Baca part.1 dulu ya biar nyambung.

Akhirnya berkat saran dari Nyoi Suryo, pakar telematematika, Cindy berhasil memerdekakan dirinya. Kok bisa? Bisa lah. Jadi gini ceritanya, waktu hari pemusnahan barang bukti ke94H03Lzannya telah tiba, Cindy nelepon Nyoi Suryo buat minta saran apa yang seharusnya ia lakukan.
Cindy Yang Teraniaya (CYT) : Bang Nyoi, saya harus gimana ini? Nasib saya udah di ujung tanduk jerapah!
Nyoi Suryo Sang Penolong (NSSP) : Emang jerapah punya tanduk ya?
CYT : Penting banget gak sih Bang nanya kaya gituan? Saya ini lagi panic at the disco! Tolong bantu saya. Ibu peri saya udah tua. Jadi udah gak bisa diandalkan lagi. Kasian dia. Udah waktunya pensiun.
NSSP : Oke. Saya akan mencoba membantu.

Setelah melalui percakapan yang cukup panjang, akhirnya obrolan itu pun ditutup dengan senyuman Cindy. Kali ini gak sia-sia nelepon pakar telematematika itu, batin Cindy.

Mami Varti, Anaz, dan Dizi pun masuk. Saatnya eksekusi 3B milik Cindy. Baru mau mengambil Blackbaby-nya, eh si Cindy langsung maju dengan tangan nunjuk ke atas berasa mau orasi sambil teriak,”BAHWA SESUNGGUHNYA KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA, DAN OLEH SEBAB ITU MAKA PENJAJAHAN DI ATAS DUNIA HARUS DIHAPUSKAN KARENA TIDAK SESUAI DENGAN PERIKEMANUSIAAN DAN PERIKEADILAN.

Bagaikan terkena sihir Albus Dumbledore, ibu tiri dan kedua anaknya itu pun langsung terdiam dengan mulut ternganga lebar. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan, si Anaz pun sampai menangis tersedu-sedu melihat keberanian Cindy. Akhirnya mereka pun tersadar dan kemudian berubah jadi baik.


Anaz : Cindy, sebenernya aku tuh gak suka jadi pemeran jahat. Cape tau. Aku pengen ngeliat dunia ini damai. Aku gak suka penindasan :)
Dizi : Sama ka. Aku juga. Kita harus berterima kasih sama pembuat skenario kali ini karena kita akhirnya berubah jadi baik juga. Yah walaupun harus aku akuin kalo skenarionya gak bagus-bagus amat.
Mami Varti : Iya. Makasih ya pembuat skenario. Saya emang udah lama pengen jadi orang baik. Bosen marah-marah mulu. Liat nih keriputnya jadi banyak banget kan?

Oke akhirnya mereka semua hidup bahagia.

Bagaimana dengan ayahnya??

Ayahnya baik-baik aja kok. Walaupun sempet ada gosip katanya ayahnya mati gara-gara ketendang sapi, tapi ternyata itu gak bener. Wong ayahnya cuman keracunan susu sapi hasil eksperimennya doang kok. Jadi waktu itu dia salah masukin gula gitu. Dikirainnya gula eh yang dimasukin malah kapur barus.

Terus bagaimana dengan ibu peri?

Tadi kan udah dibilang, ibu peri udah tua. Udah gak produktif lagi. Kebanyakan syuting sinetron Bidadari ama Pinokio sih (??) Lagian juga jaman sekarang mana ada sih anak-anak yang percaya ama peri-perian? Jadi ya emang udah seharusnya ibu peri pensiun.

Kalo Sepatu Kaca? Pangerannya juga mana?

Berhubung kaca itu rapuh, gampang pecah, jadi penulis menggantinya dengan yang lebih aman untuk digunakan. Yaitu sepatu karet.
Dan karena negara kita dipimpin oleh seorang presiden, bukan oleh seorang raja, maka gak ada pangeran-pangeranan. Kita ganti jadi anak presiden aja. Eh jangan deh. Anak pengusaha tempe aja.
Ini cerita selengkapnya :

Setelah saudara-saudaranya kembali ke jalan yang benar, Cindy merasa sangat senang. Ia bisa bermain bersama tanpa takut kotor karena ada R*NSO (loh?)
Suatu ketika, Cindy ingin menyusul Anaz dan Dizi pergi ke mesjid untuk solat berjamaah. Di tengah jalan, ia bertemu dengan sesosok pria tampan nan rupawan bernama Umay. Ia anak seorang pengusaha tempe yang sukses di kampungnya.

Setelah berkenalan, Umay pun jatuh hati kepada Cindy. Begitu pula dengan Cindy. Namun sayang, takdir tidak memperkenankan mereka bertemu dalam waktu yang lama. ADZAN.

Cindy : Maaf ya Umay. Aku harus solat. Aku buru-buru. (lari meninggalkan Umay)
Umay : Yaaaaah.. Kan belom minta nomor hape :’(

Umay pun mengambil inisiatif buat ngikutin Cindy ke mesjid. Dan biar ceritanya kaya di dongeng-dongeng jaman dulu, makanya Umay ngambil 1 sepatu Cindy. Tadinya sih pengen 2-2nya, lumayan kan bisa dijual lagi, tapi gak jadi karena sepatunya Cindy yang satu lagi ada ee ayamnya.

Langsung deh Umay bikin pengumuman.


Cindy yang ngerasa keilangan sepatu pun langsung menghubungi nomor Umay. Dan sejak saat itu mereka pun jadi temen deket.

-- S E L E S A I --