOOH!!!
I'M BAAACCCKKK!!
Akhirnya yang punya blog ngapdet blognya lagi nih.
Kamu pasti kangen aku kan? Iya kan iya dong bener kan bener dong?
Hahaha iya aku tau kok kamu rajin bolak balik ke sini cuma buat tau kabar aku.
Makasih ya. Hiks aku tau aku ngangenin. *PLAAAK!*

Gue akan kembali nulis dengan bahasa yang acak adut yang pasti akan jauh dari tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Selain karena ada yang bilang kalo tulisan gue akhir-akhir ini terlalu serius, gue juga ngerasa lebih kece kalo nulis pake bahasa sehari-hari. (eh? iya ga sih? ga ya? YAUDAAAAAH!)

Udah lama ya ga nulis di sini.
Udah lama juga gue ga nulis sebebas sekarang.
Rasanya kemaren itu gue kayak kehilangan jati diri gitu. (Halaaah..)

Kali ini gue akan menuliskan sesuatu yang kurang penting.
Nah, karena kurang penting atau bahkan malah ga penting sama sekali, mending lo ga usah baca deh.
Langsung close tab kalo ga banting aja hp, leptop, tablet, dan sebagainya yang lagi lo pake buat baca tulisan ini.



















Kok masih dilanjutin?
Yakin masih mau baca?
Baiklah.. Semoga ga nyesel ya.








Berawal dari hobi mangkal sendirian di minimarket, akhirnya gue pun memutuskan untuk menyebarluaskan hal keren ini ke orang-orang.
Dan sungguh luar biasa respon yang gue terima, ternyata cara ngegaul ala gue ini diterima dengan baik oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia. (oke ini lebaynya luar biasa)
Mulai dari anak balita sampe lansia, semua suka cara ngegaul palin kece abad ini.
Mulai dari anak sekolah sampe kelompok PKM yang isinya orang-orang setengah gila, mereka ngedukung gue jadi duta Indoma*piiip* cara ngegaul yang awalnya dipandang sebelah mata ini.

Seumur-umur gue belanja di minimarket, gue ga pernah sebahagia orang yang ada di foto ini. (Sumber: KLIK!)

Kenapa minimarket?
Kenapa ga di Sev*piiip*?
Kenapa ga Laws*piiip*?
Kenapa ga di Circle*piiip*?
Kenapa banyak nanya sih? -____-

Jadi...
Alasannya adalah karena di sini gampang banget nemuin minimarket, Jenderal!
Serius deh. Hampir tiap meter ada kali.
Dan biasanya jaraknya deketan tuh minimarket yang satu itu sama yang satu itu.
Persaingan jaman sekarang makin ga sehat, bro.
Ga cuma acara tipi yang isinya main sindir-sindiran satu sama lain, tapi minimarket yang satu itu sama yang satu itu sikut-sikutan pengen nguasain pasar.
Ga peduli lagi jarak, asal ada lahan kosong langsung buka usaha seenak jidat. (Sok tau lu ki! -_-)

Oke, udah cukup tulisan sok taunya.
Sekarang gue mau ngasih tau cara ngegaul yang paling gaul saat ini.
Caranya sangat gampang pemirsah.
Lo cukup dateng ke minimarket terdekat (biasanya inisialnya 'indo' atau 'alfa', dan biasanya letaknya berdekatan), lo masuk ke dalem, ambil es krim atau apa aja yang mau lo ambil, kemudian duduk ngegembel di depan minimarket tersebut.
Gampang kan?

Tapi gue punya beberapa tips nih buat yang pengen ngerasain ngegaul hemat yang anti-mainstream.
Perhatikan baik-baik dan catet ya biar ga lupa!

1. Harus ada kemauan atau tekad yang kuat
Kenapa harus ada kemauan? Karena dimana ada kemauan di situ pasti ada jalan.
Karena kalo ada kemauan, segala macam badai yang menghadang tidak akan mampu menghalangimu untuk sampai ke tujuan. (tsahelah ki..)

Sumber: KLIK!


2. Siapkan uang secukupnya
Yap. Untuk jadi anak gaul metropolitan kita harus punya modal, bro. Tapi sebagai anak gaul yang budiman, kita pun perlu memperhatikan aspek penghematan. So, siapkan uang secukupnya aja. Kita kan harus belajar memenej uang sedari kecil, betul tidak? Jaga mata, jaga hati. Jangan cepet kalap.

Sumber: KLIK!


3. Pilih yang ga ada tukang parkirnya
Ini adalah hal yang amat krusial. Ibarat milih calon suami, kalo dia ga bisa ngaji, ya tinggalin. Eh... maksudnya pertahanan pembuluh dompet bisa semakin kritis kalo ada tukang parkir. Soalnya bakal ada anggaran tambahan, yaitu anggaran tukang parkir. Sekali lagi, sebagai generasi penerus bangsa yang baik tutur kata dan tingkah lakunya, kita harus pandai-pandai mengatur pengeluaran demi masa depan yan gemilang, sodarah-sodarah! Hahahahahalasan.

Sumber: KLIK!

4. Pilih yang tempatnya kondusif
Maksud dari tempat yang kondusif di sini bukan yang ada bangku, meja, sofa, AC, apalagi yang tempat tidurnya. Maksud kondusif di sini adalah yang ga ada alay lain mangkal di tempat itu, soalnya nanti bisa saingan -_- (apadah ki..)
Ada atau ga tempat duduk bukan masalah. Lo harus banget ngerasain berbagai macam variasi minimarket yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Soalnya beda tempat beda sensasinya.
Ga selamanya yang ada tempat duduknya itu lebih asik dibanding yang lesehan.
Dan ga selamanya juga yang tempatnya besar lebih nyaman.
Sama kaya milih pasangan. Ga selamanya yang keliatan baik di pandangan bisa bikin nyaman. (Jiaaah.. mulai deh -_-)


LAMPIRAN:





Bukan masalah dimana dan kemana, tapi dengan siapa.
Bukan dimana tempat lo ngegaul, tapi dengan siapa lo ngegaul.
Karena kebahagiaan pun bisa datang di tempat yang ga pernah duga.
Karena sesungguhnya bahagia itu sederhana. *tsahelah..*

Sekian dari akunya.
Salam kece,