Home » All posts
Aug 14, 2016
Jul 23, 2016
Tahun Baru, Kelas Baru
5:26 PM O T R L
"Miss nggak bisa ya wali kelas 6-nya Miss aja?"

Jul 12, 2016
REVIEW: Sabtu Bersama Bapak
10:42 PM O T R L
![]() |
| Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya, Jakarta: GagasMedia, 278 hlm. |
JIka ingin menilai seseorang, jangan nilai dia dari bagaimana dia berinteraksi dengan kita, karena itu bisa saja tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang. (hal. 35-36)
Dalam hidup kalian mungkin akan datang beberapa orang berkata, "Prestasi akademis itu gak penting. Yang penting attitude." ..... Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk. Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain. (hal. 51)
Ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk cari kerja yang lain. Atau paling buruk, resign dan menganggur. Intinya, selalu ada pilihan untuk tidak berurusan dengan orang buruk. Anak? Mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orangtua buruk. Dan ketika mereka mendapatkan orangtua yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya. (hal. 60)
... bahwa meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri, bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan. (hal. 80)
Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka. Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri. Ada orang yang berguna untuk diri diri. Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya. Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain. (hal. 86)
Menjadi panutan bukan tugas anak sulung -- kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua -- untuk semua anak. (hal.106)
Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai. Tidak datang dari barang yang kita punya. Di keluarga kita, nilai kita tidak datang dari barang. (hal. 119)
Harga dari diri kita, datang dari akhlak kita. Anak yang jujur. Anak yang baik. Anak yang berani bilang 'Saya benar' ketika benar. Anak yang berani bilang 'Maaf' ketika salah. Anak yang berguna bagi dirinya, dan orang lain. Harga dari diri kamu datang dari dalam hati kamu dan berdampak ke orang luar. Bukan dari barang/orang luar, berdampak ke dalam hati. (hal. 120)
Kang, ketika kalian udah gede akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar, lebih kuat dari kalian. Dan akan ada masanya, kalian gak punya pilihan lain selain melawan, dan menang. Akan datang juga Kang, masanya semua orang tidak akan membiarkan kalian menang. Jadi, kalian harus pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus bisa berdiri dan menang dengan kaki-kaki sendiri. (hal. 130-131)
Carilah pasangan yang dapat menjadi perhiasan dunia dan akhirat. (hal. 180)
Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain. (hal. 217)
Katika seorang laki-laki dan perempuan menikah, laki-laki itu meminta banyak dari perempuan.
Saya pilih kamu. Tolong pilih saya, untuk menghabiskan sisa hidup kamu. Dan saya akan menghabiskan sisa hidup saya bersama kamu. Percayakan hidup kamu pada saya. Dan saya penuhi tugas saya padamu, nafkah lahir dan batin. Pindahkan baktimu. Tidak lagi baktimu kepada orangtuamu. Baktimu sekarang pada saya. (hal. 220-221)
Pemimpin keluarga macam apa yang minta istrinya percaya sama suami, tapi dia sendiri menyembunyikan nafkahnya. Nafkah suami itu hak keluarga, lho. Di keluarga saya, saat seseorang menjadi kepala keluarga, dia bertanggung jawab lahir batin akan kecukupan dan kebahagiaan keluarga. Sekarang dan nanti. (hal. 225)
Kenapa sih? Kenapaaa? Salahku apaaah?
Oiya, btw buku ini udah difilmin. Filmnya sebagus bukunya nggak sih? Ah paling sebentar lagi diputer di tipi, yak. *PLAK!*
Wassalamualaikum
Jun 30, 2016
Setelah 7 Tahun..
2:49 PM O T R L
Bos ijin pake blognya ya bos!
Sekolah Menjadi Orang Tua itu Ada
1:52 PM O T R L
Banyak orang bilang, katanya sekolah untuk menjadi orang tua itu nggak ada. Saya nggak setuju.
