pregnancy journey

Showing posts with label pregnancy journey. Show all posts
Showing posts with label pregnancy journey. Show all posts

Feb 12, 2019

Mari Mengenal IUFD


Assalamualaikum

Hae.
Setelah cerita pengalaman Blighted Ovum (BO) kemarin yang di link INI, sekarang mari kita lanjutin cerita tentang pengalaman IUFD alias Intra Uterine Fetal Death alias Kematian Janin Dalam Kandungan alias KJDK. Tapi mungkin ceritanya sebisanya aja ya. Karena kata dokter aku harus bahagia...
Hiks.


Oke, sebelum mulai mari kita awali dengan sebuah pertanyaan.

Apa sih bedannya IUFD dengan keguguran?

Konon katanya kalau usia kandungan sudah di atas 20 minggu atau berat janin udah 500gr dan organnya sudah lengkap, itu disebut dengan IUFD. Tapi kalo di bawah itu disebut keguguran atau abortus. Selain beda istilah, beda pula penanganannya. Kalo IUFD sang ibu harus melalui proses melahirkan layaknya ibu-ibu kebanyakan, kalo keguguran itu biasanya dikuret karena memang belum terlalu besar.

Gitu.

Sus, janin saya kok ndak ada gerakannya ya? Sudah dipancing makan yang manis, minum air dingin, tetep ndak respon.


Sebuah pertanyaan yang begitu menakutkan, tapi emang kudu ditanya. Setelah pertanyaan naik ke permukaan, suster jaga langsung panggil bidan buat cek detak jantung pake doppler. Sambil didoppler sambil diintrogasi dengan berbagai macam pertanyaan yang bikin deg-degan.


Secara medis, penyebab IUFD ada banyak. Bisa kelainan kromosom, ketidakcocokan golongan darah & rhesus, penyakit & infeksi pada ibu hamil, gerakan janin yang berlebihan, trauma saat hamil, mitos, mistis, dll. Dalam kasus saya kemarin, dokter memperkirakan terlilit tali pusar. Karena memang ndak ada trauma macem jatuh atau kepentok sebelumnya. Nah, lilitan tali pusar inilah yang kata dokter ndak bisa dicegah ataupun diprediksi. Buat yang tau mohon koreksi kalau salah ya..


Itulah kenapa pemeriksaan rutin itu penting. Kalau sudah di atas 28 minggu, periksanya mulai 2 minggu sekali. Kalo udah di atas 36 minggu mulai seminggu sekali. Dan penting juga mencatat pergerakan janin harian. Dimana minimal janin aktif bergerak sebanyak 10 kali perhari. Kalo kurang dari itu, langsung periksa ya.


Yang sedikit menyakitkan dan bikin pikiran adalah ketika pekan sebelumnya tepat di hari Senin, 3 Desember 2018, saya baru aja periksa ke dokter dan katanya semua baik-baik aja..


Oke lanjut.

Jadi investasi akhirat iboo & ayah ya, dek..


PERSALINAN IUFD

Setelah dinyatakan meninggal dalam kandungan, dokter mempersilakan untuk pulang dan menenangkan diri dulu. Setelah itu disuruh hubungi dokter lagi kalau sudah siap untuk melakukan induksi agar bisa melahirkan secara normal.


Pasien dengan kasus IUFD memang disarankan untuk melahirkan secara normal. Agar pemulihannya cepat dan bisa program lagi pun biayanya ndak semahal caesar. Tapi permasalahan biasanya ada di keluarga sang pasien. Keluarga yang penuh perhatian itu akan terus memberikan saran untuk segera operasi. Karena khawatir dengan adanya janin yang sudah tidak ada itu di dalam kandungan.

Sedih.

Dedek kan bukan penyakit, ya? :"


Dokter bilang, insya Allah prosesnya akan cepat asalkan tenang dan jangan dibawa stres. Lah, ini malah justru banyak tekanan dari pihak luar. Padahal bayi IUFD emang ndak serta merta harus dikeluarkan sesaat setelah diketahui meninggal, kecuali ada masalah medis yang membahayakan ibu. Batasan maksimalnya itu ndak boleh lebih dari 2 pekan (14 hari). Nah, kan...


