Fiksi

Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Mar 29, 2017

Episode 6: Suatu Hari Nanti




Perkenankan aku menyapamu dalam tulisan. Menyampaikan rangkaian kata yang tak kuasa kujabarkan lewat suara. Sebaris aksara yang aku bahkan tak yakin kau akan membacanya.


Hai, apa kabar?
Akan kumulai tulisan ini dengan menanyakan kabarmu. Tentu saja aku ingin tahu. Sudah terlalu lama kita tak jumpa, kan?


Hari ini langit masih tampak sayu. Tangisnya sudah mulai reda, menyisakan bau hujan dimana-mana. Namun matahari mulai beranjak mengambil bagian. Tak boleh mendung terlalu lama, katanya.


Aku mulai berani duduk-duduk di bawah langit. Di sebuah lapangan rumput yang luas dan menghijau. Melupakan hujan, yang beberapa waktu silam terasa begitu menyesakkan. Tidak, aku tidak benci hujan. Aku hanya benci kisah yang pernah ada di dalamnya.


Kulihat seseorang tengah berjalan menuju arahku. Membawakan segenggam cita dan harapan. Membuat tubuhku seketika kaku. Bingung. Entah harus lari, atau menantinya sampai ke sini.
Hingga kuberanikan untuk tetap tinggal.


Ia datang sambil menyuguhkan sebuah senyuman hangat. Sebuah tatapan lekat yang sudah lama tak kulihat. Sebuah langkah yang tergesa, dan lisan yang mengucap,
"Maaf aku terlambat."


Hatiku mengembang. Ini bukan soal cepat atau lambat. Ini soal waktu yang tepat. Waktu. Waktu yang membawamu menemuiku saat ini. Bukan kemarin, bukan nanti. Tapi hari ini.
"Terima kasih sudah datang", ucapku dalam diam.


Aku persilakan kau masuk, kemudian duduk.
"Hati-hati", kataku dengan hati-hati.
Tempo hari ada yang pernah bermain-main di sana, dan memecahkan separuh hati hingga retak.
Tak bertanggung jawab.
Aku khawatir sisa pecahannya akan mengenaimu.


Tak perlu khawatir tentang aku. Tentang masa lalu. Karena pada akhirnya, semua perkara hidup hanya perlu diikhlaskan, kan? Cukup lihat aku yang sekarang. Yang pernah mencoba bertahan. Sendirian.


Padamu yang aku semogakan untuk tetap tinggal,
suatu hari nanti...



Jul 12, 2016

REVIEW: Sabtu Bersama Bapak


Assalamualaikum

Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya, Jakarta: GagasMedia, 278 hlm.


Ini adalah sebuah cerita . Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan..., seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.


Hmm.
Awalnya kirain bakal nangis bombay pas baca buku ini. Nyatanya nggak. Emang ada beberapa part yang bikin sedih, tapi nggak sesedih pas baca cerita sejarah di Museum Lubang Buaya. Serius, itu sedih banget. Perasaan dulu mah pas masih sekolah, kalo ke museum bawaannya ngantuk.

Oke, mulai ngaco.

Buku ini keren. Sederhana, gampang dicerna, dan banyak pesan moralnya. Yaampun ki, setelah cetak ulang 22 kali, kenapa baru baca sih. Ya, setelah 22 kali. Yang punya blog emang gitu orangnya. Sabar sabarin aja..

Sosok pak Gunawan, sang bapak yang sangat inspiratif dan visioner. Walaupun fiktif, tapi ngefans boleh kali ya? Ada juga ibu Itje yang selalu berusaha jadi ibu yang baik, dan nggak mau bikin anak-anaknya yang katanya lebay itu khawatir. Ada Satya si suami yang tadinya tukang marah-marah sampe istri dan anaknya takut, terus belajar untuk jadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anaknya. Istrinya, Rissa, yang pinter ngurus anak-anak dan suaminya. Dan tokoh paling sering bikin ketawa sendiri pas baca buku ini adalah Cakra alias Saka, single yang udah mapan tapi punya prestasi 4 kali ditolak dari 3 kali nembak perempuan. Ayu, perempuan yang katanya sempurna di mata Caka, tapi keburu dimodusin Salman, si playboy kantor.

