Dear Jenderal..


Setelah mengendap selama dua minggu dan hampir membusuk, akhirnya dengan susah payah saya mengumpulkan segenap daya upaya untuk menyelesaikan tulisan ini. Huft.
Tulisan tentang hasil perjalanan saya ke suatu tempat wisata pendidikan di kawasan Taman Ismail Marzuki yang bernama Planetarium.
Tempat dimana kita bisa melihat bintang, walaupun langit di luar masih terang.
Hehehe.

Planetarium Jakarta

Ini bukan kali pertama saya mengunjungi tempat ini.
Selain saat karya wisata SD, saya juga pernah mengunjungi tempat ini bersama teman-teman saya sewaktu duduk di kelas 2 SMA.
Dan saya rasa ada beberapa yang berubah dari tempat ini.



Saya mengunjungi Planetarium pada Sabtu pagi, 29 Juni 2013, tepat pada saat weekend dan juga liburan anak-anak sekolah.
Maka tak heran jika antrean sudah mengular sejak pagi.

Dengan harga tiket pertunjukan yang jauh lebih murah dibandingkan harga tiket bioskop, Rp3.500 untuk anak-anak dan Rp7.000 untuk dewasa, saya rasa tidak ada alasan untuk tidak mengunjungi tempat ini.

Berikut adalah jadwal pertunjukan Planetarium: (sumber Wikipedia)
  • Selasa - Kamis : 09.30 - 10.30, 11.00 - 12.00, 13.30 - 14.30, dan 16.30 - 17.30
  • Jum'at : 9.30 - 10.30, 13.30 - 14.30 dan 16.30 - 17.30
  • Sabtu - Minggu : 10.00 - 11.00, 11.30 - 12.30, 13.00 - 14.00, dan 14.30 - 15.30;
  • Libur Nasional : Tutup;
  • Senin : TUTUP untuk pemeliharaan;
Antrean loket Planetarium

Panorama Antrean Planetarium

Saya sempat kehabisan tiket untuk pertunjukan jam 13.30.
Tapi karena kebijakan penyelenggara, akhirnya saya pun bisa membeli tiket penonton lesehan.
Dengan harga yang sama, tetapi duduknya lesehan dan masuknya terakhir setelah penonton legal.
Tadinya saya pikir tidak apa karena saya akan mendapat pengalaman baru.
Namun ternyata begitu saya masuk, masih ada beberapa bangku kosong jadi saya tidak perlu lesehan apalagi sampai tidur-tiduran di jalanan.
Beruntung.

Ada yang tau ini apa?
Bukan. Bukan bakso.

Penonton legal dan penonton lesehan

Di tempat ini, pengunjung disuguhkan sebuah pertunjukan tentang luar angkasa.
Dimulai dari perbintangan, rasi bintang, tata surya, hingga galaksi.
Konsepnya seperti gedung bioskop, namun layarnya adalah atap yang berbentuk setengah bola. *ngerti ga? Ga? yaudah.. -_-*
Durasi pertunjukan yang kurang lebih 60 menit berhasil membuat leher saya sakit karena harus melihat ke atas.
Belum lagi pendingin ruangan yang tidak berasa membuat ruangan menjadi pengap karena sekitar 300 orang ada di ruangan tersebut.

Tidak hanya di ruang pertunjukan, pendingin ruangan pun tidak terasa saat di luar ruang pertunjukan (loket antrean dan ruang tunggu).
Dengan jumlah pengunjung yang sangat banyak waktu itu, tentu ini membuat tingkat kenyamanan menjadi berkurang.
Planetarium Exhibition Hall sedang dalam tahap renovasi

Selain pertunjukan, di sini juga disajikan ruang pameran foto benda-benda ruang angkasa.
Namun sayang, sekarang sedang dalam tahap renovasi.
Ada pula pajangan baju ruang angkasa untuk para astronot untuk mengarungi bahtera rumah tangga ruang angkasa.
Konon katanya beratnya mencapai ratusan kilo loh!

Baju Astronot.
Tangannya panjang bener -_-

Di tempat ini, aroma vetsin semerbak di seluruh penjuru tempat.
Aroma yang tak lain berasal dari sebuah mie instan dalam bentuk cup yang biasa disebut 'Piiip" Mie itu menggoda perut-perut yang kelaparan.
Dan sebagai wanita yang lemah, saya pun tergoda..

Piiip Mie.


Planetarium

Tukang jualan di depan Planetarium

Selain Planetarium, di Taman Ismail Marzuki pun ada bioskop dan tempat pameran.
Biasanya ada pameran lukisan, foto, dan lain-lain.
Jadi buat yang bosan di rumah, butuh tempat hiburan baru selain pusat perbelanjaan, tak ada salahnya mengunjungi tempat ini.

XXI Taman Ismail Marzuki

Sekian laporan tidak niat dari saya.
Salam kece,