Induksi emang proses yang panjang dan butuh kesabaran. Waktu itu induksi dimulai hari Selasa, 11 Desember 2018 ba'da Maghrib selepas ujian CPNS. Yap, ujian di atas ujian kehidupan.
Kontraksi-kontraksi kecil mulai berasa tiap 10 menit sekali. Infus pertama habis waktu subuh hari Rabu, 12 Desember 2018. Dan begitu diperiksa, alhamdulillah sudah bukaan satu. Setelah mandi dan sedikit menikmati kehidupan tanpa infusan, induksi dilanjutkan dengan pesan dari bu bidan boleh jalan-jalan. Dipinjemin gym ball juga untuk mempercepat pembukaan.


Nah, ini penting. JALAN-JALAN & GYM BALL.
Konon katanya ibu hamil emang kudu memberdayakan diri untuk bisa melahirkan normal. Induksi itu cuma perantara. Jangan lantas ketika diinduksi cuma tiduran dan nunggu pembukaan. POKOKNYA JANGAN!


Setiap perempuan kudu belajar. Karena tingkat persalinan secara SC sekarang ini makin tinggi. Bukan karena ketidakmampuan, tapi karena kurang belajar. Kita harus yakin dan percaya kalau Allah udah menciptakan tubuh kita dengan sangat sempurna. Tubuh perempuan udah dirancang sedemikian rupa untuk bisa melahirkan secara normal. Kecuali memang ada penghalang yang secara medis ndak memungkinkan untuk melahirkan secara normal.
Haseeeeek..

Jadi apa aja yang perlu dipelajari sih?
Hal yang paling penting adalah teknik pernapasan. Ini akan berguna saat kalian dilanda badai kontraksi yang kian lama kian menyakitkan. Kalau kalian ndak menguasai teknik pernapasan, kalian bakal kelelahan dan berakibat pada kehabisan tenaga. Banyak kasus dimana ketika kontraksi melanda, ibu-ibu malah teriak-teriak, nyakar-nyakar suami, uring-uringan, dan segala macem yang sering dipertontonkan di sinetron. Tapi percaya deh, ITU SALAH BESAR. Yang bener adalah ketika kontraksi itu dateng, kalian harus tenang dan mulai mainkan teknik pernapasan perut. Kalo terasa makin menyakitkan, bisa tidur miring ke kiri untuk ngurangin nikmatnya rasa kontraksi. Jangan lupa sambil ngemil-ngemil centil simpen tenaga untuk pertarungan yang sebenarnya.
Haseeeeek...


Oiya ada lagi
Latihan prenatal yoga, ngepel jongkok, sujud lama juga penting loh gais..


Oke, lanjut.


Jam 2 siang, ketika kontraksi makin intens dan menyakitkan sampe bisa meluluhlantahkan pertahanan teori teknik pernapasan yang udah dipelajari, bidan dateng untuk cek pembukaan dan alhamdulillah udah pembukaan 6. Langsung pindah ke kamar bersalin untuk menikmati kontraksi yang makin tanpa jeda dan bikin ndak berdaya. Perjuangan seorang ibu begitu luar biasa ternyata. Salut buat ibu-ibu yang masih bisa teriak-teriak pas kontraksi sih..
Da aku mah ndak sangghuuup..


Ndak lama kemudian, bidan dateng bilang pembukaan udah lengkap. Tapi dokternya belom dateng. Tantangan selanjutnya adalah ngeden. Ndak gampang ternyata. Soalnya belajarnya belum selesai. Belum sampe bab ini. Hiks.

Kita cuma boleh ngeden ketika kontraksi dateng. Butuh 3 kali usaha waktu itu. Usaha pertama pas kontraksi dateng belum tau gimana caranya ngeden. Kata bu bidan ngeden aja kayak mau pup. Usaha kedua begitu kontraksi dateng, langsung naikin kaki, terus ngeden tapi keluar suara. Terus akutu dimarahin sama bu bidannya. Katanya jangan bersuara. LAH BU, SAYA LIAT DI TIPI-TIPI KALO MELAHIRKAN PAKE SUARA.. EEEEEEKKKKKHHHHH... Gitu.
Sekali lagi saya tertipu sodara-sodara..
Tolong dong KPI, itu tayangan-tayangan yang menyesatkan ditarik dari peredaran.