Meskipun begitu, ada beberapa bagian yang saya kurang suka dari buku ini.
Pertama, ada beberapa bagian yang agak sedikit terlalu dewasa.
Kedua, masalah prinsipil aja sih. Saya kurang setuju dengan penjabaran dan penerapan dari kalimat "perhiasan dunia dan akhirat" yang ada dimaksud di buku ini.
Selebihnya, buku ini keren banget.

JIka ingin menilai seseorang, jangan nilai dia dari bagaimana dia berinteraksi dengan kita, karena itu bisa saja tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang. (hal. 35-36)

Dalam hidup kalian mungkin akan datang beberapa orang berkata, "Prestasi akademis itu gak penting. Yang penting attitude." ..... Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk. Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain. (hal. 51)

Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk cari kerja yang lain. Atau paling buruk, resign dan menganggur. Intinya, selalu ada pilihan untuk tidak berurusan dengan orang buruk. Anak? Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orangtua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orangtua yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya. (hal. 60)

... bahwa meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri, bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan. (hal. 80)

Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka. Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri. Ada orang yang berguna untuk diri diri. Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya. Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain. (hal. 86)

Menjadi panutan bukan tugas anak sulung -- kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua -- untuk semua anak. (hal.106)

Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai. Tidak datang dari barang yang kita punya. Di keluarga kita, nilai kita tidak datang dari barang. (hal. 119)

Harga dari diri kita, datang dari akhlak kita. Anak yang jujur. Anak yang baik. Anak yang berani bilang 'Saya benar' ketika benar. Anak yang berani bilang 'Maaf' ketika salah. Anak yang berguna bagi dirinya, dan orang lain. Harga dari diri kamu datang dari dalam hati kamu dan berdampak ke orang luar. Bukan dari barang/orang luar, berdampak ke dalam hati. (hal. 120)

Kang, ketika kalian udah gede akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar, lebih kuat dari kalian. Dan akan ada masanya, kalian gak punya pilihan lain selain melawan, dan menang. Akan datang juga Kang, masanya semua orang tidak akan membiarkan kalian menang. Jadi, kalian harus pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus bisa berdiri dan menang dengan kaki-kaki sendiri. (hal. 130-131)

Carilah pasangan yang dapat menjadi perhiasan dunia dan akhirat. (hal. 180)

Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain. (hal. 217)

Katika seorang laki-laki dan perempuan menikah, laki-laki itu meminta banyak dari perempuan.
Saya pilih kamu. Tolong pilih saya, untuk menghabiskan sisa hidup kamu. Dan saya akan menghabiskan sisa hidup saya bersama kamu. Percayakan hidup kamu pada saya. Dan saya penuhi tugas saya padamu, nafkah lahir dan batin. Pindahkan baktimu. Tidak lagi baktimu kepada orangtuamu. Baktimu sekarang pada saya. (hal. 220-221)

Pemimpin keluarga macam apa yang minta istrinya percaya sama suami, tapi dia sendiri menyembunyikan nafkahnya. Nafkah suami itu hak keluarga, lho. Di keluarga saya, saat seseorang menjadi kepala keluarga, dia bertanggung jawab lahir batin akan kecukupan dan kebahagiaan keluarga. Sekarang dan nanti. (hal. 225)

Oke, udah segitu aja.


Udah, ki?


Iya udah.


INI MAH BUKAN REVIEW. INI MAH KALO BISA MALAH LO TULIS ULANG BUKUNYA DI SINI. -___-


Kenapa sih? Kenapaaa? Salahku apaaah?


Oiya, btw buku ini udah difilmin. Filmnya sebagus bukunya nggak sih? Ah paling sebentar lagi diputer di tipi, yak. *PLAK!*


Wassalamualaikum


May 7, 2016

Mengetuk Tiga Kali


A: Kau tau apa yang harus dilakukan tamu jika sudah mengetuk pintu tiga kali namun tak ada jawaban dari dalam?

B: Pulang?

A: Tepat. Kau harus pulang sekarang. Kau sudah mencoba, tapi tetap tak ada jawaban.

B: Aku yakin dia akan keluar menemuiku.

A: Bagaimana jika tidak? Sampai kapan kau akan menunggu di sini? Berhentilah merendahkan dirimu sendiri. Sudah kau ketuk pintu itu tiga kali. Itu sudah cukup.




Feb 7, 2016

Episode 5: Bertaruh Takdir




Sore ini langit tampak sayu. Aroma petrichor menyeruak. Rintik hujan yang menari mengantarkan seseorang menemuiku, mengembalikan segenggam hati yang pernah dibawa pergi tanpa permisi. Tak utuh lagi.


