Dear Jenderal..

Minggu pertama Pratik Keterampilan Mengajar (PKM) begitu luar biasa.
Saya merasa sangat dimudahkan oleh semua pihak pada PKM ini.
Dimulai dari birokrasi yang tidak rumit, guru pamong yang sangat baik, lingkungan yang nyaman, dan juga guru-guru yang sangat ramah.

Emm.. awannya bagus ya.

Mestinya minggu ini tugas saya dan kelompok hanya observasi.
Ada dua hal yang harus diobservasi, yaitu tentang lingkungan sekolah dan cara guru mengajar.
Tadinya saya pikir hal tersebut dapat memakan waktu yang cukup lama, tapi ternyata tidak.
Hanya dengan dua hari, observasi selesai.
Lantas?

Saya sangat tidak menyangka kalau minggu ini kita sudah mulai mengajar.
WAW.
Di saat kelompok lain yang ada di sekolah lain masih sibuk luntang lantung menantikan jadwal pelajaran dan observasi sana sini, kelompok saya sudah dipercaya untuk mengajar.
Ini luar biasa.

Seperangkat atribut penilaian dosen dan guru pamong dibayar tunai

Saya dan keempat teman saya berada di bawah naungan guru pamong yang sama.
Dengan total 20 jam pelajaran di 4 kelas, maka masing-masing orang mendapatkan jatah 4 jam pelajaran.
Setelah melalui diskusi yang panjang dan pelik *ini lebay*, akhirnya kita pun bisa membagi 4 kelas untuk 5 orang.
Saya pun mendapat bagian mengajar kelas 8F pada hari Senin dan Jumat.

Sesungguhnya mengajar di kelas asli sangat jauh berbeda dengan kelas microteaching.
Dimana kita harus menghadapi situasi yang sebenarnya, dengan peserta didik yang sebenarnya.
Pertama kali masuk kelas 8 F jujur saya kaget.
Anak-anak di kelas tersebut sangat berbeda dengan kelas yang diobservasi sebelumnya.
Kalau kelas yang diobservasi sebelumnya cenderung pasif, di kelas ini justru ekstra 'aktif''.
Dan ternyata menurut penuturan guru-guru disana, 8F dan 8H memang gudangnya anak-anak yang berisik sewaktu kelas 7.
Ya salam... betapa beruntungnya saya...

Karena baru awal pertemuan, saya masih menggunakan cara konvensional, yaitu dengan menjelaskan di papan tulis.
Tidak mudah sebenarnya, karena selama beberapa semester ini saya selalu menggunakan media untuk presentasi.
Pertemuan pertama saya akui berjalan kurang baik. Saya terlalu takjub dengan keadaan dan juga kurang persiapan.

Amunisi perang:
Buku absen buatan sendiri, bola-bola cinta soal,
buku paket Matematika, spidol 3 warna,  kertas bekas

Pertemuan kedua, saya merasa lebih siap dari sebelumnya.
Walaupun bahan ajar baru dipersiapkan 30 menit sebelum masuk, tapi alhamdulillah semua berjalan sesuai rencana.
Saya tidak bisa menyalahkan mereka karena mereka ribut dan berisik.
Justru di situlah tantangannya.
Bagaimana membuat pembelajaran yang dapat menarik minat siswa, dan menyalurkan energi mereka ke hal-hal yang lebih baik.
Berlaku tegas atau keras tidak bisa membuat mereka takluk.
Yang ada malah mereka semakin membenci pelajaran tersebut karena gurunya galak.
*uhuk!*

Bersama keempat teman saya yang luar biasa yang sering mangkal di Ramayana, saya akan menghabiskan waktu kurang lebih 4 bulan di sekolah itu.
Di sebuah Sekolah Menengah Pertama tempat saya menimba ilmu dahulu kala, SMPN 49 Jakarta.
Ternyata guru-guru di sana masih ada yang ingat saya.
Hiks. Jadi terharu ya..
Tak disangka sekarang kita satu ruangan ya ibu bapak guru. :)

Sok Diskusi di ruang guru

Beruntung saya sekelompok dengan teman-teman yang selalu bisa menghadirkan gelak tawa.
Jadi tidak berasa semester tuanya hahaha.
Beruntung juga saya mendapatkan guru pamong yang super baik.
Beliau baik hati dan sangat mengerti kami.
Beruntung juga saya mendapatkan kesempatan mengajar di sekolah saya dulu.
Selain dekat dengan rumah, sekolah ini juga banyak kenangannya.
Termasuk banjir yang sering mampir ke gedung B SMP ini.

Disambut banjir

Banyak hal berubah karena PKM ini.
Mulai dari cara berpakaian yang jauh dari segala macam jeans, kaos dan sepatu kets; cara bicara yang lebih dibuat sopan; cara jalan yang tidak serabutan; sampai cara boncengan di motor.
Jumat, 26 Juli 2013, seorang Okky Tri Rahayuningsih Larasati untuk pertama kalinya dalam hidup duduk nyamping ala Princess sewaktu dibonceng motor.
Nampaknya saya harus berterimakasih kepada saudari Nova Juwita Sari.

Jadi orang cantik menyenangkan, tapi sulit dijalanin kalau bukan karena lagi PKM.
Salam kece,