Lanjut ke usaha ketiga. Begitu gelombang cinta datang, langsung ngangkang, dan ngeden tanpa suara bagaikan pup dengan bahagia. Dan BYAAAAR! Keluar sudah. Rasanya kayak apa? Ya kaya abis sembelit berhari-hari, mau pup belum bisa, dan akhirnya keluar juga. Lemes.


Udah? Selesai?
Tidak secepat itu, Fulgoso..


Setelah itu masih ada proses penjahitan yang sangat amat memilukan. Jadi sebenernya saya tuh ndak ada yang robek. Alhamdulillah yah. Tapi karena tangan bidannya nyenggol waktu lagi bersihin, jadinya harus dapet kenang-kenangan dari dokter berupa sedikit jahitan di perineum. Jangan ditanya ngilunya kayak apa.

Dokter: "Ayo ditaruh pant*tnya. Jangan diangkat."

Pasien: *cuma bisa pasrah tapi dalem hati ngedumel* "GIMANA CARA NARUHNYA DOK INI KENA TANGAN DOKTER AJA RASANYA MACEM APA TAUK. COBA JELASIN KE SAYA GIMANA CARANYA DOK. COBA JELASIN DOOOOK."


Alhamdulillah ndak nyampe seminggu jaitannya sembuh.


PASCA PERSALINAN IUFD

Setelah melalui proses yang dramatis itu, dunia terasa sepi. Orang-orang sibuk ngurus pemakaman dedek, sementara saya masih proses pemulihan. Sedih. Boong kalo ndak nangis sih.


Paginya alhamdulillah boleh langsung pulang setelah dokter visit dan konsul laktasi. Tapi ternyata penderitaan belum berakhir sodara-sodara. Kalau ibu-ibu lainnya setelah melahirkan harus berjuang supaya ASInya keluar, kami pasien IUFD justru sebaliknya, berjuang supaya ASI ndak keluar. Selain minum obat dari dokter yang cuma dikasih sedikit banget, pabrik ASInya pun kudu dibebat tekan alias diiket kenceng sekenceng-kencengnya. Soalnya kalo udah keluar bakal terus-terusan keluar, gitu katanya. Makanya harus dicegah supaya gak keluar.


Dan rasanya itulooooh...


Dibebat kenceng ndak nyaman, tapi kalo kendor dikit bisa bikin payudara bengkak dan rasanya nyut-nyutan kayak pengen meledak. Biasanya diikutin demam. Kalo udah kayak gitu, biasanya langsung ambil kol terus dimasukin ke freezer sekitar 10 menit. Abis itu ditempelin, baru dibebat. Nanti kalo udah ndak dingin, berubah warna macem kol goreng, dan menimbulkan bau, kolnya bisa diganti. Ini ilmu dari mbah gugel sih, tapi manjur loh. Kudu kreatif emang biar ndak dikit-dikit minum obat.


Kata dokter, tiap kali inget dedek, ada hormon cinta yang bekerja untuk menghasilkan ASI. Makanya disuruh happy, ikhlasin, dan OLAHRAGA. Yak, olahraga emang salah satu kunci pengalihan pikiran yang bisa ngurangin uring-uringan plus bikin sehat juga.

Dan satu lagi.

KURANG-KURANGINLAH LIAT MEDSOS.

Kadang bukan salah mereka yang posting hal-hal yang ndak kita inginkan, mungkin emang dada kita aja yang kurang lapang.


Ujian kehidupan itu sama kayak ujian sekolah. Harus serius biar naik kelas, kan? Harus serius sabarnya, serius tawakkalnya, serius ikhlasnya. Harus kuat. Dedek di sana pasti seneng kalo liat iboonya kuat. Harus bahagia, kan ditungguin dedek di surga. - Suamikuyangngakunyakeren.


Alhamdulillah 'ala kulli hal.

Wassalamualaikum

Jan 28, 2019

Pengalaman Blighted Ovum (BO) Berakhir dengan Kuret


Assalamualaikum


Tahun 2018 adalah tahun yang sangat luar biasa. Tahun penuh air mata, ujian, dan pengalaman. Salah satu pengalaman yang pengen diceritain di sini adalah pengalaman ngerasain hamil selama setahun. Tulisan ini dibuat semata-mata untuk memenuhi mesin pencarian google. Biar yang ngalamin ini, yang lagi cari-cari info tentang ini, tau kalo kamu nggak sendirian, gaiiis...