Menyebalkan. Aku masih saja menyukai caranya menyapaku. Sosok sederhana itu masih dengan mudah membuat jantungku berdegup kencang.


Mungkin aku hanya sehelai daun di antara rimbunnya cerita hidup yang ia miliki. Sehelai daun yang kian hari kian menguning di antara ranting dan dahan yang begitu kokoh. Dengan mudah terkapar dihempas angin. Kemudian terlupa.


Jangan pikirkan, katanya sore itu. Sekejap membuat neuron-neuron di kepala berlarian ke sana kemari mencari makna dari rangkaian kata yang memunculkan tanda tanya. Ingin sekali kutatap matanya dalam-dalam, meyakini bahwa ia sedang bercanda. Lupakan. Itu maksudnya. Biarkan takdir memainkan perannya sendiri.


Mungkin hatiku sudah dibunuh. Dikoyak, diacak-acak. Dipaksa ikhlas akan hal yang tak ingin kulepas. Tapi bisa kau lihat, senyumku masih bisa terkembang. Bukti bahwa aku berbahagia atas ini semua. Atas jawaban dari penantian yang melelahkan. Atas keraguan harus menanti, atau berhenti.


Baiklah. Mari kita bertaruh dengan takdir. Dengan ikhlas sebagai senjata, dan bahagia sebagai hadiahnya. Tak usah lagi diupayakan, tak usah lagi diperjuangkan. Biarkan.


Terima kasih, Tuan.
Terima kasih telah mengantarkan jawaban yang kubutuhkan.




Nov 7, 2015

EPISODE 4: Bingkisan Hujan


Source: KLIK!

Lama sudah tak kutulis bait-bait menyirat tentangmu
Menelan bulat-bulat rindu yang tak pantas terucap
Menyibukkan hari tuk membunuh harap

Aku hampir saja putus asa
Berharap hujan membersamai teduh dalam perjalanan
Namun hujan tak lagi pernah pulang
Tak pernah terdengar rindu di luar sana

Musim berganti
Di penghujung senja hujan menyapa
Menghapus kerontang panjang berbulan-bulan
Memancarkan bias-bias memori yang dahulu susah payah disingkirkan
Teriring bingkisan manis dengan nama fiktif yang kutau siapa pengirimnya

Luluh

Lantah

Sudah

Kubilang ingin berhenti tempo hari
Sama sepertimu yang mencoba membebaskan diri
Tak lagi memaksa kaki terus berlari untuk menemukanmu
Tak peduli dimana adamu
Sudah di depan menantiku, ataukah di belakang sana memintaku menunggu
Aku hanya ingin berhenti

Namun bingkisan hujan sore ini membanjiriku dengan tanda tanya yang bertanya mengapa, tanpa punya karena sebagai jawabnya
Diam
Tapi seolah memintaku untuk tetap tinggal
Membebaskanku bermain dengan prasangka dan menduga apa yang terjadi sebenarnya

Tuan..
Bagiku menanti ataupun berhenti adalah dua hal yang cukup menyakitkan
Tapi apa kau tau, ada hal yang jauh lebih menyakitkan dari itu semua
Adalah ketika kita tak tau apakah harus menanti,
ataukah berhenti

Aku tak butuh bingkisan
Aku hanya butuh jawaban




Jul 15, 2015

EPISODE 3: Surat Cinta Salah Alamat




Barangkali surat cintaku salah alamat. Surat yang kutitipkan pada senja, berharap ia menyampaikannya padamu.  Namun di sisi langit jingga kau hanya terdiam. Dengan sengaja membunuh kerinduan di balik rona kemerahan langitnya. Membuatku bertanya, apakah senja telah menyampaikan surat itu padamu. Atau mungkin senja lupa?

Ah, barangkali surat cintaku salah alamat. Ia yang tak pernah terbaca olehmu, tapi sudah terlanjur membuatku takut. Takut apa yang kulakukan terlihat amat bodoh di hadapmu. Tapi bukankah itu lebih baik? Entah kau setuju atau tidak, namun aku rasa akan lebih menyakitkan ketika kita tidak berjuang atas hal-hal yang memang layak diperjuangkan.