Sekolah untuk jadi orang tua itu ada. Tempat dimana kita dipaksa untuk terus belajar. Bukan sekadar belajar pelajaran yang kita ajarin, tapi juga belajar segala macam hal. Terus belajar mengapa dan bagaimananya anak-anak walaupun diri sendiri belum punya anak.
Mengajar dan mendidik anak itu bukan perkara sederhana. Itulah yang mungkin harus selalu diingat oleh para orang tua sebelum ia berkoar-koar mengkritik institusi pendidikan apalagi jika tanpa disertai solusi. Mengajar dan mendidik anak itu bukan perkara sederhana yang jelas tak mampu terbayar seimbang dengan gaji para guru yang sangat sederhana kecuali dengan mengiringinya dengan doa tulus untuk keberkahan hidupnya dan keturunannya. (5 Guru Kecilku part 2, h.92)
Yang masih terus belajar,

Jun 21, 2016
Jadi Santri 4 Hari
2:33 PM O T R L
Yak, setelah satu purnama, akhirnya baru posting lagi. Tolong jangan protes. Nyatanya sekarang emang ndak memungkinkan untuk posting sering-sering. Hiks. Maafkan aku, ya..
Alhamdulillah tahun ini masih bisa ketemu sama bulan Ramadhan lagi ya.
Iya.
krik.
(nggak tau mau nulis apa lagi -__-)
DAY 1: Selasa, 7 Juni 2016
Silakan ditebak, saya ada di mobil pertama atau kedua.
- Intro: SELAYANG PANDANG DAQU (Ust. Ahmad Jameel)
*CMIIW*
![]() |
| Ini adalah gedung pertama DaQu. Namanya al-Ikhlas buliding. Harapannya biar kayak surah Al-Ikhlas, yang nggak menyebutkan kata ikhlas di dalamnya. |
Tapi nggak dijelasin sih kenapa Daqu milih diidentikkan dengan warna merah marun. Kenapa gak pink, kuning, hijau, atau ungu gitu?
Selain itu Ust. Jameel juga ngingetin kita tentang 10 perbuatan yang mendatangkan dosa besar:
- Syirik
- Ghibah
- Kikir
- Bohong
- Putus silaturahim
- Zina
- Rezeki haram
- Bermasalah sama orang tua
- Meninggalkan sholat
- Serakah
- Materi 01: DAQU METHODS (Ust. Saiful Bahri. Lc.)
- Sholat tepat waktu ditambah sunnah Qabliyah dan Ba'diyah
- Tahajud
- Dhuha
- Gemar Bersedekah
- Puasa sunnah (Senin-Kamis atau puasa Daud)
- Membaca, mengaji, mengamalkan dan menghafalkan al-Qur'an
- Berdoa. mendoakan, dan minta didoakan
- Materi 02: LEADERSHIP (Ust. Kupmin Rambe)
Entah saya ada di level ordinary atau good, tapi rasanya saya belum sampai ke level superior apalagi great ya. Di materi yang kedua ini banyak ngomongin tentang ilmu pengajaran, salah satunya tentang apa-apa aja yang nggak boleh dilakukan seorang guru ketika di depan kelas.
- Materi 03: PUBLIC SPEAKING (Ust. Risnaldi Sikumbang)
DAY 2: Rabu, 8 Juni 2016
Rundown acara di hari kedua lumayan berantakan. Entah karena ada pemateri yang belum dateng atau karena nunggu saya dapet jodoh dulu. *eh?*
- Materi 04: Pembelajaran Menggunakan IT (Ust. Muchlis)
- Materi 05: Hypnoservice (Ust. Risnaldi Sikumbang)
Cari laki-laki yang lebih cerdas dalam hal tauhid untuk mendidik anak-anak kelak.
Oke balik lagi ke materi.
Hypnoservice, merupakan gabungan dari kata hypnosis dan sevice. Intinya kita harus bisa mengeluarkan potensi besar yang ada di dalam alam bawah sadar kita dan harus bisa ngelawan para penghambat sukses, yaitu gelisah, takut, benci diri sendiri, pesimis, dan merasa diri terbatas.