Oke kita mulai..


Jadi gini...


2 Desember 2017 yang punya blog ini sama mamasnya nikah kan. Terus Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT)-nya itu adalah tanggal 27 Desember 2017. Terus di bulan Januari ternyata tamu bulanan ndak datang-datang. Mulai lah mamasnya sibuk suruh cari testpack. Tadinya sih masih tenang-tenang aja karena emang biasa jadwal tamunya suka mundur. Tapi akhirnya yaudah lah nurut aja kata suami. Beli testpack, terus nyari tau gimana cara makenya. Hahaha ya namanya juga baru pertama.

Pagi-pagi sebelum sholat subuh langsung berniat nyoba testpacknya dengan deg-degan. Konon katanya cara pake testpacknya pagi di urin pertama biar hasilnya lebih akurat. Yaudah nurut aja. Daaaaaaan......

JENGJENGJENG!!!
Garis dua!

Bahagia banget rasanya waktu itu. Langsung kebayang-bayang gimana senengnya mau jadi ibu.
Setelah mamase cari-cari dokter kandungan perempuan yang bagus di sekitaran Jakarta Timur, minggu depannya kita langsung cuss ke RS Hermina Jatinegara. Ketemulah kita dengan dr. Sitti Fausihar, SpOG, yang katanya adalah salah satu dokter favorit di RS ini. Setelah melewati antrian yang begitu panjang dan melelahkan, ternyata hasil yang didapet kurang memuaskan. Dokternya ramah sih, masih muda, tapi agak buru-buru dan to the point banget. Sebagai orang yang belum punya pengalaman, pengetahuan, dan kesiapan mental, menghadapi kenyataan bahwa kehamilan pertamanya nggak baik-baik aja tuh rasanya gimanaaaaa... gitu.

Obat kecil yang mahal dan mengerikan.
Kalo sampe gagal masukin bisa menimbulkan penyesalan.

Waktu itu usia kandungan 7 minggu. Tapi pas di USG abdomen belum ada titik (janin), cuma ada kantong kehamilannya aja. Dokter bilang kemungkinan Blighted Ovum. Disuruh balik 2 minggu lagi untuk liat perkembangannya sambil dikasih obat penguat yang dimasukin lewat an*s.
Hancurlah hati awak waktu itu...

Blighted Ovum (kehamilan anembrionik atau kehamilan kosong) adalah kondisi yang muncul ketika sel telur yang dibuahi menempel di dinding uterus, tapi tidak berkembang menjadi embrio.

2 minggu kemudian (1 Maret 2018), ketemu dokter lagi. Kali ini USGnya transvaginal yang rasanya ngilu-ngilu risih. Dan ternyata hasilnya nggak berubah. Masih belum ada janin, padahal harusnya di usia 9 minggu udah ada detak jantungnya.


Makin hancurlah hati awak...


Langsung aja dong ditawarin 3 alternatif sama dokter, mau kuret, pake obat, atau dibiarin keluar sendiri. Kuret cuma sebentar katanya, tapi langsung bersih. Kalo pake obat bakal sakit banget mules-mules, tapi belum tentu bersih. Pun nanti kalo ada yang ketinggalan kudu dikuret juga. Kalo dibiarin keluar sendiri ya mungkin waktunya agak lama. Karena tubuh kita akan mendeteksi kantong kehamilan itu sebagai benda asing yang nantinya pelan-pelan bakal keluar sendiri.

Akhirnya pulang dulu untuk mikir-mikir untuk cari second opinion. Selain karena ngerasa baik-baik aja, nggak ada flek atau tanda-tanda mencurigakan, masih berharap kalo si dedek emang berkembang tapi ya agak lama. Karena kalo liat forum ibu hamil ada juga yang baru keliatan pas di minggu 12. Masih berusaha untuk positive thinking..

3 Maret 2018 mamase ngajak periksa ke Kemang Medical Care. Tanpa liat review-review dokter mana yang bagus, langsung aja pergi kesana terus liat dokter mana aja yang ada. Asal perempuan. Akhirnya bertemulah kita dengan dr. Fakriantini Jaya Putri, SpOG. Dokter gaul yang ramah banget dan menenangkan. Ini salah satu hal yang penting sih buat orang yang emang suka panikan.

