Barangkali surat cintaku salah alamat. Surat yang kutitipkan pada senja, berharap ia menyampaikannya padamu.  Namun di sisi langit jingga kau hanya terdiam. Dengan sengaja membunuh kerinduan di balik rona kemerahan langitnya. Membuatku bertanya, apakah senja telah menyampaikan surat itu padamu. Atau mungkin senja lupa?

Ah, barangkali surat cintaku salah alamat. Ia yang tak pernah terbaca olehmu, tapi sudah terlanjur membuatku takut. Takut apa yang kulakukan terlihat amat bodoh di hadapmu. Tapi bukankah itu lebih baik? Entah kau setuju atau tidak, namun aku rasa akan lebih menyakitkan ketika kita tidak berjuang atas hal-hal yang memang layak diperjuangkan.

Aku yakin surat cintaku salah alamat. Tak seharusnya aku meletakkan harap padamu. Membuatku menunggu walau kukatakan aku tak mau. Aku tahu Tuhanku pasti cemburu. Dia bukan lagi satu-satunya yang aku cinta. Ah, hamba macam apa aku ini? Membiarkan Tuhannya berbagi tempat dengan makhluk lain di hati yang sempit.

Hari ini aku melepasmu dengan segala keikhlasan. Menitipkan hati pada Rabb yang tak pernah meninggalkanku. Kembali memantaskan diri dan membiarkan pemilik kehidupan menjalankan skenario terbaiknya. Tak lagi memaksa sang nahkoda untuk melabuhkan kapal. Membiarkan pemilik semesta menjalankan perannya tanpa campur tangan jahil kita. Walau semakin lama cahaya mercusuar mulai padam, aku yakin kapal untukku takkan salah tujuan. Dan kelak jika takdir menuntun kapalmu berlayar semakin jauh dari aku, dapat kupastikan bahwa aku akan baik-baik saja.

Selamat melanjutkan perjalanan, Tuan.