- Materi 06: Budaya DAQU (Ust. Hendy Irawan)
- Budaya spiritual (Sholat, baca al-Qur'an, puasa, dll.)
- Tepat waktu
- Salam
- Berjabat tangan
- Sopan
- Santun
- Sapa
- Senyum
- Menghargai
- Bersih
- Kerja keras
- Saling memberi
- Saling mendoakan
- Hormat
- Senang belajar
- Materi 07: Kepesantrenan (Ust. Slamet)
Berikut catatannya:
Apapun amanah yang diberikan, membaca dan menghafal al-Qur'an itu nggak boleh ditinggalkan.
Caranya? DIULANGI dan HARUS KONTINYU
Waktunya? Pada pertengahan malam dan pertengahan siang
Pelajari al-Quran dengan sungguh-sungguh lebih dari ilmu apapun.
Orang-orang yang cerdas yang tidak ada al-Qur'an di hatinya maka akan terjadi banyak kerusakan.
Kalau baca al-Qur'an jangan disambi, itu sama aja lagi menduakan Allah. Atasan kita aja gak suka kan kalau lagi meeting malah main hp? Apalagi Allah.
Cerdaskan otak kananmu, maka otak kirimu akan cerdas.
DAY 3: Kamis, 9 Juni 2016
- Materi 08: Administrasi Mengajar (Ust. Darul Quthni)
Udah gitu aja.
Iya, udah gitu aja.
- Materi 09: Am I Smart? (Ust. Kupmin Rambe)
Asik.
Oke, udah segitu aja materi yang bisa dibagiin.
DAY 4: Jumat, 10 Juni 2016
Setelah 3 hari ngerasain diurusin sama orang, akhirnya di hari ke 4 ngerasain betapa repotnya ngurusin anak-anak orang. Kalau di pondok bisa bobok nyenyak walaupun mesti harus bolak-balik naik lantai 5-3-2-5-3-5-3-2-5-3-5-3 gitu terus sampe lebaran di gedung yang beda-beda sampe betis kenceng macem atlet, kalau di sekolah mah boro-boro. Hiks.
Baru merem sebentar, tetau ada yang ngobrol lah, pengen pipis lah, laper lah, nggak bisa tidur lah, lari-larian di koridor lah, macem-macem deh alesannya. Sama sekali nggak memungkinkan buat tidur. Heran deh, anak-anak bocah pada kuat banget begadang sampe jam 2 malem. Abis dimarahin, baru pada bisa tidur, eh terus nggak bisa dibangunin buat sahur. -___-
![]() |
| Lagi main game malah pada bobok |
May 12, 2016
Kisah Kartu Parkir dan Krisis Kejujuran
11:04 PM O T R L
HUWAAAAAAH!!!
Pasti kalian pernah kan ngerasa kayak pengen marah tapi nggak bisa marah karena emang harusnya nggak boleh marah-marah?
Oke, belibet.
Jadi gini, tadi pas pulang sekolah kan mampir dulu ngisi bensin, terus abis ngisi bensin tetiba suara hati bilang pengen mampir ke ATM. Yaudah, karena saya orangnya baik hati, saya ikuti kata hati. Mampirlah ke ATM, lalu ngadem-ngadem lucu sambil mijitin tombol ATM siapa tau kalo dipijitin nanti ATMnya luluh terus saldonya tetiba ditambahin gitu kan. Kemudian setelah sadar kalo nambah saldo rekening bukan begitu caranya, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Ya, pulang.
Sekali lagi,
Pulang.
Entah ada apa dengan kata pulang.
Keluar dari tempat ATM dengan lincahnya sambil ngambil kunci motor dari kantong jaket. Tetiba samar-samar terdengar suara 'PLEK!'. Karena suaranya kecil dan gak bisa diulang, akhirnya saya dibiarkan lalu begitu saja.