Lagi-lagi ngerasain yang namanya USG transvaginal. Antara pengen protes, tapi penasaran. Dan yak, hasilnya masih tetep sama. Belum ada titik janin, cuma ada kantong kehamilan. Disuruh balik 2 minggu lagi, dikasih oleh-oleh vitamin dan penguat kandungan.

2 minggu kemudian obatnya abis, tapi belom mau ke dokter. Semacam udah pasrah. Setelah hari itu mulailah flek sedikit-sedikit dan mules. Sampe akhirnya tanggal 24 Maret 2018 ketemu dokter lagi dan di USG transvaginal lagi, dan didapati kenyataan bahwa kantong kehamilannya mulai luruh.
Sekali lagi, hancurlah hati awak...

USG 12w. Sebenernya udah ada titik, tapi kantong kehamilannya mulai luruh.
Seeeee...genap hatiku luruh lantah mengiringi dukaku yang kehilangan dirimuuuu~ Ada yang masih inget itu lagu apa? *LAH SALFOK -___-*

Setelah negosiasi bikin janji sama dokter, akhirnya tanggal 28 Maret 2018 sore masuk kamar bersalin. Bukan buat lahiran, tapi buat dipasang berbagai macam alat penyiksaan sebelum dikuret. Dipasang kateter untuk pipis, infus, dan laminaria untuk buka jalan lahir. Ngerasain yang namanya kaki ngangkang di atas alat yang kayak tapal kuda. Jangan ditanya gimana rasanya. Seumur-umur baru pertama kali ini ngerasain dirawat di RS. Ngerasain diinfus, dipasang kateter sama laminaria.
GAK ENAK DEH BENERAN.
Dan malu banget.

Dilatasi dan Kuretase (D & C) adalah operasi rahim untuk wanita dengan masalah menstruasi, hamil, kontrasepsi, keguguran atau polip, atau setelah melahirkan.

Semaleman tidur nggak nyenyak karena berkali-kali perut kayak diputer-puter tiap berapa menit sekali, yang kemudian diketahui bahwa itu namanya adalah kontraksi sodara-sodara. Paginya harus puasa selama 6 jam dulu sebelum tindakan. Lengkaplah sudah penyiksaan ini.

Sekitar jam 4 sore, akhirnya dibawa ke ruang operasi. Sebuah ruangan dingin yang rasanya mencekam banget. Dikelilingin 3 dokter, dokter obgyn, dokter anastesi, sama dokter apa lagi 1 lagi lupa. Setelah dipasang alat-alat yang nggak tau kegunaannya apa aja dan emang nggak sempet nanya, tetau dokter anastesi ngajak ngobrol sambil suntik bius di selang infus. Seketika dunia gelap gulita..
Bius total ternyata.

Bangun-bangun pas denger suara adzan maghrib. Terus teriak-teriak kesakitan, kata mamase. Sakit, dingin, tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Disuruh nunggu di ruang transit sampe sekitar 1 jam untuk diliat kondisinya gimana.

Jadi kalo ditanya, kuret sakit atau nggak, jawabannya NGGAK. Soalnya pas tindakan kita dibius total jadi nggak ngerasain apa-apa. Dan tindakannya pun katanya nggak lama. Cuma setelah biusnya abis baru deh dunia rasanya kayak porak poranda. Antara rasa sedih dan sakit berkoalisi menjadi satu kesatuan Indonesia Raya sodara-sodara!

Untuk biaya kuret di Kemang Medical Care sekitar segini:
Estimasi biaya kuret di KMC untuk yang rawat inap.
Karena dokternya minta kuretnya yang pasang laminaria, jadi biayanya pake yang ini.

Estimasi biaya kuret di KMC yang One Day Care (ODC).
Bedanya yang ODC sama yang nginep katanya penanganan untuk bikin kontraksinya. Kalo nginep pake laminaria, kalo yang ODC pake obat jadi lebih cepet. Tergantung apa kata dokternya sih kayaknya.

Sekali lagi, biaya di atas itu cuma estimasi. Ya, emang awalnya bikin shock sih pas pertama liat. Bikin dompet ingin menangis. Tapi kenyataannya nggak sampe segitu kok..