Aku yakin surat cintaku salah alamat. Tak seharusnya aku meletakkan harap padamu. Membuatku menunggu walau kukatakan aku tak mau. Aku tahu Tuhanku pasti cemburu. Dia bukan lagi satu-satunya yang aku cinta. Ah, hamba macam apa aku ini? Membiarkan Tuhannya berbagi tempat dengan makhluk lain di hati yang sempit.

Hari ini aku melepasmu dengan segala keikhlasan. Menitipkan hati pada Rabb yang tak pernah meninggalkanku. Kembali memantaskan diri dan membiarkan pemilik kehidupan menjalankan skenario terbaiknya. Tak lagi memaksa sang nahkoda untuk melabuhkan kapal. Membiarkan pemilik semesta menjalankan perannya tanpa campur tangan jahil kita. Walau semakin lama cahaya mercusuar mulai padam, aku yakin kapal untukku takkan salah tujuan. Dan kelak jika takdir menuntun kapalmu berlayar semakin jauh dari aku, dapat kupastikan bahwa aku akan baik-baik saja.

Selamat melanjutkan perjalanan, Tuan.



May 15, 2015

Episode 2: Halo, Nona!



Kepada perempuan manis yang kutinggalkan menangis di persimpangan jalan..

Bagaimana kabarmu?
Masihkah menanti Tuan pengecut yang meninggalkanmu pergi?
Membiarkanmu ditawan rindu yang tak sanggup ditebus dengan temu.

Nona, aku kurang pandai merangkai kata.
Hingga tanpa sadar membiaskan arti kata perhatian dan peringatan.
Pun aku lupa bahwa kebanyakan perhatian akan bermuara pada pengharapan.

Nona, aku masih memperhatikanmu dari jauh.
Kau tahu, tingkatan rindu paling tinggi ialah ketika perindu menggenggam erat rindunya, amat erat karena tak ingin rindunya salah alamat, lantas mendoakan dalam diam.
Ya, aku melakukannya.
Aku hanya ingin merindumu dengan cara yang elegan.

Nona, bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku akan menjadi lelaki sejati.
Maaf aku takkan mengulanginya berkali-kali.
Aku tak ingin kau mengingatnya sebagai sebuah janji.

Bisakah kau sabar sebentar?

Aku akan kembali, Nona.
Itu bila kau sanggup untuk menungguku.
Jika tidak, pergilah..
Tinggalkan aku seperti aku meninggalkanmu menangis di persimpangan jalan tempo hari.
Meski artinya aku harus merelakan hatiku terpatahkan dua kali.


Yang selalu mendoakan bahagiamu,


Tuan yang sedang mencari jalan pulang


EPISODE 1: Kepada Tuan yang Menghilang
EPISODE 3: Surat Cinta Salah Alamat

Mar 11, 2015

Episode 1: Kepada Tuan yang Menghilang



Selamat malam, Tuan. Ingin sekali aku menyapamu. Menanyakan kabarmu setelah sekian lama waktu berlalu. Tapi aku dibelenggu rasa malu.

Tuan, aku ingin bercerita. Aku pernah jatuh hati. Pada sosok sederhana nan bersahaja. Sikapnya amat baik, tentu saja, kalau tidak baik mana mungkin aku rela menjatuhkan hatiku padanya. Sosoknya terlalu pintar, hingga tak bisa membedakan mana perhatian mana peringatan.

Tuan, bukankah sudah sering kukatakan, jangan main-main soal perasaan. Jika tak sungguh-sungguh jangan sembarang berlabuh, lantas ditinggal kembali berlayar jika sudah bosan. Hati perempuan tidak sesederhana itu, Tuan.

Tuan, aku meradang dalam diam. Merangkul erat sabar. Menggenggam secarik rindu yang harusnya kualpakan. Aku kurang mahir dalam urusan memendam. Apalagi soal perasaan. Mengiris hati sendiri dengan percakapan lama yang terus dibaca berulang. Mencincangnya hingga hancur berantakan. Dan itu karenamu, Tuan.

Tuan, aku tak ingin berharap. Tak jua ingin menunggumu kembali menjemputku. Tapi Tuan, aku akan tetap berdiri di sini. Menguatkan diri, untuk kisah yang ditinggal tokohnya pergi.

Tuan, aku yang bodoh ini akan terus mendoakanmu. Meminta Tuhan menjagamu selalu. Karena mungkin kesempatanku telah habis beberapa waktu lalu.


Dari aku,

yang bukan siapa-siapamu.