Dear Jenderal..

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin.
Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan.
Aamiin.

Sumber: KLIK!


Selamat Idul Fitri 1434 H. Selamat jalan Ramadan. Semoga kita berjumpa lagi tahun depan. :')
Hayoooo berapa hari bolong puasanya?
Berapa kali khatam Alqurannya?
Berapa pun jumlahnya, semoga Ramadan bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi, sehingga tidak menyesal kelak hari pembalasan tiba. Aamiin. #tsaaaaah

Mengadaptasi dari judul drama religi, postingan kali ini dipersembahkan untuk anak-anak, calon anak-anak, dan mantan anak-anak (apaan dah ki -_-) dimana pun kalian berada.
Kisah ini based on a true story alias berdasarkan kisah nyata penulisnya.
Mari kita mulai ceritanya..

Di suatu hari lebaran yang berbahagia, seorang gadis yang lagi-lagi berinisial O, tiba-tiba berkeinginan untuk keliling Jakarta sambil mengendarai sepeda.
Ini adalah efek dari media yang terus menerus mengabarkan bahwa Jakarta sedang lengang.
Namun ibunya menolak dengan tegas begitu sang gadis mengutarakan keinginan hatinya.
"Ngapain sih naik sepeda segala. Mecem-mecem aja. Lagi PKM, de. Nanti item. Dekil. Mending berenang aja sana." kata sang ibu.
"Lagi PKM, bu. Nanti item. Dekil." balas sang gadis.
Sebagai anak yang baik, akhirnya sang gadis pun menuruti apa kata ibunya.


TAMAT.





























Eeeeeeeeh... Belum selesai ternyata.

Di lebaran hari kedua, kedua orang tuanya mengajak sang gadis berkunjung ke rumah saudara.
Nah di rumah saudaranya itu ada sepeda.
Sang gadis langsung bersorak gembira sambil menuntun sepedanya.
Namun kemudian datanglah adik dari sang gadis yang badannya lebih besar dari gadis itu.
Dia ingin ikut katanya.

Awalnya sang gadis yang ingin memboncengkan adiknya.
Tapi baru jalan satu genjotan, sang gadis langsung terhuyung-huyung sambil mengibarkan bendera kuning putih.
Beban yang di belakang lebih berat, Jenderal!
Ini penyiksaan.

Setelah melakukan diplomasi singkat, akhirnya sang gadis pun berpindah posisi menjadi pembonceng dan sang adik yang memboncengkan.
Mulanya biasa saja, sampai akhirnya sang gadis pembonceng banyak gaya sok-sokan mau duduk miring ala Princess Syahrini.

Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada yang melamar, tau-tau kaki kanan sang gadis masuk ke jeruji roda sepeda.
KREEEEEK!!!
Sepatunya terlepas digiling roda, dan sang gadis loncat dari sepeda.
Sang gadis kaget. Adiknya ikutan kaget.
Ia mengira rantai sepedanya lepas.

Setelah menenangkan diri sebentar, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Sambil menahan rasa panas di kaki, sang gadis pun pulang dibonceng dengan posisi normal.
Begitu sampai di depan rumah, mereka tidak langsung masuk ke dalam.
Sang gadis langsung memeriksa kakinya.
Kemudian didapati sarung kakinya berlubang dan terdapat bercak darah.
Benar saja, ternyata insiden duduk miring tersebut berhasil meninggalkan jejak berupa luka di hati kakinya.

Setelah dibersihkan dengan air seadanya dan kemudian diplester, sang gadis masuk ke rumah sambil terpincang-pincang menahan perih.
Insiden tersebut masih menjadi rahasia antara sang gadis dengan adiknya.
Tapi tak lama berselang, tau-tau sang ibu mengetahui tentang insiden tersebut.
Sang gadis pun dimarahi.
"Udah dibilang jangan main sepeda. Macem-macem aja sih. Kan lagi PKM. Masa kakinya pincang gitu. Nanti langsung diurut aja sana."
Padahal kan cuma luka ya, ngapain diurut coba -_-

Barang bukti 1:
Sepatu rusak

Barang bukti 2:
Sarung kaki bolong dan berdarah

Harusnya tidak lulus sensor. Maaf ya..

Ada satu cerita lagi.
Selama Ramadan, sang gadis tidak diizinkan sang ibu untuk minum es.
Karena sang gadis kalau sudah pilek lama sembuhnya (soalnya tidak mau minum obat).
Tapi saat ada momen buka puasa bersama, sang gadis nekat minum es.
Dan keesokan harinya, sang gadis tepar di mesjid kampus bersama seorang rekannya karena hidung mampet dan badannya panas tinggi.
Akhirnya dia menyesal telah melanggar larangan ibunya.
Sebelum dikutuk menjadi batu, ia meminta maaf kepada ibunya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.


TAMAT.


Adik-adik yang berbahagia (apadeh ini..), yang seperti itu jangan ditiru ya.
Jangan suka melawan orang tua. Apalagi ibu. Selain bisa luka-luka, bisa masuk neraka juga. Tapi nakal sekali-kali mah gapapa. Namanya juga anak muda. Hehehehehe.

Salam kece,