Kalo ditanya BO itu terjadi karena apa, dokter bilang karena mungkin emang lagi kurang bagus aja bibitnya. Jadi secara seleksi alam tubuh bakal mendeteksi adanya benda asing. Bisa pengaruh makanan, lingkungan, atau juga karena ada infeksi dari dalam. Gitu. Kalo nggak salah sih...

8 Hari setelah kuret cek lagi ke dokter udah bersih apa belum, dan alhamdulillah udah bersih. Kata dokter pun nggak perlu nunggu 3 kali siklus haid dulu untuk program hamil lagi. Cukup sekali aku merasa kegagalan cinta haid, setelah itu bisa program lagi. Dan Alhamdulillah cukup melewati 1 kali siklus haid, Allah udah ngasih kepercayaan untuk hamil lagi. Ya, walaupun akhir ceritanya belum bahagia. Tapi pasti Allah lebih tau yang terbaik buat hamba-Nya, kan?

Okeh, setelah ini insya Allah mau cerita tentang pengalaman IUFD alias kematian janin dalam kandungan. Tunggu ya, siapin mental dulu...


Wassalamualaikum


Jan 26, 2019

Perjalanan Mencari Dokter Kandungan/Obygn


Assalamualaikum

Sebagai calon orang tua baru, yang paling bikin pusing setelah ngeliat dua garis terpampang nyata di tespek adalah mencari dokter kandungan. Karena minim pengalaman, pastinya the power of google yang diandalkan kan? Oleh karena itu, yang punya blog ini mau sharing sedikit tentang dokter kandungan yang pernah ditemui selama tahun 2018 kemaren.

Untuk mencari dokter kandungan yang baik, konon katanya harus memenuhi berbagai syarat berikut:
  1. Pro kelahiran normal
  2. RUM (Rational Use of Medicine)
  3. Pro IMD (Inisiasi menyusui dini)
  4. RSnya mendukung rooming in.
Dan tambahannya biasanya: dokter kandungannya harus perempuan + menenangkan alias ndak bikin panik.

Oke, kita mulai.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat subjektif. Kadang buat kita oke, belum tentu buat orang lain. Pun begitu sebaliknya. Namanya juga rekomendasi.


1) dr. Sitti Fausihar (RS Hermina Jatinegara)
Februari 2018, saat pertama kali tau tespek bisa nongol garis 2, pak kepala negara langsung cari-cari dokter yang bagus. Alhasil ketemulah kita dengan dr. Sitti Fausihar yang konon katanya dokter perempuan terlaris seantero RS Hermina Jatinegara. Dokternya ndak pake hijab, gaul, ramah, pinter dan to the point kalo menyampaikan sesuatu. Nah yang terakhir itu bisa jadi nilai positif, bisa juga jadi nilai negatif. Apalagi untuk calon orang tua baru yang lagi antusias liat tespek garis 2. Waktu itu kita dapet kabar yang kurang enak, dan cara penyampaiannya pun bikin hati adek terpoteque seketikah. Suspect blighted ovum (hamil kosong) katanya. Nanti kapan-kapan insya Allah diceritain okeh..

Akhirnya kita cuma dua kali ketemu sama dr. Sitti. Selain karena cara penyampaiannya yang kurang sreg di hati, antriannya pun menyayat hati sanubari.. Hiks. Kita butuh dokter yang menenangkan, seburuk apapun kenyataan.



2) dr. Fakriantini Jaya Putri (RSIA Kemang Medical Care)
kemangmedicalcare.com

dr. Fakhriantini alias dr. Eni sebenernya adalah second opinion kita karena dapet kabar kurang baik di tempat sebelumnya. Perjalanan menemukan dr. Eni pun ndak seribet sebelumnya. Tanpa pake gugling, langsung dateng ke RS, dan asal nunjuk cari yang lebih tua dengan harapan bisa lebih baik.

dr. Eni ini berhijab, super ramah, gaul, bisa ditanya apapun, bisa di Whatsapp, dan yang paling penting menenangkan. Yap, ini cukup penting buat orang yang gampang panik macem pemilik blog ini. Walaupun akhirnya kabarnya ndak berubah jadi baik, setidaknya cara penyampaiannya ndak bikin kita jadi panik sih.