Tapi tetiba perasaan kayak nggak enak gitu. Ada misteri dibalik 'PLEK!' yang harus diselidiki. Langsung coba tengok belakang, liat bawah, tapi nggak ada apa-apa.
Cuma ada bapak-bapak tukang gas 3 kg yang tadinya duduk, terus tetiba jalan ke arah motor saya lantas naro sesuatu di salah satu selipan gas 3 kg.
Langsung cek kantong jaket, baru deh sadar, KARTU PARKIRANNYA NGGAK ADA!!
Langsung inget-inget, perasaan kartu parkir belom dimasukin ke tas, perasaan tadi masih di kantong,
Dengan kekuatan bayang-bayang ribetnya ngurus kartu parkir baru dan repotnya nyari parkiran besok pagi, akhirnya saya coba untuk menyusuri lagi jalanan yang baru dilewati dari ruang ATM sampe tempat motor saya diparkir.
Nihil.
Nggak ada apa-apa.
Langsung inget bapak-bapak yang tadi naro sesuatu di balik selipan gas.
Setelah ngintip-ngintip memastikan bahwa biru-biru yang ada di selipan gas itu kartu parkir, saya coba tanya bapaknya,
Pak, itu kartu parkir saya ya? *sambil nunjuk sesuatu yang ada di selipan gas*Bapaknya kaget.
Saya kaget.
Semesta juga kaget.
Eh, iya kayaknya.Iya, kayaknya?
JAWABAN MACAM APA COBA.
Bapaknya langsung ngambil barang yang tadi beliau selipin, terus ngasih ke saya. Yang saya butuh itu kartu parkirnya, tapi ternyata ada uang saya juga yang jatuh sebesar Rp20.000. Subhanallah kalo emang itu hak kita, pasti bakal balik lagi walau sepeser pun. Tapi kalo emang bukan hak kita, pasti bakal Allah ambil lagi. Allah itu Maha Adil.
Oke, balik lagi ke bapak-bapak itu.
Sedih aja sih. Bapak itu ngeliat sesuatu jatoh dari kantong saya, tau saya masih ada dan hanya berjarak beberapa langkah dari beliau, beliau liat saya mondar mandir nyari sesuatu, tapi yang dilakukan bukan ngembaliin, malah ngumpetin. Mungkin beliau tertarik dengan selembar kertas hijau dan kartu yang dikira kartu ATM, padahal bukan. Andai beliau jujur dan langsung ngembaliin ke saya, mungkin saya kasih selembar kertasnya. Karena saya butuh kartunya. Sayangnya, menurut beliau selembar kertas dan kartu lebih penting daripada kejujuran.
Tadinya pengen marah. Kesel. Tapi kondisinya saat itu baru pulang sekolah, capek, udah sore, hari Kamis, dan menjelang Maghrib. Yaudah lah, mending pulang. Mungkin jaman sekarang kejujuran itu jadi barang yang mahal.
Sampe rumah langsung cerita ke ibu bapak. Bapak itu terlalu reaktif kalo anaknya kenapa-napa. Lebih-lebih dari pacar. Makanya beruntunglah kalian yang deket sama bapaknya, karena bapak selalu siap pasang badan kalo terjadi apa-apa sama anak gadisnya. Kalo ibu lebih tenang. Ya tipikal bapak ibu pada umumnya sih.
Untung bapak nggak ada di sana. Kalo di sana, abis itu bapak marahin. - Bapak
Itu bapaknya mau uang 20.000. Padahal kalo dibalikin, adek kasih aja uangnya. - Ibu
Kepada siapa pun yang baca postingan ini, terutama bapak tukang gas di SPBU deket rumah yang kemungkinan bakal baca postingan ini cuma 0.1%, saya cuma pengen bilang jangan bosen untuk berbuat baik. Rejeki kita itu udah disiapin. Yakin deh. Jemput dengan cara yang baik. #haseeek
Bapak tukang gas, saya udah maafin bapak.
Jangan diulangin ya.