Sama dr. Eni ngerasain yang namanya kuret (nanti lengkapnya insya Allah diceritain kalau lagi ada kemauan disitu ada jalan), sampe hamil usia 26 minggu kalo gak salah. Diterusin sama beliau karena emang ngerasa udah klik dan juga suasana rumah sakitnya yang super nyaman + nunggunya ndak terlalu lama.



3) dr. Ade Irawan (RSIA Asy-Syifa Sangatta)


Ketemu dr. Ade pun karena ndak sengaja. Waktu itu dapet garis dua waktu ikut suami ke Sangatta. Karena mau lebaran dan kudu naik pesawat, makanya nyari rumah sakit untuk minta penguat. Konon katanya RSIA Asy-Syifa ini lah yang bagus. Tadinya mau ketemu dr. Rahmat, pemilik RS ini. Tapi ternyata beliau udah keburu cuti. Akhirnya ketemu lah dengan dr. Ade.

RS di Sangatta sama RS di Jakarta sungguh amat sangat jauh bedanya. Di sana masih tradisional banget gitu. Tapi dokternya lumayan baik dan nenangin.



4) dr. Febriansyah Darus (RSIA Kemang Medical Care)
kemangmedicalcare.com
Masuk trimester 2, bapak kepala negara udah kepo pengen usg 4D. Alhasil bilang ke dr. Eni, terus direkomendasiin ke dr. Febriansyah yang ahli fetomaternal. Jadi fungsi usg 4Dnya bukan cuma buat keren-kerenan ya sodara-sodara sebangsa dan setanah air. Tapi beneran di screening supaya bisa liat ada kelainan atau nggak. Gitu loh..

dr. Febriansyah ini orangnya super stylish, pinter, penjelasannya super detil, tapi agaknya cara penyampaiannya mirip dr. Sitti. Yah mungkin karena belum kenal ya..



5) dr. Diana Mauria Ratna Asih (Brawijaya Women and Children Hospital)


Usia kehamilan 29 minggu, bapak kepala negara minta ganti RS. Akhirnya pindahlah ke Brawijaya di Antasari. Yak, makin jauh aja pengembaraannya. Bertemulah dengan dr. Diana pilihan sang kepala negara yang konon katanya jahitannya rapi. Alasan apa pula ini. -____-

dr. Diana ini berhijab, orangnya ramah, friendly banget meskipun sama orang baru, penjelasannya detil. Tapi sayangnya datengnya suka telat. Misal dijadwal praktek jam 11, nanti jam setengah 1 baru dateng gitu. Ya positive thinking aja, mungkin abis ada tindakan ya kan..
Dan untuk pelayanan RSnya, saya pribadi lebih suka di RS sebelumnya sih, selain karena terkendala jarak, dokter-dokter di RS sebelumnya bisa langsung kita hubungin tanpa perlu lewat perantara bidan. Gitu.


6) dr. Achmad Mediana (RSIA Kemang Medical Care)
kemangmedicalcare.com
Pun karena ketidaksengajaan lagi, akhirnya semesta mempertemukan kita dengan dr. Achmad. Balik lagi ke KMC karena suatu hal, dan milih dokter yang praktek paling pagi.

dr. Achmad ini orangnya ramah dan santai banget. Bahkan saat nyampein kabar kurang baik sekalipun. Selain itu beliau sangat sangat pro normal. Alhamdulillah bisa ketemu sama beliau, jadi bisa lahiran normal meskipun tadinya agak ragu karena minus mata lumayan. Yap, beliau bisa meyakinkan kalo bisa normal, yang penting santai, sabar, dan dibawa happy supaya cepet pembukaan. Alhamdulillah semuanya lancar dan bisa normal dibantu bidan Flora Frederica yang luar biasa.

Selama perawatan beliau nengokin dan nyemangatin. Keliatan kalo beliau kerjanya pake hati deh. Berasa loh orang yang mencintai pekerjaannya sama nggak. Apalagi di bidang pelayanan kayak gini. Pun beliau sangat pelit ngasih obat. Di saat dokter lain sibuk ngasih obat untuk pemulihan, beliau cuma bilang, "HARUS HAPPY" dan "TURUNIN BERAT BADAN." Kalo nggak turun-turun nanti dimarahin sama beliau. Udah kayak bapak sama anak.

Pantes fansnya banyak.
Termasuk yang punya blog ini.


Wassalamualaikum